Jebakan Rasa Istimewa di Dunia Maya

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Dari Doa ke Doktrin: Cerita di Balik Notifikasi

Hari-hari berikutnya, aku mulai merasakan pergeseran halus dalam cara pandangku terhadap dunia. Diskusi di grup itu semakin intens. Topiknya tak lagi sekadar motivasi atau pengingat ibadah. Kami membahas hal-hal yang mereka klaim tidak akan pernah dibicarakan di sekolah atau televisi.

Setiap hari, potongan berita membanjiri layar ponselku: konflik di Timur Tengah, pernyataan politik negara besar, hingga video kekerasan yang membuat hati tercekat. Semua itu disertai narasi yang sama:
“Lihat, inilah bukti kebencian dunia terhadap Islam. Mereka tidak akan berhenti sebelum agama kita hancur.”

Awalnya kata-kata itu membuatku marah sekaligus sedih. Aku merasa kasihan pada saudara-saudara seiman yang digambarkan sebagai korban kezaliman. Rasa marah itu pelan-pelan tumbuh menjadi sesuatu yang lain: keyakinan bahwa aku harus melakukan sesuatu, meskipun aku belum tahu apa.

"Kami” dan “Mereka”

Dalam diskusi, batas antara “kami” dan “mereka” semakin jelas. “Kami” adalah mereka yang sadar, yang menolak tunduk pada sistem dunia, yang berjuang untuk kembali pada ajaran Islam murni. “Mereka” adalah semua yang lain: media, pemerintah, bahkan sebagian ulama yang dianggap “berkompromi”.

Suatu sore, seorang anggota senior grup mengirim pesan panjang. Ia menulis tentang “umat yang tertidur” dan “kewajiban membangunkan mereka”. Pesannya penuh semangat, tapi juga menyiratkan kemarahan mendalam. Saat membacanya, aku merasa darahku mengalir lebih cepat. Kata-kata itu seperti energi baru. Aku percaya menjadi bagian dari lingkaran ini adalah sebuah kehormatan.

Tembok Tak Terlihat

Hari-hari berikutnya, aku semakin sering menghabiskan waktu di dunia maya bersama mereka. Grup itu seperti rumah kedua, bahkan mungkin rumah utama. Notifikasi dari grup terasa lebih berarti daripada percakapan di rumah atau sekolah. Rasanya, setiap kali layar ponsel menyala, aku sedang menerima petunjuk baru untuk memahami dunia.

Di luar dunia maya, aku mulai merasa asing. Teman-teman sekolah tetap hangat, tapi obrolan mereka terasa dangkal. Mereka bicara musik baru, film populer, rencana jalan-jalan. Aku tersenyum, mengangguk, tapi pikiranku melayang ke diskusi grup.

Pernah seorang teman dekat berkata aku terlihat “berbeda”. Aku tertawa dan bilang sedang sibuk belajar. Padahal, dalam hatiku, aku merasa ia tak akan mengerti jalan yang kutempuh. Aku mulai membangun tembok: “Mereka tidak paham. Mereka bukan bagian dari jalan ini.”

Perlahan, aku juga merasa mulai ada jarak antara aku dan keluargaku. Bukan karena mereka melakukan kesalahan, tapi karena aku merasa mereka tidak mengerti “pembukaan mata” yang sedang kualami. Obrolan di rumah hanya tentang pekerjaan, sekolah, dan rencana keluarga. Semua terasa sederhana dan “terlalu duniawi”. Aku mulai lebih sering mengurung diri di kamar, berdalih belajar, padahal sibuk menonton kajian atau membaca tulisan panjang dari grup.

Grup kecil ini bukan sekadar ruang belajar. Ia menjadi ruang pengakuan. Setiap pendapatku ditanggapi serius. Jika aku menulis ayat atau hadis, mereka memujiku:
Masya Allah, Allah beri kamu pemahaman yang baik.”
Pujian itu membuatku merasa istimewa, seolah aku punya peran penting dalam perjuangan besar ini.

Mereka mengajarkan pola pikir baru tentang “kemurnian iman”. Kalimat yang sering muncul:
“Islam itu sempurna. Kalau kita kompromi sedikit saja, kita sudah keluar jalur.”

Kalimat sederhana ini mengubah banyak hal. Aku mulai curiga pada hal-hal yang sebelumnya biasa: perayaan sekolah, kegiatan sosial, bahkan materi pelajaran. Semua kulihat dengan kacamata hitam-putih: antara kebenaran dan kebatilan, iman dan kekufuran.

Undangan ke Ruang Rahasia

Suatu malam, admin grup mengirim pesan pribadi:
“Kami lihat kamu serius. Kamu siap melangkah ke tahap berikutnya. Di sini kita bicara strategi, bukan teori.”

Jantungku berdegup kencang. Ada rasa bangga, sedikit takut, tapi rasa penasaran menutupinya. Aku menerima tautan itu dan bergabung. Begitu masuk, sambutannya membuatku merinding:
“Selamat datang di halaqah inti. Di sini kita adalah para mukmin pilihan yang dipanggil Allah untuk berjihad menegakkan kalimat-Nya. Keluarga ini tidak mengenal batas negara atau darah; yang ada hanyalah ukhuwah. Mulai hari ini, kamu bukan lagi penonton, kamu adalah bagian dari misi perjuangan umat. ”

Aku menatap layar lama sekali. Kata “misi” menancap di kepalaku. Aku tidak sadar, langkah kecil ini membawaku lebih dalam. Dunia luar mulai kabur. Yang jelas hanya dua: “kami” dan “mereka”.

Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar