Aku Sudah Berubah, tetapi Amarah Itu Masih Ada

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Ada satu hal yang belakangan ini kembali kusadari tentang diriku: perubahan tidak selalu berarti semua persoalan dalam diri telah selesai. Ada pemahaman yang sudah kuubah, kebencian yang telah kutinggalkan, dan cara pandang yang tidak lagi sama seperti dahulu. Namun dibalik itu, ada pula residu yang masih tertinggal di dalam kepala. Sesuatu yang belum sepenuhnya bisa kuhapus, meskipun aku tahu harus terus belajar mengelolanya.

Dulu, banyak orang menganggap persoalan terorisme hanyalah tentang ideologi dan pemahaman agama. Ketika pemahaman seseorang diluruskan, persoalannya dianggap selesai. Aku pernah berada dalam cara berpikir seperti itu. Namun, perjalanan hidup mengajarkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada pengalaman hidup, kekecewaan, dan ketidakmampuan mengelola emosi yang juga bisa memengaruhi pilihan seseorang.

Hari ini, aku tidak lagi menyimpan kebencian terhadap orang yang berbeda agama, keyakinan, maupun pilihan politik denganku. Aku belajar menerima bahwa setiap orang memiliki hak untuk berpikir dan menentukan pilihan hidupnya sendiri. Namun, bukan berarti semua kemarahan dalam diriku telah selesai.

Kemarahan terhadap Keadaan

Aku marah ketika melihat pemerintah seolah-olah abai terhadap penderitaan masyarakat tapi mesra dengan para pengusaha. Aku kecewa ketika aparat yang seharusnya melayani justru bersikap arogan. Aku juga marah melihat korupsi, politik uang, dan penyalahgunaan kekuasaan yang menjadikan kepentingan publik seolah-olah barang dagangan.

Dan, kekecewaan itu kian besar, bahkan hingga ke tingkat pemerintahan terkecil di daerahku. Ketika praktik semacam ini melibatkan orang-orang yang seharusnya memberikan teladan. Aku sulit memahami ketika jabatan dan dukungan diperjualbelikan, sementara kapasitas, tanggung jawab, dan kepentingan masyarakat justru dikesampingkan.

Hal yang sama kurasakan ketika melihat tokoh masyarakat, ustaz, atau kiai terlibat dalam praktik politik uang. Mereka memiliki pengaruh moral yang besar. Ucapan dan sikap mereka dapat membentuk pandangan banyak orang. Karena itu, aku berharap mereka mampu menjaga amanah tersebut.

Aku tidak sedang mengatakan bahwa semua pejabat, aparat, atau tokoh agama berperilaku demikian. Namun, ketika menyaksikan tindakan yang menurutku bertentangan dengan tanggung jawab mereka, ada kekecewaan yang sulit kuabaikan. Yang membuatku marah bukanlah perbedaan pandangan, melainkan ketika kekuasaan, jabatan, pengetahuan, dan pengaruh digunakan dengan cara yang menurutku mengkhianati kepentingan masyarakat.

Ketika Pikiran Bergerak Terlalu Jauh

Dalam keadaan seperti itu, pikiranku pernah bergerak ke arah yang tidak semestinya. Aku bahkan sempat berpikir, “Akan kubunuh politisi busuk dan para tokoh pengkhianat itu, mereka lah penjahat yang sebenarnya!”

Aku menuliskan ini bukan untuk membenarkan atau membanggakan pikiran tersebut. Aku ingin jujur bahwa pikiran itu kadang muncul sesaat ketika kemarahanku memuncak. Bahkan aku juga sempat membayangkan mencari dana lagi dan merangkul kembali rekan-rekan yang memiliki latar belakang terorisme.

Pengalaman masa lalu membuatku memahami bahwa kemarahan dapat mendorong seseorang mengambil keputusan yang dampaknya jauh lebih besar daripada yang dibayangkan saat itu. Karena itu, aku harus mampu membedakan antara mengkritik sesuatu yang kuanggap salah dan membiarkan kemarahan menentukan tindakanku.

Ironi dalam Keterlibatanku di Masyarakat

Ada ironi yang membuat persoalan ini terasa semakin rumit. Aku bukan orang yang hanya mengkritik keadaan dari kejauhan. Setelah melewati masa lalu yang kelam, aku justru ingin mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Aku ingin berguna bagi orang lain, berkontribusi di lingkungan tempat tinggalku, dan ikut memperbaiki keadaan melalui ruang-ruang yang tersedia. Aku ingin perubahan bukan sekadar menjadi bahan pembicaraan, melainkan sesuatu yang bisa kuupayakan bersama masyarakat.

