Narasi Pengorbanan yang Membutakan

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Jebakan Rasa Istimewa di Dunia Maya

Aku tidak pernah mengira bahwa jalan menuju keterasingan bisa terasa begitu hangat.

Semuanya berawal dari grup diskusi kecil yang awalnya berisi nasihat-nasihat ringan: pengingat salat, motivasi hijrah, tautan ceramah pendek. Tapi seiring waktu, diskusinya berubah. Kami mulai membicarakan konsep jihad. Bukan dengan nada keras atau ajakan membabi buta, melainkan dengan kelembutan. Mereka menyebutnya sebagai jalan mulia menuju surga.

Suatu malam, aku menerima pesan suara dari salah satu anggota senior. Suaranya tenang, berat, dan penuh keyakinan.

Surga itu mahal, saudariku. Surga hanya untuk mereka yang siap berkorban. Dunia ini tipu daya. Dan kamu… kamu dipilih oleh Allah.”

Aku terdiam lama. Ada getar halus di dada. Kata-kata itu begitu manis, seperti pelukan setelah hujan panjang. Kata “dipilih” menggema paling lama. Mungkin karena selama ini aku merasa biasa saja—seorang siswi biasa, dari keluarga biasa, dengan hidup yang juga… biasa.

Tapi malam itu, aku merasa… lebih.

Beberapa hari kemudian, seorang anggota grup membagikan video testimoni perempuan muda yang katanya telah “berangkat ke negeri tauhid.” Ia berbicara dengan mata yang berbinar, wajah tenang, suara bergetar antara haru dan takzim. Ia bercerita tentang ketenangan yang ia temukan setelah bergabung dengan “jamaah yang benar”.

Di sini, aku tidak lagi takut mati. Aku hanya takut jika Allah tak meridhaiku.”

Aku memutar video itu berkali-kali. Wajahnya begitu yakin. Damai. Seolah ia telah tiba di tempat yang selama ini kita cari: rumah sejati. Di belakang layar, aku ingin percaya bahwa aku pun sedang menuju ke sana.

Obrolan di grup pun berkembang. Mereka mulai memperkenalkan gagasan pengorbanan secara perlahan—bukan lewat ajakan mengangkat senjata, tapi lewat langkah-langkah kecil: menghapus foto-foto lama, menjauh dari teman yang “melemahkan iman”, meninggalkan “hiburan duniawi” yang katanya mengotori hati.

Melati, salah satu anggota paling aktif, sering menulis:

Hijrah bukan sekadar pindah tempat. Hijrah adalah pindah hati. Tinggalkan siapa pun yang menghalangimu menuju Allah.”

Dan aku mengangguk. Entah sejak kapan, obrolan di sekolah mulai terdengar hambar. Aku mulai lebih nyaman membalas pesan-pesan dari grup itu, dibanding menyapa sahabatku yang duduk di sebelah.

Lalu datang pesan pribadi yang membuat langkahku makin jauh:

Vania, kamu istimewa. Allah tidak membawa seseorang ke jalan ini tanpa maksud. Kamu bagian dari keluarga pilihan.”

Aku membaca pesan itu berkali-kali. Ada rasa hangat di dada. Seolah akhirnya aku tahu, untuk apa aku dilahirkan. Aku bukan sekadar remaja biasa. Aku punya misi. Aku bagian dari sesuatu yang besar, sesuatu yang suci.

Namun, jauh di dalam hati, muncul suara kecil: takut. Tapi ketakutan itu segera ditelan kalimat yang terus diulang:
“Allah memilihmu. Jangan sia-siakan.”

Dan aku… percaya.

Kini, aku tahu bahwa yang kualami adalah bagian dari pola perekrutan.
Bahwa kalimat-kalimat yang membuatku merasa istimewa itu disusun dengan cermat.
Bahwa video yang membuatku ingin ikut “berangkat” itu bukan hanya kisah inspiratif, tapi bagian dari narasi besar untuk menarik simpati.

Catatan untuk Siapa Pun yang Pernah Merasa Sama

Jika kamu merasa mulai kehilangan diri sendiri,
Jika kamu merasa hanya dihargai di dunia maya,
Jika kamu mulai berpikir bahwa "hanya kelompok ini yang mengerti aku",

Berhenti sejenak. Dengarkan dirimu sendiri.
Apakah kamu benar-benar menemukan kebenaran…
Atau kamu hanya sedang dikejar rasa ingin menjadi penting?

Karena perekrutan radikal tidak selalu datang dengan teriakan.
Sering kali, ia datang lewat pelukan hangat…
Yang diam-diam menuntut jiwamu sebagai bayarannya.

Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami hal serupa, bicara dengan seseorang yang kamu percaya.
Kamu tidak sendiri.
Dan keyakinan yang sehat tidak akan pernah membuatmu kehilangan cinta yang tulus dari orang-orang terdekatmu.



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar