Aku Kecewa, Tapi Ternyata Aku Berhasil

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Tetap Melangkah Meski Gemetar

Butuh waktu lebih dari tiga bulan sampai akhirnya aku mendapatkan hasil atau pengumuman terkait proposal international grant tersebut. Selama masa menunggu itu, aku sebenarnya berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Aku memilih untuk kembali fokus pada kuliah, mengejar berbagai target akademik, dan belajar lebih banyak tentang kepenulisan ilmiah.

Bukan berarti aku tidak penasaran dengan hasilnya. Beberapa kali aku sempat merasa khawatir. Entahlah, mungkin sebenarnya aku takut. Takut berharap terlalu tinggi, takut kecewa, atau mungkin takut mengetahui bahwa sesuatu yang sudah aku perjuangkan dengan begitu banyak tenaga ternyata belum berhasil.

Sejak awal aku memang sadar bahwa kemungkinan untuk lolos pendanaan cukup kecil. Tetapi tetap saja, di dalam hati masih ada harapan. Aku masih berharap semoga ada keajaiban, semoga proposal yang sudah aku kerjakan dengan sebaik yang aku mampu akhirnya diterima dan mendapatkan pendanaan.

Aku masih ingat dengan jelas isi proposal tersebut. Salah satu program yang kami rancang adalah menghadirkan webinar nasional dan internasional mengenai pencegahan penyebaran paham radikalisme, khususnya di kalangan generasi muda. Hampir seluruh rangkaian program itu aku yang menyusun dan pikirkan sejak awal. Mulai dari konsep kegiatan, bentuk program, pihak-pihak yang ingin dilibatkan, hingga bagaimana project tersebut nantinya dapat memberikan manfaat.

Tentu saja, aku tidak mengerjakannya sendirian. Ada banyak orang yang kemudian ikut membantu, memberikan masukan, mendukung ide yang aku bawa, dan bersedia menjadi bagian dari project tersebut. Mereka hadir di tengah proses yang cukup panjang dan membantu membuat gagasan yang awalnya hanya ada di kepala menjadi sesuatu yang lebih konkret.

Harapanku sebenarnya sederhana. Aku ingin proposal ini membawa manfaat, khususnya bagi generasi muda. Aku ingin bisa memberikan kontribusi, meskipun kecil, dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme. Aku tahu satu project tidak akan serta-merta menyelesaikan persoalan sebesar itu. Tetapi aku percaya bahwa perubahan juga selalu dimulai dari langkah-langkah kecil.

Mungkin alasan mengapa aku begitu ingin terus berjalan di isu ini juga karena aku tahu rasanya menjadi seseorang yang terdampak.

Aku pernah berada di posisi itu. Aku pernah mengalami bagaimana suara seseorang dapat dibungkam, bagaimana pendapat dan sudut pandang dapat perlahan diubah, bahkan bagaimana sebuah paham dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya.

Karena itu, bagi aku, isu ini bukan sekadar tema penelitian atau topik yang kebetulan menarik untuk diangkat dalam sebuah proposal. Ada pengalaman personal di dalamnya. Ada sesuatu yang pernah aku alami dan pahami dari dekat. Dan mungkin justru karena itu pula, aku memiliki alasan yang cukup kuat untuk terus belajar, terus bersuara, dan berusaha mengambil bagian dalam upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme.

Sampai akhirnya, hari pengumuman yang selama lebih dari tiga bulan aku nantikan itu tiba.

Kalian bisa menebak hasilnya?

Ya, qadarullah, proposal kami belum berhasil mendapatkan pendanaan.

Jujur, aku menangis.

Ada rasa kecewa, tentu saja. Bagaimanapun, setelah lebih dari tiga bulan menunggu, masih ada harapan yang diam-diam aku simpan. Ada bagian dari diriku yang tetap berharap nama project kami akan muncul sebagai salah satu penerima pendanaan.

Tetapi di balik rasa kecewa itu, ternyata ada satu hal yang justru membuatku bangga.

Proposal kami berhasil lolos hingga tahap assessment.

Dan ternyata, alasan proposal kami belum mendapatkan pendanaan bukan karena ide yang kami bawa dianggap buruk. Bukan pula karena rencana program yang kami susun dinilai tidak layak. Masih ada beberapa aspek dalam proposal yang dinilai perlu diperkuat dan disempurnakan.

Entah kenapa, mengetahui hal itu justru membuatku kembali menangis, tetapi kali ini dengan perasaan yang berbeda.

Ternyata proposal yang selama ini sempat membuatku ragu itu mampu melewati tahap yang sejak awal bahkan tidak berani aku pastikan bisa kami lewati.

Aku memang belum mendapatkan pendanaan yang aku harapkan. Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang tidak kalah berarti: keyakinan bahwa ide yang aku perjuangkan ternyata layak untuk didengar dan dipertimbangkan.

Bahwa project yang aku susun bersama banyak orang itu bukan sesuatu yang sia-sia.

Dan bahwa tidak mendapatkan pendanaan bukan berarti seluruh perjuangan yang dilakukan sebelumnya menjadi gagal.

Kadang, kita hanya belum sampai pada hasil yang kita inginkan.

Mungkin Allah memang sedang mengajarkan sesuatu melalui proses ini. Bahwa aku tidak harus selalu mendapatkan apa yang aku harapkan untuk bisa disebut berhasil. Ada kalanya pencapaian justru terletak pada keberanian untuk mencoba, bertahan, dan membawa sesuatu sampai sejauh yang kita mampu.

Untuk sebuah perjalanan yang sejak awal bahkan hampir membuatku menyerah, bisa sampai ke tahap assessment saja sudah menjadi hadiah yang sangat berarti.

Jadi, meskipun hari itu aku menangis karena proposal kami belum berhasil mendapatkan pendanaan, di balik tangis itu ternyata ada sedikit rasa bangga.

Karena ternyata, aku bisa sampai sejauh itu...[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar