Dari Trauma ke Riset: Langkah Pertamaku Meneliti Radikalisme dengan AI

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Aku Kecewa, Tapi Ternyata Aku Berhasil

Butuh waktu yang cukup lama setelah kegagalan dalam pengajuan grant untuk akhirnya aku kembali berani mengambil peluang. Aku masih ingat, saat itu jadwal Ujian Tengah Semester (UTS) sudah semakin dekat. Puluhan modul masih harus kuselesaikan, ditambah lima tugas esai ilmiah yang belum selesai kukerjakan. Di tengah kesibukan itu, aku melihat sebuah pengumuman di grup tentang call for papers untuk sebuah konferensi ilmiah.

Bagi yang belum familier, call for papers merupakan ajakan bagi mahasiswa, peneliti, maupun akademisi untuk mengirimkan karya ilmiah sesuai tema yang ditentukan. Karya yang lolos seleksi berkesempatan dipresentasikan dalam konferensi, sebuah forum untuk berbagi hasil penelitian dan bertukar gagasan dengan peserta lain.

Sejujurnya, saat itu aku tidak langsung tertarik untuk ikut. Aku belum pernah mengikuti konferensi, apalagi mengirimkan paper untuk diseleksi. Aku juga belum tahu bagaimana prosesnya dan apa saja yang perlu dipersiapkan. Namun, ada rasa penasaran yang membuatku mempertimbangkan kesempatan tersebut. Entah ini sebuah kenekatan atau memang aku yang cenderung tertarik mencoba hal-hal baru, akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Karena belum punya pengalaman, aku mengajak seorang kakak tingkat yang sudah pernah mengikuti konferensi untuk berkolaborasi.

Ada satu hal yang membuatku semakin gugup: konferensi yang ingin kuikuti merupakan konferensi internasional. Aku yang belum pernah punya pengalaman di forum seperti ini tiba-tiba ingin mengirimkan paper untuk forum ilmiah berskala internasional. Terbayang, kan, bagaimana bingungnya aku saat itu? Aku belum tahu harus mulai dari mana, bagaimana menyusun paper yang layak diajukan, atau seperti apa proses yang akan kuhadapi nantinya. Sementara itu, tugas kuliah tetap menunggu untuk diselesaikan.

Tema konferensi kali itu adalah artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Temanya cukup luas dan bisa dikaji dari berbagai disiplin ilmu. Tantangannya adalah menemukan persoalan yang bisa kuhubungkan dengan AI, tetapi tetap relevan dengan bidang yang selama ini menjadi perhatianku, yaitu radikalisme.

Ketertarikanku pada isu ini bukan tanpa alasan. Aku pernah melihat persoalan radikalisme dari dekat, sehingga beberapa pola penyebaran narasi dan penggunaan bahasa tertentu terasa cukup familier bagiku. Pengalaman tersebut membuatku tertarik mempelajari lebih jauh bagaimana narasi semacam ini berkembang dan disebarkan, termasuk hal-hal yang mungkin tidak langsung terlihat oleh orang yang hanya mengenalnya melalui berita atau bacaan.

Ketika mencari ide untuk paper pertama, aku teringat pada penggunaan kode atau modifikasi bahasa dalam penyebaran narasi kelompok radikal. Misalnya, istilah ISIS yang ditulis menggunakan angka tertentu atau kata jihad yang dimodifikasi menjadi bentuk seperti j1h4d. Perubahan semacam ini dapat menyulitkan pencarian dan identifikasi konten, terutama jika hanya mengandalkan kata kunci yang umum.

Dari situ, muncul pertanyaan di benakku: apakah AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mengenali narasi radikal yang sengaja disamarkan melalui modifikasi bahasa?

Aku mulai menelusuri penelitian terdahulu dan mencari referensi yang relevan. Prosesnya tidak sebentar karena aku harus memahami persoalan yang ingin diangkat sekaligus mencari kemungkinan pendekatan yang dapat digunakan. Aku juga ingin penelitian ini mempertimbangkan etika Islam, terutama agar penggunaan istilah keislaman tidak serta-merta dianggap sebagai indikator radikalisme tanpa melihat konteksnya.

Dari proses itulah lahir paper yang kuajukan dengan judul “Decoding Encrypted Radical Narratives: An AI-Based Early Detection Model within Islamic Ethical Frameworks.” Penelitian ini berangkat dari gagasan untuk mengeksplorasi model deteksi dini berbasis AI dalam mengenali narasi radikal yang disamarkan, dengan tetap mempertimbangkan kerangka etika Islam.

Saat itu, aku masih harus membagi waktu antara menyusun paper, menyelesaikan tugas kuliah, dan mempersiapkan UTS. Banyak hal yang belum kupahami, tetapi semuanya menjadi bagian dari proses belajar yang baru bagiku. Aku belum tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Yang jelas, setelah sempat ragu untuk mengambil peluang baru, kali ini aku memilih untuk mencoba.

Ternyata, paper pertama bukan satu-satunya penelitian yang kusiapkan untuk konferensi ini. Ada satu paper lagi yang juga berangkat dari ketertarikanku pada isu yang selama ini kupelajari, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar