Ada perbedaan besar antara bekerja untuk menyelesaikan sebuah persoalan dan bekerja di atas sebuah persoalan. Yang pertama menuntut kesabaran, ketekunan, dan kesediaan berada jauh dari sorotan. Yang kedua lebih mudah terlihat karena penuh kegiatan, dokumentasi, dan pencapaian yang bisa dipamerkan.
Dalam isu radikalisme, perbedaan itu bukan perkara kecil. Ia menentukan apakah kita sedang membangun perubahan atau sekadar membangun kesan. Jangan sampai isu yang seharusnya kita selesaikan justru berubah menjadi peluang untuk membangun citra, memperluas jaringan, menyerap anggaran, bahkan mendongkrak jabatan.
Kritik ini mungkin terdengar keras. Tetapi persoalan radikalisme terlalu serius jika hanya dibicarakan dengan bahasa yang nyaman. Ia menyangkut keselamatan manusia, ketahanan masyarakat, persatuan bangsa, dan masa depan generasi muda.
Saya berbicara bukan dari luar pagar. Saya berinteraksi dengan program deradikalisasi sejak 2010, ketika saya ditangkap dan menjalani proses hukum. Sejak saat itu saya mengikuti perjalanan program deradikalisasi di Indonesia, baik terhadap narapidana terorisme di dalam lembaga pemasyarakatan maupun mereka yang telah bebas dan kembali ke masyarakat. Saya juga mengikuti berbagai kegiatan pencegahan di lingkungan masyarakat, kampus, kota, hingga desa.
Dari pengalaman panjang tersebut, saya melihat banyak orang bekerja dengan tulus. Banyak aparat, akademisi, tokoh agama, aktivis, dan masyarakat yang mencurahkan tenaga untuk mencegah berkembangnya ekstremisme. Kerja mereka patut dihargai.
Namun justru karena itulah evaluasi harus terus dilakukan.
Pencegahan radikalisme jangan sampai berubah menjadi proyek yang hidup ketika anggaran tersedia dan mati ketika anggaran berakhir. Jangan pula menjadi program yang ramai ketika seorang pejabat membutuhkannya, lalu kehilangan arah ketika pejabat tersebut berganti.
Sebab radikalisme tidak mengenal siklus anggaran.
Ideologi kekerasan tidak menunggu pergantian pejabat.
Dan manusia tidak berubah hanya karena pernah menghadiri seminar.
Saya memahami hal itu dari pengalaman pribadi. Perubahan pemahaman dan perilaku seseorang bukan proses instan. Seseorang yang bertahun-tahun hidup dalam lingkungan tertentu, menerima doktrin tertentu, dan membangun identitas di dalam kelompok tertentu tidak mungkin berubah hanya melalui satu atau dua pertemuan.
Perubahan membutuhkan waktu, kesabaran, dan pendampingan.
Inilah salah satu persoalan yang menurut saya perlu mendapat perhatian serius. Tidak sedikit program deradikalisasi dimulai dengan semangat besar: seminar digelar, pelatihan dilakukan, peserta dikumpulkan, dokumentasi dibuat, dan laporan disusun. Semua terlihat aktif.
Tetapi apa yang terjadi setelah kegiatan selesai?
Di situlah ukuran sebenarnya.
Ketika anggaran berakhir, apakah pendampingan tetap berjalan? Ketika pejabat berganti, apakah program tetap berlanjut? Ketika kamera tidak lagi hadir, apakah negara dan masyarakat masih memberikan perhatian?
Pertanyaan itu penting, terutama bagi mantan narapidana terorisme yang sedang menjalani proses reintegrasi.
Mereka tidak hanya membutuhkan perubahan pemahaman. Mereka harus kembali menghadapi kehidupan nyata: mencari pekerjaan, membangun hubungan keluarga, menghadapi stigma, mengurus pendidikan anak, dan mendapatkan lingkungan sosial yang sehat.
Mereka membutuhkan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya telah berubah.
Karena itu, reintegrasi tidak cukup dilakukan melalui seminar dan pelatihan singkat. Mereka membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan dan ruang nyata untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat.
Jangan sampai mereka hanya menjadi objek kegiatan: dipanggil ketika ada acara, dilibatkan ketika ada seminar, difoto ketika ada kunjungan, kemudian ditinggalkan ketika kegiatan selesai.
Jika itu terjadi, program berisiko lebih banyak menghasilkan dokumentasi daripada perubahan.
Kita harus mengubah ukuran keberhasilan. Jangan hanya bertanya berapa kegiatan yang telah dilakukan atau berapa peserta yang hadir. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang berubah setelah kegiatan itu?
Apakah masyarakat semakin tahan terhadap propaganda ekstremisme?
Apakah generasi muda semakin kritis terhadap ajakan kekerasan?
Apakah keluarga semakin memiliki kemampuan mendeteksi dan mencegah paparan ekstremisme?
Apakah mantan pelaku benar-benar mendapatkan kesempatan untuk hidup produktif?
Jika jawabannya tidak jelas, kita perlu melakukan evaluasi.
Persoalan menjadi lebih serius ketika pencegahan mulai berorientasi pada pencitraan. Kegiatan dibuat sebanyak mungkin karena mudah dihitung. Dokumentasi diperbanyak karena mudah dipublikasikan. Laporan disusun dengan bahasa keberhasilan karena mudah dipertanggungjawabkan secara administratif.
Pada titik tertentu, pencegahan radikalisme dapat berubah menjadi industri kegiatan: anggaran harus terserap, program harus terlihat, nama harus muncul, jaringan harus bertambah, dan jabatan harus meningkat.
Di sinilah kita harus berhenti sejenak.
Tidak ada yang salah dengan seseorang memperoleh promosi jabatan karena prestasi. Tetapi menjadi persoalan ketika jabatan menjadi tujuan, sementara isu radikalisme hanya dijadikan kendaraan untuk mencapainya.
Sebab kerja pencegahan yang paling penting justru sering tidak terlihat. Mendampingi keluarga, membantu seseorang memperoleh pekerjaan, membangun kembali kepercayaan masyarakat, memperkuat komunitas, dan menjaga komunikasi dalam jangka panjang bukan pekerjaan yang selalu menghasilkan foto atau berita.
Namun di situlah keberhasilan sesungguhnya dibangun.
Karena itu, negara perlu membangun sistem pencegahan yang lebih kuat daripada kepentingan personal dan lebih panjang daripada masa jabatan. Program tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang memimpin.
Pemerintah juga tidak dapat bekerja sendiri. Tokoh agama, keluarga, sekolah, kampus, organisasi masyarakat, media, akademisi, aparat keamanan, mantan pelaku, dan generasi muda harus menjadi bagian dari ekosistem pencegahan.
Tetapi kolaborasi harus dibangun berdasarkan kompetensi, integritas, dan pengalaman nyata, bukan semata-mata kedekatan dengan kekuasaan.
Kritik ini bukan untuk menafikan kerja keras mereka yang selama ini bekerja dengan tulus. Justru kritik diperlukan agar kerja besar pencegahan radikalisme tidak kehilangan tujuan.
Pencegahan adalah investasi jangka panjang. Ia bukan proyek tahunan, bukan kegiatan seremonial, dan bukan tangga jabatan.
Ukuran keberhasilannya juga bukan seberapa tebal laporan yang dihasilkan atau seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan.
Ukuran keberhasilannya adalah seberapa kuat masyarakat menghadapi propaganda kekerasan dan seberapa banyak manusia yang berhasil menemukan jalan pulang.
Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak membutuhkan orang yang menjadikan radikalisme sebagai peluang untuk menaikkan posisi.
Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh agar radikalisme tidak lagi menjadi masalah.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar