Saat Kekuasaan Menormalisasi Bahasa Merendahkan

Analisa

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Jumat malam, 18 September 2026, di Jakarta International Convention Center. Ribuan kader Partai Amanat Nasional berkumpul merayakan ulang tahun ke-28 partainya. Presiden Prabowo Subianto berbicara tentang sumpahnya untuk membuat Indonesia sejahtera, tentang anak-anak yang tidak boleh berangkat sekolah dalam keadaan lapar. Lalu, di tengah kalimat itu, ia berbelok. “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” ujarnya (Suara.com, 2026). Ruangan itu tidak hening, pidato itu disambut tepuk tangan dan tawa.

Dalam hitungan jam, klip itu menyebar. Sebagian membelanya sebagai gaya bicara apa adanya. Sebagian mengecam sebagai anti-intelektualisme. Tapi ada satu hal yang luput dari kedua kubu ini, bahwa di ruangan itu, dan di jutaan layar telepon genggam yang menontonnya sesudahnya, sedang berlangsung sebuah pelajaran. Bukan pelajaran tentang grammar, atau komunikasi publik. Ini pelajaran tentang bagaimana orang dewasa — termasuk yang berdiri di puncak kekuasaan — memperlakukan orang yang berbeda pandangan dengannya. Dan anak-anak kita sedang ikut menontonnya.

Kurikulum yang Tidak Pernah Ditulis

Dalam psikologi perkembangan, Albert Bandura menyebutnya observational learning — anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan langsung kepadanya, tetapi dari apa yang ia saksikan, terutama dari figur yang dipandang berstatus tinggi dan yang perilakunya mendapat ganjaran sosial (Bandura, 1977). Semakin tinggi status figur itu, semakin kuat efek pemodelannya. Semakin jelas ganjaran yang diterimanya — tepuk tangan, tawa, viralitas tanpa sanksi — semakin kuat pula pesan yang tertanam bahwa “ini perilaku yang boleh, bahkan layak ditiru.” (Bandura, 1977).

Kita bisa menyebutnya kurikulum yang tidak pernah ditulis di buku pelajaran mana pun. Tidak ada sekolah yang mengajarkan cara merendahkan orang yang tidak sependapat sebagai mata pelajaran. Tapi anak-anak tetap mempelajarinya — dari linimasa, dari klip yang dibagikan ulang di grup keluarga, dari panggung-panggung yang menyorakinya. Ironi terbesarnya justru di situ: sementara negara mendorong anak-anak untuk sekolah, untuk menjadi pintar, kepakaran — buah paling nyata dari proses belajar itu sendiri — justru dijadikan bahan olok-olok di panggung tertinggi kekuasaan.

Ini bukan berarti setiap anak yang menonton klip itu otomatis akan tumbuh menjadi pribadi yang gemar merendahkan orang lain. Hubungannya tidak sesederhana itu. Tapi sebagai faktor risiko, dampaknya nyata, hal ini menggeser ambang batas tentang apa yang dianggap wajar. Ketika seorang anak terbiasa melihat kekasaran verbal tidak dikoreksi — bahkan diberi validasi — ia belajar bahwa merendahkan pihak yang berbeda adalah respons yang sah terhadap ketidaksepakatan (Bandura, 1977). Dan dari situlah jalan menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya mulai terbentuk.

Dari Merendahkan Individu ke Mendehumanisasi Kelompok

Di sinilah persoalan ini menyentuh langsung wilayah kerja Prevention/Countering Violent Extremism (P/CVE). Akar dari kekerasan kolektif — baik dalam bentuk terorisme, persekusi kelompok minoritas, maupun kekerasan berbasis identitas — hampir selalu diawali oleh satu proses kognitif yang sama: dehumanisasi, yakni proses mengingkari kemanusiaan penuh pihak lain sehingga ia dipandang berada di luar batas kepedulian moral (Haslam, 2006). Pihak yang berbeda tidak lagi dipandang sebagai lawan bicara yang setara, melainkan sebagai sesuatu yang lebih rendah, yang boleh — bahkan layak — direndahkan, disingkirkan, atau bahkan dilenyapkan.

Kata “goblok” yang dilontarkan kepada pakar tentu saja jauh dari ujaran kebencian berbasis SARA, dan tidak adil jika kita menyamakan levelnya dengan pidato-pidato ekstremis yang secara eksplisit menyerukan kekerasan. Tapi keduanya berbagi mekanisme psikologis yang sama, hanya berbeda derajat: proses mengubah “yang berbeda pendapat” menjadi “yang layak direndahkan” (Haslam, 2006). Bedanya cuma soal seberapa jauh proses itu dibiarkan berjalan, dan seberapa sering ia diulang tanpa koreksi.

Riset tentang hostile attribution bias menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa dengan bahasa merendahkan cenderung lebih mudah menafsirkan situasi ambigu sebagai bentuk permusuhan — dan dari sana, lebih mudah pula membenarkan respons yang keras terhadap pihak yang mereka anggap bermusuhan (Crick & Dodge, 1994). Ini bukan proses yang terjadi dalam semalam. Ini terbentuk dari pengulangan kecil, dari ribuan momen sehari-hari di mana kekasaran dibiarkan lewat begitu saja—di rumah, di sekolah, di layar telepon genggam, dan ya, di panggung kenegaraan.

Selama beberapa bulan terakhir, saya berkeliling Banten dan sejumlah wilayah di Jawa Barat, membawa pesan sosialisasi empat pilar kebangsaan dengan tema peran keluarga dalam menjaga keutuhan NKRI. Salah satu pesan intinya sederhana: keluarga adalah benteng pertama melawan intoleransi, dan salah satu cara paling konkret untuk mewujudkannya adalah membiasakan diri tidak berkata kasar, tidak merendahkan orang yang berbeda pandangan. Namun di saat yang sama, dari mulut seorang presiden, kata-kata yang justru kita minta orang tua hindari itu meluncur bebas, dan disambut gegap gempita.

Ini bukan alasan untuk berhenti menyampaikan pesan itu ke keluarga-keluarga yang saya temui. Justru sebaliknya — inilah alasan mengapa pesan itu harus disampaikan lebih keras lagi, dengan kesadaran penuh bahwa kita sedang berlomba melawan model yang jauh lebih besar dan lebih terlihat daripada nasihat siapa pun di ruang keluarga. Keluarga tidak bisa mengandalkan keteladanan datang dari atas. Ia harus dibangun dari bawah, justru karena dari atas belum tentu bisa diharapkan.

Anak-anak kita akan terus menonton siapa pun yang berbicara dari panggung yang tinggi. Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan belajar sesuatu dari situ —mereka pasti belajar. Pertanyaannya adalah, siapa yang akan lebih dulu mengajarkan mereka bahwa berbeda pendapat tidak pernah menjadi alasan untuk saling merendahkan: panggung kekuasaan, atau ruang keluarga tempat mereka pulang setiap hari.[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar