ISIS vs al-Qaeda: Ketika Teroris Berebut Kuasa dan Saling Membinasakan

Analisa

by Ilham Alfarizi Editor by Arif Budi Setyawan

Ada sebuah peristiwa menarik sekaligus membingungkan yang terjadi beberapa hari lalu, tepatnya pada 12 Oktober 2026. Outlet media resmi ISIS, Amaq News Agency, mengklaim bahwa pasukan mereka di wilayah "Sahil" berhasil menewaskan 400 personel JNIM (Jama’ah Nusratul Islam wal Muslimin), kelompok yang terafiliasi dengan al-Qaeda, termasuk para perwira lapangannya. Selain itu, ISIS juga mengklaim telah membakar sekitar 300 kendaraan bermotor milik kelompok yang mereka sebut sebagai "Milisi al-Qaeda" tersebut di Desa Ganadouri, Provinsi Oudalan, Burkina Faso.

Bagi masyarakat awam, peristiwa semacam ini tentu sangat membingungkan. Bagaimana mungkin kelompok-kelompok yang sama-sama dikategorikan sebagai organisasi teroris justru saling bertempur dan membantai satu sama lain? Namun, bagi para pengamat yang telah lama memantau gerakan terorisme global, khususnya di benua Afrika, pertumpahan darah antar-kedua kelompok ini bukanlah hal yang baru. Walaupun demikian, insiden terbaru yang menelan korban jiwa hingga 400-an orang ini tetap menjadi kabar yang sangat mengejutkan dan memperlihatkan eskalasi konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dari Sekutu Menjadi Musuh Bebuyutan

Secara historis, al-Qaeda dan ISIS sebenarnya pernah menjalin kerja sama di kawasan Sahil, sebuah fenomena persatuan yang sering dijuluki para pengamat sebagai Sahelian Anomaly. Namun, perpecahan parah dan pertempuran terbuka mulai meletus sejak pertengahan 2019 hingga 2020 akibat beberapa faktor kunci.

Perbedaan mendasar pertama terletak pada ideologi dan penerapan fiqih jihad. Cabang ISIS di wilayah ini (ISSP) menerapkan paham takfirisme yang sangat ekstrem sehingga amat mudah mengafirkan sesama Muslim, tidak segan membantai warga sipil lokal yang tidak mendukung mereka, serta menuntut kepatuhan mutlak kepada "Khalifah" mereka. Sebaliknya, al-Qaeda melalui JNIM cenderung menggunakan pendekatan lokal yang lebih pragmatis. Mereka memilih merangkul suku-suku setempat serta secara terbuka menentang metode pembantaian brutal ala ISIS terhadap populasi Muslim sipil.

Perebutan Lahan dan Saling Tuding

Selain benturan ideologi, bentrokan ini juga didorong oleh persaingan pragmatis atas wilayah dan sumber daya. Kedua kelompok saling berebut kontrol atas rute penyelundupan strategis di kawasan Gurun Sahara, jalur perdagangan, wilayah pertambangan emas, hingga hak memungut pajak atau zakat paksaan dari desa-desa setempat.

Tensi perselisihan ini kian meruncing ketika terjadi gelombang pembelotan (defection), di mana milisi dari faksi-faksi lokal seperti Katiba Macina milik al-Qaeda memutuskan mengalihkan kesetiaan (bai’at) mereka kepada ISIS. Situasi diperparah oleh aksi saling tuduh di antara keduanya; ISIS secara rutin menuduh al-Qaeda dan JNIM berkolaborasi atau bernegosiasi dengan pemerintah lokal dan militer Afrika demi memojokkan posisi ISIS di kawasan tersebut.

Perang Total Demi Dominasi Tunggal

Klaim tewasnya 400 pejuang JNIM di wilayah utara Burkina Faso, dekat perbatasan Mali dan Niger, menjadi bukti betapa sengitnya perang saudara antar-jihadis ini. Para pengamat dan pakar PBB bahkan mencatat pertikaian ini sebagai salah satu konfrontasi langsung paling masif dan berdarah antara cabang al-Qaeda dan ISIS di dunia saat ini. Peristiwa ini mempertegas bahwa permusuhan mereka tidak lagi sekadar persaingan propaganda di media, melainkan telah menjadi perang total untuk saling memusnahkan (existential warfare) demi memperebutkan dominasi tunggal atas jaringan ekstremis di kawasan Sahel dan Afrika Barat.

Wajah Asli Gerakan Ekstremis

Pada akhirnya, fenomena ini menegaskan betapa rapuhnya sekaligus ekstremnya dinamika di dalam gerakan-gerakan terorisme. Ideologi radikal yang mereka usung terbukti sangat mudah memicu provokasi dan doktrinasi yang menghalalkan darah sesama, bahkan terhadap kelompok yang sebenarnya memiliki landasan dan cita-cita yang serupa. Ketika pragmatisme kekuasaan, perebutan wilayah, dan fanatisme doktrinal saling berbenturan, klaim "perjuangan bersama" itu pun runtuh seketika, berubah menjadi pertumpahan darah yang saling membinasakan.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar