Esai Pertamaku Setelah Semua yang Terjadi

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Hidup Berdampingan dengan Luka yang Belum Selesai

Ada satu hal yang ingin kuceritakan.

Mungkin ini adalah salah satu langkah paling nekat yang pernah kulakukan setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Di balik semua ketakutan dan rasa sakit yang masih setia menghantui, untuk pertama kalinya aku memberanikan diri mengikuti sebuah perlombaan. Bukan perlombaan besar. Bukan kompetisi bergengsi. Hanya lomba esai ilmiah

Mungkin bagi orang lain itu terdengar biasa. Tidak ada jaminan menang. Tidak ada hadiah yang mengubah hidup. Tapi bagiku, langkah kecil itu punya arti yang jauh lebih besar. Saat itu aku bahkan tidak benar-benar tahu seperti apa esai ilmiah yang baik. Aku belum paham cara menyusun argumentasi, mencari data, atau melakukan wawancara. Aku seperti meraba-raba di tempat yang sama sekali baru.

Yang lebih mengejutkan, topik yang kupilih justru topik yang selama ini menjadi sumber luka dalam hidupku sendiri: radikalisme dan generasi muda.

Jika kuingat sekarang, aku sendiri heran mengapa berani memilih tema itu. Mungkin karena di dalam diriku ada keinginan untuk memahami apa yang pernah terjadi. Mungkin juga karena aku ingin memastikan bahwa pengalaman menyakitkan itu tidak berakhir sia-sia. Yang jelas, saat itu aku tidak sedang mengejar kemenangan. Aku hanya mencoba membuktikan bahwa keberanianku belum benar-benar mati.

Dulu aku anak yang sangat menyukai perlombaan. Aku pernah menjadi juara Olimpiade Fisika tingkat kabupaten, bahkan mewakili daerah ke tingkat provinsi. Belajar, berkompetisi, mengejar target adalah bagian dari hidupku. Aku terbiasa bermimpi besar. Tapi semua itu terasa seperti kehidupan orang lain sekarang. Setelah berbagai kehilangan, setelah pendidikan sempat direnggut, setelah pengalaman yang menghancurkan kepercayaan diriku, dunia perlombaan terasa begitu jauh. Aku seperti tersesat di tempat yang dulu sangat kukenal.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana mungkin seseorang yang dulu berprestasi bisa menjadi korban radikalisme? Banyak orang mengira korban radikalisme adalah mereka yang kurang pendidikan atau kurang berpikir kritis. Seolah kecerdasan otomatis membuat seseorang kebal. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.

Justru anak-anak cerdas sering menjadi target yang menarik. Mereka punya rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka mencari jawaban atas pertanyaan besar tentang hidup, agama, keadilan, dan identitas. Mereka tidak puas dengan jawaban dangkal. Mereka ingin memahami sesuatu sampai ke akar. Mereka juga punya motivasi yang kuat. Ketika tertarik pada sesuatu, mereka pelajari dengan sungguh-sungguh. Karakteristik seperti ini sebenarnya baik, tapi dalam kondisi tertentu justru menjadi celah.

Dan Kelompok radikal memahami hal itu dengan sangat baik. Mereka tidak menawarkan kebencian di awal. Mereka menawarkan jawaban. Mereka tidak datang dengan wajah menakutkan. Mereka datang dengan kesan peduli, berilmu, seolah punya solusi atas kegelisahan yang kita rasakan. Bagi anak muda yang sedang mencari makna hidup atau identitas, tawaran itu terasa sangat meyakinkan. Apalagi banyak anak berprestasi punya idealisme tinggi. Mereka peduli pada ketidakadilan. Mereka ingin memperbaiki keadaan. Sayangnya, idealisme yang kuat juga bisa menjadi pintu masuk manipulasi.

Sedikit demi sedikit cara berpikir diarahkan. Lingkaran sosial dibatasi. Kemampuan mempertanyakan sesuatu dianggap kelemahan. Prosesnya tidak terjadi dalam satu malam. Justru karena berjalan perlahan, banyak orang tidak menyadari apa yang sedang terjadi sampai semuanya terlambat. Karena itulah aku percaya bahwa radikalisme bukan hanya persoalan ideologi. Ia juga persoalan psikologi.

Kembali ke lomba. Saat itu aku meminta ayah menemaniku wawancara ke beberapa pihak. Aku masih sangat bingung. Berkali-kali aku merasa tulisanku tidak cukup bagus. Berkali-kali aku ingin menyerah. Namun semakin jauh proses itu berjalan, semakin aku menyadari sesuatu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku kembali merasakan rasa ingin tahu yang dulu hilang. Aku kembali merasakan semangat saat menemukan data baru. Aku kembali merasakan kepuasan saat berhasil menyusun argumen. Aku kembali merasakan diriku sendiri.

Esai yang kutulis bukan sekadar kumpulan kata. Ia adalah bukti bahwa ada bagian dari diriku yang berhasil bertahan. Bagian yang dulu suka belajar. Bagian yang dulu suka meneliti. Bagian yang tidak takut mencoba. Bagian yang selama ini kukira sudah hancur ternyata masih hidup.

Ketika akhirnya aku mengirimkan esai itu, aku sadar bahwa kemenangan terbesar bukanlah trofi atau sertifikat. Melainkan fakta bahwa setelah semua yang pernah terjadi, setelah semua kehilangan yang sempat membuatku percaya hidupku telah berakhir, aku masih berani mencoba lagi.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar