Ketika Dunia Maya Jadi Mesin Radikalisme: Dari Kritik Publik ke Narasi Kebencian

Analisa

by Munir Kartono Editor by Redaksi

Dari Ruang Kritik ke Pabrik Radikalisme

Di era digital, media sosial telah menjelma menjadi ruang publik baru. Di sanalah masyarakat menyalurkan kritik, keresahan, bahkan kemarahan terhadap pemerintah. Apa pun kebijakannya—kenaikan harga bahan pokok, revisi undang-undang, skandal korupsi, atau pelayanan publik yang buruk—segera menuai respons di dunia maya. Kritik yang dulunya disampaikan lewat demonstrasi di jalan atau tulisan panjang di surat kabar, kini bisa muncul lewat sebuah unggahan Twitter, sebuah video TikTok, atau utas panjang di Facebook.

Fenomena ini menunjukkan wajah baru demokrasi, dimana rakyat memiliki akses luas untuk menyampaikan pendapat tanpa harus melalui media arus utama. Namun, kebebasan itu tidak selalu membawa kabar baik. Dunia maya ternyata bukan hanya ruang ekspresi, melainkan juga arena manipulasi. Kritik yang sehat bercampur dengan hoaks, disinformasi, dan narasi kebencian. Lebih jauh lagi, keresahan publik sering dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk memperkuat agenda politik atau ideologis mereka. Pada titik inilah dunia maya berubah, dari ruang demokrasi menjadi mesin fabrikasi radikalisme.

Pertanyaan mendasarnya, bagaimana kritik publik bisa berubah menjadi amunisi radikalisme?

Kritik Publik di Era Digital: Antara Autentisitas dan Distorsi

Kritik publik merupakan elemen vital demokrasi. Tanpa kritik, pemerintah akan berjalan tanpa koreksi. Namun, di era digital, kritik tidak lagi sederhana. Jumlahnya melimpah, ragamnya beragam, dan sumbernya sulit diverifikasi.

Dalam teori komunikasi politik, hal ini berkaitan erat dengan konsep agenda setting (McCombs & Shaw, 1972). Isu-isu yang sering diberitakan atau dibicarakan akan dianggap penting oleh publik. Lalu media sosial bekerja dengan memperluas konsep ini. Dan bukan hanya media arus utama yang menentukan agenda, tetapi siapa pun yang mampu, baik itu influencer, konten kreator, atau figur publik, bisa membuat konten viral.

Masalahnya, viralitas tidak selalu mencerminkan relevansi atau kebenaran. Cass Sunstein (2009) menegaskan bahwa di dunia maya, “yang menentukan bukan kebenaran, tetapi seberapa sering sesuatu dibicarakan.” Akibatnya, persoalan kecil bisa tampak besar, sementara masalah besar bisa tenggelam. Contoh sederhana, satu video antrean panjang di SPBU bisa viral dan menimbulkan kesan krisis nasional, padahal fenomena itu hanya terjadi di satu daerah. Kritik yang lahir dari pengalaman nyata bercampur dengan persepsi kolektif yang dibentuk oleh narasi viral.

Di titik ini, masyarakat mulai kesulitan membedakan mana keresahan yang autentik dan mana yang sudah terdistorsi.

Buzzer: Mesin Penggandaan Narasi

Salah satu aktor utama dalam ekosistem digital adalah buzzer. Mereka adalah akun, individu, atau jaringan yang bertugas memperkuat, menyebarkan, bahkan memproduksi narasi tertentu demi kepentingan politik.

Buzzer bekerja dengan tiga pola utama:

  1. Amplifikasi : memperbesar isu tertentu hingga viral.

  2. Distorsi : memelintir isu asli, menambahkan emosi, lalu menggandakannya.

  3. Delegitimasi : menyerang lawan politik dengan kampanye negatif atau hoaks.

Fenomena buzzer sering disebut sebagai astroturfing, yaitu gerakan yang seolah berasal dari masyarakat, padahal direkayasa oleh pihak tertentu. Ketika publik mengeluh soal harga beras, misalnya, buzzer bisa memperkuat narasi bahwa pemerintah tidak peduli rakyat. Keresahan yang wajar akhirnya dibelokkan menjadi delegitimasi politik.

Dalam konteks radikalisasi, buzzer tanpa sadar bisa membuka pintu. Narasi “pemerintah zalim” atau “pemerintah gagal” yang terus diperkuat menciptakan ruang kosong. Ruang inilah yang kemudian diisi oleh ideologi radikal dengan tawaran solusi ekstrem.

Clipper: Sang Penjaga Agenda

Selain buzzer, ada pula aktor lain, clipper. Jika buzzer berfungsi memperbesar, clipper berfungsi memilih dan menyaring isu. Mereka menentukan topik mana yang diangkat dan mana yang diabaikan.

Dalam teori framing (Entman, 1993), clipper bekerja dengan “memotong realitas” dan menonjolkan aspek tertentu. Misalnya, dari satu kebijakan pemerintah, mereka hanya menyoroti kegagalannya, bukan manfaatnya. Dari sebuah aksi demonstrasi, yang ditonjolkan hanya kericuhan, bukan tuntutannya.

Akibatnya, ruang publik digital dipenuhi isu-isu yang sudah diseleksi dengan agenda tertentu. Publik merasa sedang membicarakan keresahan mereka, padahal yang mereka bicarakan adalah isu yang dipilihkan oleh clipper.

Fenomena ini semakin berbahaya ketika narasi yang dipilih clipper selaras dengan agenda radikal. Kritik publik yang semula netral bisa diarahkan menjadi bahan bakar ideologi ekstrem.

Pertemuan dengan Ideologi Radikal

Kritik publik yang melimpah dan terdistorsi menjadi lahan subur bagi ideologi radikal. Rasa kecewa mencari pembenaran, frustrasi mencari jawaban. Ideologi radikal menawarkan solusi sederhana, pemerintah zalim, sistem gagal, hanya ideologi alternatif yang bisa menyelamatkan. BNPT (2022) mencatat, proses radikalisasi kini banyak terjadi di dunia maya, terutama melalui media sosial dan aplikasi pesan instan. Narasi radikal memanfaatkan keresahan publik sebagai pintu masuk. Isu ekonomi, korupsi, atau ketidakadilan hukum dibungkus dengan bahasa ideologis: “Ini bukti sistem kafir gagal, mari kita ganti dengan sistem Islam”, misalnya.

Prosesnya bertahap: dari sekadar mengeluh → percaya teori konspirasi → menerima ide radikal → mendukung aksi ekstrem. Dunia maya memfasilitasi proses ini dengan sangat cepat dan masif.

Eli Pariser (2011) dalam The Filter Bubble mengingatkan, algoritma media sosial justru memperkuat kecenderungan ini. Orang yang sering mengeluh soal pemerintah akan lebih sering terpapar konten yang serupa, termasuk konten radikal. Lama-kelamaan, pengguna bisa terjebak dalam lingkaran gema (echo chamber) yang memperkuat kepercayaannya.

Algoritma sebagai Akselerator

Tanpa algoritma, buzzer dan clipper tidak akan sekuat sekarang. Algoritma platform digital dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan (engagement) penggunanya. Konten yang memicu emosi—marah, benci, takut—lebih mudah viral daripada konten yang tenang dan informatif. Penelitian Kramer, Guillory & Hancock (2014) menunjukkan bahwa emosi di media sosial bisa menular secara digital. Jika pengguna melihat banyak konten marah, mereka cenderung ikut marah. Hal ini menjelaskan mengapa narasi radikal bisa menyebar begitu cepat, ia penuh emosi, sesuai dengan logika algoritma.

Dunia maya, dengan algoritmanya, bukan lagi cermin realitas, melainkan mesin yang memperbesar emosi negatif. Dalam konteks politik, ini berarti mempercepat proses delegitimasi. Dalam konteks radikalisme, ini berarti mempercepat proses rekrutmen.

Konsekuensi Politik dan Keamanan

Perpaduan kritik publik, buzzer, clipper, ideologi radikal, dan algoritma melahirkan konsekuensi serius, misalnya:

  1. Kritik yang difabrikasi membuat pemerintah seolah selalu salah. Dan pada akhirnya, legitimasi pemerintah pun melemah dan terjadilah erosi kepercayaan publik,

  2. Publik terbelah antara yang percaya narasi radikal dan yang menolaknya. Akbatnya dialog sulit terjadi, dan polarisasi sosial di masyarakat terjadi dan meruncing.

  3. Terjadinya mobilisasi ekstrem, seperti yang terlihat dalam beberapa kasus terorisme dan kerusuhan sosial, dimana pergerakan massa terjadi dari narasi digital ke aksi nyata.

Fenomena ini sejalan dengan konsep strategy of tension, menciptakan ketegangan terus-menerus untuk melemahkan kepercayaan pada negara dan membuka jalan bagi perubahan radikal.

Menjaga Kritik Sehat, Menghambat Fabrikasi Radikal

Meski dunia maya rawan menjadi mesin fabrikasi radikalisme, ia juga tetap penting sebagai ruang demokrasi. Tantangannya adalah menjaga agar kritik sehat tidak dibajak oleh narasi radikal.

Ada beberapa langkah yang perlu diperkuat, antara lain:

  1. Melakukan literasi digital yang masif, dimana targetnya adalah masyarakat harus mampu membedakan kritik autentik dari narasi fabrikasi. Program literasi digital perlu diperluas, bukan hanya soal hoaks, tetapi juga framing dan manipulasi.

  2. Pemerintah harus aktif menjelaskan kebijakan dengan bahasa yang mudah dipahami dan transparan. Karena komunikasi publik yang buruk hanya akan memperbesar ruang fabrikasi.

  3. Para perusahaan platform digital harus turut bertanggungjawab dengan melakukan pengawasan terhadap algoritmanya. Karena konten ekstrem harus ditangani, tetapi tanpa mematikan kebebasan berekspresi.

  4. Akademisi dan media juga harus turut berperan dengan menulis analisis akademis dalam bahasa populer agar publik bisa memahami kerumitan fenomena ini. Media juga harus menjalankan fungsi klarifikasi.

Dengan langkah-langkah ini, dunia maya bisa tetap menjadi ruang kritik sehat, bukan mesin radikalisasi.

Demokrasi Digital dalam Taruhan

Dunia maya adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka ruang partisipasi rakyat yang belum pernah ada sebelumnya. Di sisi lain, ia bisa berubah menjadi pabrik narasi ekstrem yang mengancam demokrasi. Kritik yang sehat adalah hak setiap warga negara. Namun, ketika kritik itu difabrikasi oleh buzzer, diarahkan oleh clipper, diperkuat oleh algoritma, dan bertemu dengan ideologi radikal, ia bisa menjadi bahan bakar yang berbahaya.

Maka tugas kita adalah menjaga batas tipis itu, agar masyarakat dapat membedakan kritik tulus dari fabrikasi, memisahkan keresahan wajar dari radikalisasi, dan memastikan demokrasi digital tetap hidup. Dunia maya seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat bangsa, bukan untuk meruntuhkannya.[MK]



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar