Lika-Liku Menjadi Credible Voices: Refleksi Empat Tahun Kebebasan (2-habis)

By

Kisah baru itu dimulai dari sebuah sesi diskusi khusus antara saya, Kharis Hadirin, Mas Rosyid Hakiim (almarhum), dan Mr. NHI, dijelaskan bahwa salah satu tujuan dari kegiatan pelatihan itu adalah mencetak para credible voices yang mampu menjelaskan kepada masyarakat tentang isu radikalisme-terorisme dari perspektif mantan pelaku yang sudah sadar. Output-nya nanti bisa berupa tulisan yang akan diwadahi oleh media komunitas ruangobrol.id, video, audio, atau setidaknya mampu berbicara di depan publik dengan baik.

Ide Awal “Internetistan: Jihad Zaman Now”

Melihat saya datang dengan membawa sebuah novel fiksi yang berisi lebih dari 125.000 kata, mungkin Mr. NHI berpikir, jika saya bisa menulis fiksi sebesar itu maka pasti akan bisa menuliskan non-fiksi yang jauh lebih kecil dari itu.

Maka kemudian disampaikanlah ide agar saya menulis kisah dan refleksi dari perjalanan hidup dari sebelum bergabung dengan kelompok teroris, ketika bergabung, dan setelah melepaskan diri dari kelompok itu. Terutama agar fokus pada peran internet dalam gerakan radikalisme-terorisme di Indonesia.

Maka mulailah saya menulis buku pertama saya pasca-bebas dari penjara yang berjudul “Internetistan: Jihad Zaman Now”. Buku yang harus ‘mengendap’ dulu selama 2,5 tahun sebelum akhirnya bisa terbit di penghujung tahun 2020 yang lalu. Kini buku itu telah terjual lebih dari 900 buah.

Setelah proses penulisan buku itu selesai pada akhir Juni 2018, barulah saya kemudian bergabung menjadi salah satu kontributor di ruangobrol.id sampai hari ini. 400 lebih tulisan telah terbit di ruangobrol.id sejak awal Juli 2018.

Menjadi Credible Voices yang Terus Berkarya

Di samping itu, Mr. NHI atau yang biasa dipanggil Mas Huda juga meminta izin akan menjadikan saya sebagai percontohan bagi ‘ijtihad’ barunya, yaitu mengkampanyekan narasi kontra radikalisme menggunakan credible voices. Dari semua peserta pelatihan yang merupakan mantan napiter, saya dianggap paling berpotensi karena baru saja bebas dan punya keinginan kuat untuk ‘menebus kesalahan’ di masa lalu. Maka, untuk itu dirinya akan berinvestasi untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian yang diperlukan agar suara dari credible voices itu semakin dihargai.

Investasi pertamanya adalah memperkenalkan saya kepada para pegiat dan pemerhati isu radikalisme-terorisme. Juga kepada para stakeholder yang menangani isu penanggulangan radikalisme-terorisme.

Enam bulan pertama saya diajari dan diminta praktik langsung untuk berbicara di depan publik. Menceritakan pengalaman dan refleksi serta memberi masukan kepada pihak terkait berdasarkan persepsi seorang mantan napiter. Almarhum Mas Hakiim dan Mas Huda begitu bangga dengan semua perkembangan saat itu.

Dari pengalaman bertemu dengan para pegiat dan pemerhati isu radikalisme-terorisme itu saya menyadari bahwa betapa mereka semua sangat menghargai setiap apa yang saya sampaikan. Teori bahwa narasi kontra radikalisme yang berasal dari seorang credible voices akan lebih didengar itu mulai terbukti. Semakin hari semakin sering saya diminta untuk berbicara di depan publik.

Seiring perjalanan waktu, Mas Huda semakin memahami potensi apa saja dalam diri saya yang bisa dikembangkan. Pada saat yang sama, saya juga menemukan semakin banyak persamaan saya dengannya. Setidaknya ada kesamaan yang paling mendasar, yaitu kami sama-sama ingin berkarya untuk umat tidak pernah bisa diam bila melihat sebuah permasalahan.

Maret 2019 atau tepat setahun sejak pertemuan pertama dengan Mas Huda, ia kembali menawarkan untuk meningkatkan investasinya pada saya. Ia ingin saya belajar menjadi seorang peneliti. Daripada meminjami saya modal untuk mengembangkan usaha, ia lebih rela ‘membakar uang’ untuk meningkatkan bakat terpendam yang kurang saya sadari. Menurutnya saya berbakat untuk mempengaruhi orang dan kemampuan menulis. Itu bisa terus dikembangkan tanpa batas selama masih diberi kesempatan.

Tantangan pertama saya saat itu adalah mengumpulkan kisah para mantan Foreign Terorist Fighter (FTF) baik yang masih ada di penjara maupun yang sudah bebas. Tujuan dari penelitian itu adalah untuk menemukan permasalahan yang dihadapi oleh para mantan FTF itu ketika kembali ke Indonesia.

Dari rencana awal yang hanya untuk memetakan permasalahan itu, kemudian ternyata berlanjut pada pendampingan, yaitu upaya untuk mencoba menemukan solusi bagi permasalahan itu bersama-sama. Disebut bersama-sama karena melibatkan berbagai pihak yang sama-sama ingin menyelesaikan permasalahan ini. Tak disangka, ada lembaga donor yang kemudian tertarik membiayai program pendampingan itu.

Itulah awal saya menemukan bahwa ketika mampu mengikat banyak orang dalam sebuah amal kebaikan itu sangat menyenangkan. Sejak saat itu saya semakin percaya diri dan mulai meyakini bahwa inilah jalan perjuangan saya yang baru. Yaitu mengajak orang-orang untuk bersama-sama menyelesaikan sebuah permasalahan.

Menulis buku, menjadi kontributor di ruangobrol.id, menjadi mentor program edukasi masyarakat, menjadi pemateri di berbagai seminar dan workshop, adalah bagian dari usaha saya mengajak orang-orang untuk menyelesaikan persoalan radikalisme-terorisme bersama-sama.

Hari ini mungkin baru persoalan terkait radikalisme-terorisme, tetapi suatu saat nanti saya ingin menjadi bagian dari penyelesaian persoalan bangsa yang lebih banyak lagi. Untuk mencapai hal itu, tentu saya harus meningkatkan kemampuan.

Secara personal, Mas Huda ingin agar saya bisa melanjutkan studi minimal sampai jenjang Magister (S2) dan mampu berbicara serta menulis dalam bahasa Inggris. Langkah pertama sudah ia lakukan, yaitu mendukung saya untuk kuliah guna mendapatkan ijazah S-1. Baginya, kelak ia ingin saya menjadi ‘legacy’ yang bisa menginspirasi lebih banyak orang lagi, dan bisa melakukan hal yang lebih baik dari yang ia lakukan saat ini.

Hari ini 4 tahun pasca-bebas, alhamdulillah saya telah memiliki dua buku yang telah terbit, menyelesaikan dua program dalam upaya penanggulangan radikalisme-terorisme di masyarakat, dan sebentar lagi akan diwisuda sebagai sarjana (Prodi PAI). Saat ini saya juga sedang menyelesaikan buku ketiga yang merupakan sekuel lanjutan dari Internetistan.

Semua itu merupakan anugerah dari Allah SWT yang saya peroleh melalui perantaraan orang-orang baik yang dikirimkan Allah kepada saya. Semoga Allah berkenan menerima semua amal kebaikan mereka dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan. Aamiin…

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like