Tragedi penembakan yang terjadi di Islamic Center of San Diego, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2026 lalu tidak hanya menjadi perhatian media internasional dan masyarakat umum, tetapi juga memicu diskusi luas di berbagai forum daring yang dihuni para simpatisan ISIS. Menariknya, percakapan di forum-forum tersebut tidak dipenuhi narasi empati atau keprihatinan terhadap korban, melainkan justru dipenuhi komentar bernuansa kebencian, glorifikasi kekerasan, hingga seruan pembalasan.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kelompok ekstremis memanfaatkan setiap peristiwa kekerasan sebagai bahan propaganda dan legitimasi ideologi mereka. Bahkan ketika korbannya adalah sesama Muslim, narasi yang dibangun tetap diarahkan untuk memperkuat kebencian, memperluas polarisasi, dan membenarkan tindakan kekerasan lanjutan.
Narasi Pembalasan dan Glorifikasi Kekerasan
Dalam sejumlah forum online yang diikuti para simpatisan ISIS, serangan terhadap Islamic Center of San Diego dianggap sebagai “serangan bayi” atau serangan kecil yang dinilai belum memberikan dampak besar. Mereka menyebut para korban Muslim yang tewas sebagai “martir”, namun di saat yang sama mengejek para pelaku karena dianggap gagal menyelesaikan aksinya.
Beberapa komentar bahkan secara terang-terangan menyerukan aksi balasan terhadap gereja-gereja dan komunitas Kristen secara umum. Narasi seperti ini memperlihatkan pola klasik propaganda ekstremis: menjadikan tragedi sebagai alat untuk membangun siklus kebencian dan memprovokasi konflik antaragama.
Padahal, tindakan semacam itu justru memperlihatkan bagaimana kelompok ekstrem memandang nyawa manusia hanya sebagai instrumen ideologis. Korban tidak dilihat sebagai manusia yang harus dilindungi, tetapi sebagai bahan bakar untuk memperkuat agenda kekerasan mereka.
Serangan itu sendiri akhirnya dapat dihentikan setelah adanya perlawanan dari Amin Abdullah, seorang petugas keamanan yang sedang berjaga di lokasi. Namun, alih-alih memandang kejadian tersebut sebagai tragedi kemanusiaan, para simpatisan ISIS justru menjadikannya bahan evaluasi taktis dan propaganda.
Sorotan terhadap Identitas dan Persona Digital Pelaku
Selain membahas serangan itu sendiri, para simpatisan ISIS juga ramai mengomentari kehidupan pribadi kedua pelaku, khususnya jejak digital mereka di media sosial. Berdasarkan berbagai unggahan yang beredar, kedua pelaku diketahui sering membagikan konten kartun, meme, hingga video tarian yang dianggap bernuansa feminin. Hal ini kemudian menjadi bahan ejekan di berbagai forum ekstremis.
Para simpatisan ISIS memandang perilaku tersebut sebagai sesuatu yang memalukan bagi laki-laki. Mereka bahkan menggunakan aktivitas media sosial para pelaku untuk merendahkan kapasitas dan “keseriusan” keduanya sebagai pelaku kekerasan. Tidak sedikit pula komentar yang menyatakan bahwa kedua pelaku akan langsung masuk neraka dan mendapatkan azab karena kebencian mereka terhadap Islam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa komunitas ekstremis daring tidak hanya membangun identitas berdasarkan ideologi, tetapi juga melalui standar maskulinitas yang sempit dan kultur internet yang toksik. Di ruang-ruang tersebut, seseorang bukan hanya dinilai dari tindakan atau pandangan politiknya, melainkan juga dari cara berpakaian, selera hiburan, hingga persona digital yang mereka tampilkan di media sosial.
Pada akhirnya, reaksi semacam ini memperlihatkan bagaimana ruang digital ekstremis dipenuhi budaya saling mengejek, glorifikasi kekerasan, dan pencarian superioritas identitas. Bahkan dalam membahas tragedi sekalipun, yang muncul bukan refleksi kemanusiaan, melainkan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang dianggap paling “murni” secara ideologis maupun sosial.
Perdebatan tentang Label “Terorisme”
Salah satu isu yang paling banyak dibahas oleh para simpatisan ISIS adalah bagaimana kasus penembakan ini tidak secara langsung dikategorikan sebagai aksi terorisme. Banyak pemberitaan dan pernyataan awal yang lebih memilih menyebutnya sebagai hate crime atau kejahatan berbasis kebencian.
Bagi para simpatisan ISIS, hal ini dianggap sebagai bentuk kemunafikan Barat. Mereka menilai istilah “terorisme” hanya digunakan ketika pelaku atau tersangkanya adalah Muslim. Narasi semacam ini sebenarnya bukan hal baru dan sudah lama menjadi salah satu bahan propaganda kelompok ekstremis untuk menarik simpati.
Mereka mencoba membangun persepsi bahwa umat Islam selalu diperlakukan tidak adil oleh media maupun pemerintah Barat. Dari sinilah kemudian muncul upaya untuk memperkuat sentimen “kami versus mereka” yang menjadi fondasi utama propaganda ekstremisme.
Padahal, perdebatan mengenai definisi terorisme sendiri memang sering menjadi isu kompleks dalam ranah hukum dan politik internasional. Namun, kelompok ekstremis sengaja menyederhanakan persoalan tersebut demi kepentingan propaganda mereka.
Manifesto yang Dinilai “Tidak Serius”
Selain membahas serangan itu sendiri, para simpatisan ISIS juga ramai mengomentari manifesto yang ditinggalkan kedua pelaku sebelum melakukan penembakan. Menurut mereka, manifesto tersebut tidak layak dibaca secara serius karena berisi campuran referensi acak, slogan populer internet, dan berbagai penyebutan tokoh maupun karakter yang tidak jelas keterkaitannya.
Sebagian dari mereka bahkan menyebut manifesto itu lebih mirip “ideologi TikTok” dibanding dokumen ideologis yang terstruktur. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan pola pikir yang dianggap dangkal, impulsif, dan dipengaruhi budaya internet modern.
Bagi kelompok ekstremis seperti ISIS, manifesto biasanya dipandang sebagai dokumen penting yang harus memiliki dasar ideologi kuat dan narasi yang konsisten. Karena itu, mereka memandang manifesto kedua pelaku sebagai sesuatu yang kacau dan tidak matang.
Kritik mereka tidak berhenti di sana. Para simpatisan ISIS juga menilai kedua pelaku gagal menjalankan rencana yang mereka tulis sendiri. Menurut mereka, target-target yang sebelumnya dikritik dalam manifesto justru tidak diserang. Bahkan manifesto tersebut dianggap tidak selesai secara konseptual.
Paradoks dalam Kekerasan Modern
Hal yang paling ironis adalah bagaimana kedua pelaku disebut sempat memuja Omar Mateen, pelaku penembakan klub malam gay di Orlando pada 12 Juni 2016 yang dikenal sebagai salah satu aksi lone wolf paling mematikan di Amerika Serikat. Padahal sebelumnya, kedua pelaku juga sempat menyatakan bahwa Islam tidak kompatibel dengan ras dan budaya mereka.
Kontradiksi ini memperlihatkan bagaimana kekerasan modern sering kali tidak lagi dibangun atas dasar ideologi yang konsisten. Banyak pelaku kekerasan masa kini justru dipengaruhi campuran budaya internet, krisis identitas, kebencian personal, dan konsumsi konten ekstrem secara acak.
Dalam konteks ini, media sosial dan ruang digital menjadi tempat bertemunya berbagai ideologi, simbol, dan narasi kekerasan yang bercampur tanpa arah jelas. Seseorang bisa membenci suatu kelompok, tetapi di saat yang sama mengagumi pelaku kekerasan dari kelompok yang juga mereka benci. Paradoks seperti ini semakin sering muncul dalam berbagai kasus kekerasan kontemporer.
Karena itu, memahami ekstremisme hari ini tidak cukup hanya melihat ideologi formal semata. Kita juga perlu memahami budaya digital, algoritma media sosial, pola konsumsi konten generasi muda, hingga bagaimana internet membentuk identitas dan cara pandang seseorang terhadap dunia.
Kasus Islamic Center of San Diego memperlihatkan bahwa tragedi kekerasan kini bukan hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga berlanjut di ruang digital melalui propaganda, glorifikasi, dan narasi kebencian yang terus diproduksi oleh komunitas ekstrem daring.
*Foto: Suasana setelah kejadian penembakan di masjid Islamic Center San Diego, Senin (18/5/2026) waktu setempat. [REUTERS/Mike Blake]
Komentar