Namun, keterlibatan itu juga membuatku berhadapan lebih dekat dengan kenyataan yang terkadang mengecewakan. Aku melihat bagaimana kepentingan dapat memengaruhi hubungan sosial, bagaimana jabatan dan pengaruh bisa berkelindan dengan kepentingan pribadi, serta bagaimana kenyataan tidak selalu sejalan dengan harapan tentang amanah dan tanggung jawab.

Aku ingin memperjuangkan hal-hal yang menurutku benar, tetapi tidak ingin perjuangan itu membuatku kembali dikuasai kemarahan. Aku ingin mengkritik perilaku yang keliru tanpa membiarkan kritik berubah menjadi kebencian. Aku juga harus menerima bahwa tidak semua persoalan bisa kuselesaikan, tidak semua orang memiliki nilai yang sama denganku, dan tidak semua orang akan berubah hanya karena aku kecewa kepada mereka.

Menerima kenyataan itu bukan berarti mudah berdamai dengannya. Aku masih bisa kesal dan mempertanyakan mengapa sesuatu terjadi. Namun, aku perlu menyadari bahwa aku bertanggung jawab atas caraku merespons keadaan tersebut.

Menarik Diri untuk Menjaga Diri

Karena itulah, aku memilih menarik diri dari orang-orang yang memicu kemarahanku. Keputusan ini bukan berarti aku membenci masyarakat atau tidak lagi ingin berkontribusi. Aku hanya menyadari bahwa ada situasi yang perlu kujauhi untuk sementara agar bisa menenangkan diri dan berpikir lebih jernih.

Aku tahu riwayat hidupku sendiri. Aku pernah membuat keputusan yang konsekuensinya sangat besar bagi diriku dan orang-orang terdekatku. Aku tidak ingin mengulangi pola yang sama hanya karena gagal mengelola kekecewaan.

Bagiku, menjaga jarak bukan berarti menyerah. Ada kalanya keberanian justru berarti mengetahui kapan harus berhenti, mengambil jarak, dan mengakui bahwa diri sendiri memiliki batas.

Aku juga tidak ingin menggeneralisasi kesalahan seseorang menjadi kebencian terhadap seluruh kelompok. Tidak semua pejabat adalah koruptor, tidak semua aparat bersikap arogan, dan tidak semua tokoh agama dan tokoh masyarakat berkhianat dan mengabaikan tanggung jawab moralnya. Perilaku harus dinilai berdasarkan tindakan, bukan semata-mata identitas atau kelompok.

Untuk saat ini, menarik diri adalah pilihan yang kuambil demi menjaga diriku dan orang lain. Aku belum tahu apakah kelak akan kembali terlibat lebih jauh dalam kegiatan kemasyarakatan atau memilih ruang pengabdian yang berbeda. Namun, aku tidak ingin kehilangan keinginan untuk berbuat baik hanya karena masih berjuang mengelola kemarahan.

Tetap Peduli Tanpa Kehilangan Kendali

Aku ingin tetap memiliki keberanian untuk mengkritik tanpa harus membenci. Aku ingin tetap peka terhadap ketidakadilan tanpa merasa harus menyelesaikan semuanya seorang diri. Aku ingin berkontribusi bagi masyarakat tanpa mengorbankan ketenangan batin dan keselamatan orang lain.

Mungkin, untuk saat ini, aku memang perlu mengambil jarak, mengamati, dan menata kembali diriku sebelum menentukan langkah selanjutnya. Namun, aku berharap jarak itu bukan berarti menyerah pada keinginan untuk berbuat baik.

Aku hanya sedang belajar menemukan cara yang lebih sehat untuk tetap peduli. Sebab, setelah semua yang pernah terjadi dalam hidupku, aku memahami bahwa perjuangan menjadi manusia yang lebih baik tidak berhenti ketika kita meninggalkan masa lalu yang kelam. Perjuangan itu juga berlangsung setiap kali kita berhadapan dengan kemarahan, kekecewaan, dan godaan untuk kembali memilih jalan yang salah.

Kali ini, aku ingin tetap peduli terhadap keadaan tanpa membiarkan kemarahan menguasai diriku. Aku ingin memperjuangkan perubahan tanpa kehilangan kendali atas diriku sendiri.[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar