Merawat Bumi, Merawat Hati: Untuk Masa Depan Anak-anak yang Damai

Analisa

by Arif Budi Setyawan Editor by Arif Budi Setyawan

Ada kalanya momen paling sederhana justru mengetuk hati yang paling dalam. Sore itu, dari teras rumah saya melihat anak-anak tetangga berlarian di halaman; tawa mereka pecah seperti kicau burung selepas hujan, jatuh lalu bangkit lagi tanpa mengeluh. Di mata mereka menyala cahaya masa depan—sebuah dunia yang ingin mereka rengkuh dengan polos dan tulus. Namun di balik senyum itu, sebuah pertanyaan diam-diam menghantui saya: apakah kita sungguh sedang menyiapkan dunia terbaik untuk mereka, atau justru tengah mewariskan luka yang tak mereka pinta?

Belajar Merawat dari Balik Jeruji

Pertanyaan itu membawa ingatan saya kembali pada masa ketika hidup di balik jeruji besi. Penjara—yang bagi banyak orang identik dengan kegelapan—justru menjadi “kampus” bagi saya. Di sanalah saya belajar tentang kehidupan, tentang kesabaran, dan tentang bagaimana merawat hati.

Salah satu pelajaran terbaik adalah pelajaran dari makhluk-makhluk Allah yang sederhana: tanaman-tanaman hias di Blok C tempat saya menghabiskan masa pidana. Dari tanaman-tanaman itu saya belajar, kasih sayang bisa tumbuh dari hal-hal kecil yang kadang tidak diperhatikan orang.

Awalnya, saya hanya iba melihat tanaman sirih gantung yang tampak layu. Letaknya terlalu tinggi, sulit dijangkau untuk disiram. Dari rasa iba itu lahir inisiatif kecil: saya membuat galah dengan pengait untuk menurunkannya, lalu mulai merawatnya.

Perlahan, merawat dari satu tanaman berkembang menjadi merawat semua tanaman di pot yang ada di blok. Setiap pagi saya menyiram, membersihkan pot dari sampah, bahkan membuat pupuk cair sendiri dari sisa makanan. Melihat daun baru tumbuh atau bunga mekar, hati saya ikut berbunga.

Sebagian orang mungkin menganggap itu pekerjaan sepele. Tapi bagi saya, menyentuh tanah dan melihat tanaman tumbuh adalah hiburan sekaligus terapi. Saya memang kehilangan momen melihat pertumbuhan anak-anak saya, tapi saya cukup terhibur dengan menyaksikan pertumbuhan tanaman yang saya rawat.

Lebih dari itu, dari pupuk organik sederhana yang saya buat, hubungan saya dengan para petugas lapas jadi lebih cair. Ada komunikasi, ada senyum, ada penghargaan kecil yang dulu terasa mustahil hadir di antara kami. Sebagian dari mereka menjadi “pelanggan” dari pupuk cair buatan saya.

Dari merawat tanaman, saya belajar merawat hati, memperbaiki hubungan, dan menemukan kebahagiaan sederhana.

Dua Bentuk Kerusakan: Radikalisme dan Lingkungan

Kini, setelah bertahun-tahun bebas dan hidup di tengah masyarakat, saya melihat betapa pengalaman sederhana itu punya kaitan erat dengan tantangan besar hari ini. Ada dua bentuk kerusakan yang sama-sama merampas masa depan anak-anak: radikalisme dan kerusakan lingkungan.

Saya tahu bagaimana radikalisme bisa menutup jalan hidup seseorang. Saya pernah hidup di lingkaran itu—tempat kebencian ditanam, perbedaan dianggap ancaman, dan kekerasan dilihat sebagai jalan mulia. Radikalisme tidak hanya melukai orang lain, tapi juga merusak hati, keluarga, bahkan harapan anak-anak.

Kerusakan lingkungan pun tak kalah berbahaya. Banjir yang merendam rumah, asap kebakaran hutan dan polusi yang menyesakkan napas, tanah longsor, sungai yang penuh plastik—semuanya merenggut masa depan dengan cara yang sunyi tapi nyata.

Anak-anak di Persimpangan

Bayangkan, bagaimana anak-anak kita hidup di masa depan jika dua kerusakan itu dibiarkan? Di satu sisi, ada ancaman ideologi kebencian yang membuat mereka tumbuh tanpa rasa aman. Di sisi lain, ada bumi yang rapuh oleh bencana dan polusi.

Anak-anak tidak pernah meminta mewarisi kebencian atau bumi yang rusak. Mereka hanya ingin tumbuh dengan damai, bermain dengan bebas, dan belajar tanpa takut.

Saya percaya, perubahan bisa lahir dari hal-hal kecil. Dari tanaman di penjara, saya belajar arti merawat. Dari anak-anak yang berlari sore itu, saya belajar arti harapan. Dari komunitas yang menanam pohon atau mengelola bank sampah, saya belajar arti gotong royong.

Ketika seseorang belajar merawat bumi, sejatinya ia juga sedang belajar merawat hati. Ia belajar tentang kesabaran, empati, dan kepedulian—nilai-nilai yang sama dengan fondasi pencegahan radikalisme.

Gerakan Bersama

Karena itu, ke depan mungkin saatnya diri ini perlu terlibat dalam kampanye “Merawat Bumi, Merawat Hati”. Dan harapannya itu bukan sekadar slogan. Ia menjadi “jalan hidup”. Bayangkan bila setiap orang mengambil bagian: menanam pohon, membersihkan sungai, mengajarkan anak-anak membuang sampah pada tempatnya sambil bercerita tentang damai.

Perdamaian bisa ditanam, sama seperti pohon. Ia butuh tanah yang baik, butuh dirawat, dan butuh waktu untuk tumbuh. Begitu pula bumi: ia hanya akan bertahan kalau kita menjaganya dengan cinta, bukan kerakusan.

Warisan Damai untuk Anak-anak

Setiap generasi punya tanggung jawab untuk meninggalkan warisan. Pertanyaannya, warisan apa yang ingin kita titipkan kepada anak-anak kita? Apakah kebencian yang membuat mereka hidup dalam ketakutan? Atau bumi yang rusak yang membuat mereka hidup dalam bencana?

Saya yakin, kita ingin meninggalkan warisan damai. Kita ingin memberikan bumi yang lebih hijau. Kita ingin melihat anak-anak tumbuh bukan hanya sehat secara fisik, tapi juga sehat secara hati.

Kalau radikalisme merampas masa depan anak-anak lewat kebencian, dan kerusakan lingkungan merampas masa depan mereka lewat bencana, maka merawat hati dan bumi adalah cara kita memberi mereka dunia yang lebih baik.

Hari ini, pilihan itu ada di tangan kita.

Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar