Oleh: Vania
Baca kisah sebelumnya: Dari Trauma ke Riset: Langkah Pertamaku Meneliti Radikalisme dengan AI
Kalau paper pertama berangkat dari persoalan penyebaran narasi radikal, untuk paper kedua aku mencoba melihat isu ini dari sudut pandang yang berbeda. Kali ini, aku tertarik mengangkat persoalan yang berkaitan dengan psikologi, terutama tentang perempuan yang terdampak oleh radikalisme.
Sebenarnya, ketertarikanku pada isu ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengalaman melihat persoalan radikalisme dari dekat. Ada banyak hal yang membuatku memahami bahwa dampaknya tidak selalu berhenti pada peristiwa yang terlihat oleh orang lain. Di baliknya, ada pengalaman pribadi, perasaan yang mungkin sulit diungkapkan, dan proses panjang yang harus dilalui seseorang untuk kembali menjalani kehidupannya.
Aku kemudian mulai memikirkan perempuan-perempuan yang dirugikan oleh kelompok radikal. Kira-kira, apa yang mereka rasakan setelah mengalami berbagai hal yang mungkin tidak mudah diceritakan kepada orang lain? Bagaimana mereka menjalani hari-hari setelahnya? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana mereka bisa mendapatkan bantuan ketika bahkan untuk bercerita saja mungkin membutuhkan keberanian tersendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku berpikir tentang kemungkinan pemanfaatan AI dari sisi yang berbeda. Jika pada paper pertama aku mencoba mengeksplorasi bagaimana AI dapat membantu mengenali pola bahasa yang dimodifikasi untuk menyamarkan narasi radikal, kali ini aku ingin melihat bagaimana teknologi yang sama dapat dimanfaatkan untuk membantu orang-orang yang terdampak oleh persoalan tersebut.
Aku membayangkan bahwa tidak semua penyintas perempuan langsung merasa nyaman untuk menemui konselor atau psikolog. Bagi sebagian orang, membangun kembali kepercayaan terhadap orang lain bisa menjadi proses yang panjang. Ada yang mungkin takut ceritanya diketahui orang lain, khawatir akan dihakimi, atau sekadar belum siap membicarakan pengalaman yang pernah dialaminya. Tentu, setiap orang memiliki pengalaman dan kebutuhan yang berbeda, tetapi kemungkinan adanya hambatan semacam ini membuatku berpikir bahwa akses awal terhadap bantuan juga perlu mendapat perhatian.
Dari situ, aku mulai membayangkan AI sebagai semacam pintu pertama bagi penyintas yang ingin mencari dukungan. Bukan untuk menggantikan psikolog atau konselor, apalagi mengambil alih proses pemulihan trauma, melainkan sebagai sarana awal untuk memperoleh informasi, mengenali pilihan bantuan yang tersedia, dan mulai mencari dukungan sesuai kesiapan masing-masing.
Misalnya, seseorang yang belum siap menceritakan pengalamannya secara langsung dapat terlebih dahulu mencari informasi mengenai layanan pendampingan atau memahami pilihan bantuan psikologis yang tersedia. Ketika ia merasa lebih siap, AI dapat membantu mengarahkannya kepada konselor atau psikolog profesional. Dengan begitu, teknologi ini diharapkan dapat membantu mengurangi hambatan awal dalam mengakses bantuan, tanpa menghilangkan peran penting tenaga profesional dalam proses pendampingan.
Tentu saja, gagasan tersebut tidak sesederhana menyediakan ruang percakapan dengan AI. Ada persoalan privasi, keamanan data, dan batasan kemampuan teknologi yang perlu dipikirkan sejak awal. AI tidak boleh sembarangan memberikan diagnosis atau membuat penyintas merasa bahwa bantuan profesional tidak lagi diperlukan. Justru, sistem yang dirancang harus mampu mengenali batasannya dan mengarahkan pengguna kepada bantuan manusia ketika diperlukan.
Aku juga ingin gagasan ini memiliki landasan etika Islam. Bagiku, pendekatan Islami bukan sekadar menambahkan unsur keagamaan ke dalam teknologi, melainkan mempertimbangkan nilai-nilai seperti kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, menjaga privasi, dan tidak memperburuk penderitaan seseorang. Dukungan spiritual dapat menjadi bagian dari pilihan pendampingan bagi mereka yang menginginkannya, tetapi tetap tidak menggantikan bantuan psikologis profesional.
Dari pemikiran itulah aku merumuskan paper kedua dengan judul “Ekosistem AI untuk Perawatan Trauma dengan Pendekatan Islami bagi Penyintas Perempuan Radikalisme.” Gagasan ini masih berupa rancangan konseptual yang berusaha mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatan AI untuk mendukung akses awal terhadap bantuan bagi penyintas perempuan, dengan tetap memperhatikan kebutuhan mereka dan pentingnya pendampingan profesional.
Menariknya, kedua paper yang kusiapkan untuk konferensi ini akhirnya membawa dua sudut pandang yang berbeda. Paper pertama membahas kemungkinan penggunaan AI untuk membantu mengenali narasi radikal yang disamarkan, sedangkan paper kedua berangkat dari pertanyaan tentang bagaimana teknologi dapat membantu mereka yang terdampak oleh radikalisme.
Aku tidak menganggap kedua gagasan ini sebagai jawaban atas persoalan yang begitu kompleks. Masih banyak hal yang perlu dipelajari dan dikembangkan. Namun, melalui proses menyusun keduanya, aku mulai melihat bahwa ketertarikanku pada isu radikalisme tidak hanya membawaku untuk memahami bagaimana masalah itu muncul dan menyebar, tetapi juga mendorongku memikirkan bagaimana orang-orang yang terdampak dapat memperoleh dukungan.
Dan kalau dipikir-pikir, semua ini berawal dari sebuah pengumuman konferensi yang sempat membuatku ragu untuk mencoba. Saat itu, aku belum tahu sejauh apa proses ini akan membawaku. Aku hanya ingin mencoba mengambil kesempatan yang ada, belajar dari prosesnya, dan melihat apakah gagasan yang kupikirkan bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang bermanfaat.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar