Densus 88 Kini Gunakan Pendekatan Humanis

By

Direktur Identifikasi dan Sosialisasi Densus 88 Anti-teror Polri, Kombes Pol. MD. Shodiq, memilih menggunakan pendekatan humanis dalam program deradikalisasi terhadap terpidana teroris, mantan napiter, dan orang-orang yang terpapar paham radikal. Hal ini dia lakukan karena masih belum adanya model yang benar-benar tepat untuk upaya deradikalisasi.

Menurut Shodiq pendekatan halus yang humanis itu bertujuan untuk membangun kepercayaan antara aparat dan para terpidana teroris. “Belum ada saya baca baik jurnal maupun di buku-buku dari para pakar ahli bagaimana orang yang sudah radikal tinggi dengan berbagai teori dan metodologi supaya kembali kepada pemikiran yang moderat, ini saya belum temukan. Sehingga kami melakukan pendekatan ini yang soft yang humanis terhadap orang yang terpapar radikal, dengan harapan membangun kepercayaan, ini yang penting,” jelas Shodiq dalam diskusi Peran Yayasan Debintal dalam reintegrasi mantan Narapidana Terorisme di Indonesia yang diselenggarakan oleh Sekolah Kajian Strategik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) pada Sabtu (12/6/2021)

Lebih jauh Shodiq menjelaskan bahwa dasar utama pendekatan kepada narapidana teroris adalah soal trust, kebutuhan primer, kemudian pendekatan membangun komunitas. Dalam upaya menciptakan tiga hal tersebut, terjadi pertemuan yang rutin, sehingga hubungan emosional akan terjalin. Jika hubungan tersebut terjalin erat, maka secara perlahan akan menarik kembali orang-orang yang sudah terpapar. Hubungan tersebut juga membantu orang-orang terpapar itu untuk kembali membuka pemikiran mereka, membuka ruang bahwa dunia itu tidak seperti yang mereka pahami selama ini.

“Dengan pemahaman itu pula, para napiter yang berada di rutan, lapas hingga sampai kembali ke masyarakat nantinya perlu mendapatkan wadah pendampingan. Wadah tersebut direalisasikan dalam bentuk Yayasan Debintal. Harapan kita ini nanti akan jadi satu role model yayasan yang mengimplementasikan kegiatan pemahaman yang moderat. Dan kalau bisa nantinya di sana juga dibuat area tangguh ideologi,” ujarnya

Berdasarkan pengalamannya dalam menangani terorisme, Shodiq menjelaskan bahwa Densus 88, sebagai lembaga yang dibentuk untuk merespon peristwa Bom Bali, telak melakukan berbagai upaya agar orang-orang yang sudah radikal tinggi bisa menjadi moderat. Sebagai contoh upayanya, pada tahun 2000 hingga 2009, pihaknya menghadirkan tokoh-tokoh Jihadis asal Timur Tengah seperti tokoh-tokoh Al Qaeda yang sudah berpaham moderat untuk berdialog dengan napiter. Namun, dia mengakui bahwa apa yang ia lakukan bersama dengan lembaga resmi seperti BNPT belum menghasilkan sesuatu yang maksimal.

“Pendekatan yang kita lakukan artinya hanya trial and error, hanya mencoba-coba. Mana konsep yang bagus untuk menurunkan tingkat radikalisme ini. Nah ketika dibentuk nomenklatur baru di Densus, kami membuat satu konsep bagaimana melakukan pendekatan baik di dalam rutan, di lapas maupun di luar lapas,” ucapnya.

Pendekatan humanis yang dilakukan oleh Densus 88 tersebut diakui oleh Mantan Narapidana Teroris Gamal Abdillah Maulidi turut mengubah pemahaman dirinya secara drastis. Menurut Gamal Perlakuaan baik Densus 88 menimbulkan kesan yang baik di dalam dirinya.

“Itu memberikan kesan yang baik, sehingga malu sebagai umat Islam, sebagai seorang mukmin. Ini orang yang dulu kita musuhi, bahkan kita perangi, kok kita diperlakukan seperti ini. Karena kalau terjadi sebaliknya, belum tentu kita bisa berbuat yang sama,” tutur Gamal yang juga sebagai Ketua Yayasan Debintal.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like