Radikalisasi Anak di Era Game Online: Apa yang Gagal Kita Baca?

Analisa

by Arif Budi Setyawan Editor by Redaksi

Siang itu ketika sedang beristirahat sejenak setelah pekerjaan editing rutin, sebuah pesan WhatsApp masuk dari seorang kawan pengamat terorisme. Ia mengirimkan sebuah link berita dari Channel News Asia (CNA) tentang seorang remaja Singapura usia 14 tahun yang menciptakan game kekerasan meniru aksi teror kelompok ISIS di platform game online Roblox dan Gorebox. Laporan CNA ini sukses menghalangi saya dari tidur siang di hari itu.

Ada satu hal yang paling mengganggu dari kasus anak 14 tahun di Singapura yang menirukan serangan dan eksekusi ISIS lewat Roblox dan Gorebox itu. Bukan semata karena usianya yang masih sangat muda, tetapi karena ceritanya terasa terlalu akrab. Ini bukan kisah tentang perekrutan teroris yang canggih, bukan pula tentang jaringan bawah tanah. Ini adalah kisah tentang seorang anak yang sendirian di depan layar, perlahan membangun dunia ideologisnya sendiri—sementara orang-orang dewasa di sekitarnya melihat, tetapi tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.

Saya membaca kasus ini bukan sebagai penonton netral. Saya membacanya sebagai seseorang yang pernah berada di sisi lain dari cerita radikalisasi—yang tahu bahwa ekstremisme jarang datang dengan wajah menakutkan di awal. Ia sering hadir sebagai jawaban sederhana atas kegelisahan, sebagai narasi heroik yang terasa bermakna, terutama bagi mereka yang sedang mencari jati diri.

Kasus ini penting bukan karena ia terjadi di Singapura, atau karena melibatkan platform game populer. Ia penting karena menunjukkan bagaimana radikalisme hari ini bekerja dengan cara yang jauh lebih sunyi, personal, dan psikologis—terutama pada anak-anak.

Radikalisasi Anak Tidak Dimulai dari Kebencian

Ada asumsi keliru yang masih sering kita pegang: bahwa radikalisme selalu berangkat dari kebencian. Pada anak dan remaja, asumsi ini hampir selalu salah. Yang lebih sering terjadi adalah kebalikannya—radikalisasi berangkat dari empati yang salah arah, dari rasa ingin membela, dari pencarian makna di dunia yang terasa tidak adil.

Anak 14 tahun ini pertama kali terpapar video ISIS saat berusia sekitar 12 tahun. Usia itu adalah masa ketika seseorang mulai bertanya tentang kebenaran, keadilan, dan posisi dirinya di dunia. Ketika narasi kekerasan dibungkus sebagai “perlawanan terhadap penindasan”, ia bisa terasa masuk akal—bahkan mulia—di mata anak yang belum memiliki perangkat berpikir kritis yang matang.

Di titik ini, ideologi ekstrem bekerja bukan sebagai doktrin politik, tetapi sebagai cerita. Cerita tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Tentang siapa yang layak dilindungi dan siapa yang boleh disingkirkan. Cerita semacam ini sangat menggoda, terutama bagi remaja yang sedang belajar memahami dunia melalui emosi, bukan analisis.

Saya belajar dari pengalaman bahwa radikalisasi bukan proses instan. Ia adalah akumulasi kecil dari pembenaran-pembenaran moral yang terasa logis pada masanya. Ketika kita gagal memahami ini, kita cenderung datang terlambat—baru bereaksi saat ideologi itu sudah mengeras.

Permainan Online: Ketika Imajinasi Menjadi Latihan Identitas

Yang membuat kasus ini berbeda dari banyak kasus radikalisasi sebelumnya adalah peran permainan online. Roblox dan Gorebox bukan sekadar latar; ia menjadi medium utama di mana ideologi itu diuji, dilatih, dan dinormalisasi.

Dalam permainan, anak ini tidak hanya menonton kekerasan—ia memerankannya. Ia tidak sekadar mengagumi ISIS—ia menjadi ISIS, meski hanya dalam bentuk avatar digital. Ini penting, karena dalam psikologi ada perbedaan besar antara mengamati dan mempraktikkan, meskipun dalam ruang virtual.

Permainan memberi ruang yang aman secara semu. Tidak ada korban nyata, tidak ada konsekuensi langsung. Tetapi justru di situlah bahayanya. Kekerasan kehilangan bobot moralnya. Ia menjadi bagian dari rutinitas, dari hiburan, dari ekspresi diri. Ketika dilakukan berulang-ulang, simulasi ini berfungsi sebagai latihan identitas—siapa aku, di pihak mana aku berdiri, dan apa yang pantas aku lakukan terhadap “musuh”.

Saya tidak sedang menyalahkan game. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada kekosongan pendampingan. Ketika ruang virtual menjadi tempat utama anak membangun makna hidup, sementara ruang dialog di dunia nyata tertutup atau tidak peka, maka ideologi ekstrem dengan mudah mengisi kekosongan itu.

Tanda-Tanda yang Sebenarnya Terlihat

Salah satu bagian paling menyedihkan dari kasus ini adalah pengakuan bahwa keluarga dan teman-temannya mengetahui pandangan ekstrem anak tersebut, tetapi tidak melaporkannya. Ini bukan semata soal keberanian melapor; ini soal ketidakmampuan kolektif kita membaca tanda-tanda dini radikalisasi.

Tanda-tandanya sebenarnya klasik: konsumsi konten ekstrem berjam-jam setiap hari, glorifikasi tokoh teroris, obsesi pada kematian dan “kesyahidan”, serta penggunaan bahasa hitam-putih tentang dunia. Dalam banyak kasus, tanda-tanda ini muncul jauh sebelum ada niat kekerasan nyata.

Namun, tanda-tanda itu sering disalahartikan. Orang tua mengira anaknya “hanya terlalu banyak main internet”. Guru melihatnya sebagai fase pencarian jati diri. Teman sebaya memilih diam agar tidak dianggap berlebihan. Ketika tidak ada yang bertanya dengan sungguh-sungguh, seseorang akan mencari jawabannya sendiri. Dan internet selalu siap memberi jawaban, apa pun bentuknya. Lalu dalam keheningan itulah ideologi ekstrem tumbuh tanpa tandingan.

Apa yang Seharusnya Dilakukan Lingkungan Sekitar?

Pertanyaan paling penting bukan bagaimana menghukum anak ini, tetapi bagaimana mencegah anak-anak lain mengikuti jejak yang sama. Jawabannya tidak sederhana, tetapi ada satu prinsip dasar: kehadiran lebih penting daripada pengawasan.

Orang tua, guru, dan komunitas perlu membangun hubungan yang memungkinkan percakapan sulit terjadi. Bukan percakapan yang penuh ceramah, tetapi dialog yang jujur: tentang ketidakadilan, kemarahan, identitas, dan bahkan tentang ketertarikan pada kekerasan. Anak-anak perlu tahu bahwa perasaan mereka bisa dibicarakan tanpa langsung dicap berbahaya.

Intervensi dini tidak harus represif. Dalam banyak kasus, justru pendekatan yang manusiawi—melibatkan konseling, pendampingan psikologis, dan tokoh yang kredibel—jauh lebih efektif. Anak-anak tidak membutuhkan musuh baru; mereka membutuhkan alternatif makna yang lebih sehat.

Negara memang memiliki peran pengamanan, tetapi jika pencegahan hanya diserahkan pada aparat, kita sudah gagal di level sosial. Radikalisasi anak adalah cermin dari relasi yang renggang antara generasi, bukan semata masalah keamanan.

Radikalisme dan Kesepian yang Kita Abaikan

Kasus anak 14 tahun ini seharusnya membuat kita berhenti bertanya, “Bagaimana ini bisa terjadi?” dan mulai bertanya, “Di mana kita ketika ini sedang terjadi?” Radikalisme jarang tumbuh di tengah relasi yang hangat dan dialog yang jujur. Ia tumbuh subur dalam kesepian, dalam ruang digital yang tidak kita pahami, dan dalam keheningan orang-orang dewasa yang terlalu sibuk atau terlalu takut untuk terlibat.

Anak-anak hari ini hidup di dunia yang jauh lebih kompleks daripada generasi sebelumnya. Jika kita terus menggunakan cara lama untuk membaca tanda-tanda bahaya, kita akan terus tertinggal. Dan yang kita sebut sebagai “kasus terorisme” sering kali berawal dari kegagalan paling mendasar, yaitu kegagalan untuk hadir, mendengar, dan peduli lebih awal.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar