Oleh: Nasya
Baca kisah sebelumnya: Saat Foto Rumahku Muncul di Berita
Ingatan ku kemudian berjalan mundur pada beberapa kejadian sebelumnya. Tentang temannya yang ditangkap. Tentang malam ketika Farhan menghilang dari hotel. Tentang ketakutannya untuk menggunakan telepon. Tentang wajahnya setiap kali mendengar berita penangkapan. Tentang pertanyaan-pertanyaanku yang selama ini selalu dijawab dengan penyangkalan.
Saat itu semua kejadian tersebut seperti potongan-potongan yang mulai tersusun menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Namun meskipun ada begitu banyak tanda yang seharusnya membuatku memahami keadaan, aku tetap belum mampu menerima kenyataan itu sepenuhnya.
Yang paling membuatku bingung adalah perasaanku sendiri. Aku tidak tahu apakah aku seharusnya marah kepada Farhan karena telah menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak tahu apakah aku harus takut karena ternyata kehidupan yang selama ini kujalani bersama suamiku memiliki sisi yang tidak pernah benar-benar kupahami. Aku bahkan tidak tahu apakah aku harus menerima bahwa penangkapan itu memang merupakan konsekuensi dari sesuatu yang salah.
Semua emosi bercampur menjadi satu. Takut, bingung, sedih, marah, khawatir, sekaligus masih ada rasa ingin membela orang yang selama ini kuanggap sebagai tempatku bergantung. Aku belum mampu memisahkan mana perasaan sebagai seorang istri yang kehilangan suaminya dan mana kesadaran sebagai seseorang yang mulai berhadapan dengan kenyataan tentang lingkungan yang selama ini dipercayainya.
Hari itu aku seperti kehilangan pijakan. Selama beberapa waktu sebelumnya, aku merasa hidupku memiliki arah yang jelas. Aku tahu siapa yang harus kuikuti, apa yang harus kupercayai, dan bagaimana seharusnya aku menjalani hidup. Bahkan ketika banyak hal dalam hubunganku dengan Farhan terasa menyakitkan, aku tetap berusaha mempertahankannya karena aku percaya bahwa di balik semua itu ada sesuatu yang benar dan sedang kami perjuangkan.
Tetapi hari itu, semuanya kembali runtuh. Sebelumnya aku sudah pernah hancur ketika mengetahui perselingkuhan Farhan dan harus berhadapan dengan kenyataan bahwa orang yang selama ini kupercaya ternyata bisa menyakitiku sedemikian dalam. Kali ini, kenyataan lain datang ketika aku bahkan belum selesai memahami luka yang sebelumnya.
Aku memang tahu Farhan seperti apa dalam banyak hal, tetapi aku tidak pernah benar-benar tahu sejauh apa keterlibatannya dalam semua yang sedang terjadi. Aku tidak tahu apa saja yang pernah ia lakukan atau sejauh mana dirinya terlibat di dalam lingkaran yang selama ini kuanggap sebagai bagian dari perjuangan yang benar.
Yang kutahu hari itu hanya bahwa Farhan telah ditangkap, dan kenyataan itu kembali menghantamku begitu keras. Setelah semua yang terjadi sebelumnya, aku kembali dihadapkan pada sesuatu yang sama sekali tidak siap kuterima. Dan untuk kesekian kalinya, aku harus menerima kenyataan bahwa hidupku kembali hancur.
Sejak sore hingga malam hari, aku hampir tidak beranjak dari ruang tamu. Aku hanya duduk di tempat yang sama, sesekali menangis, lalu kembali diam. Rasanya tidak ada lagi tenaga untuk melakukan apa pun. Orang-orang yang sejak siang datang ke rumah sudah mulai pergi, tetapi kepalaku masih penuh dengan suara mereka, pertanyaan para wartawan, berita yang kulihat di Facebook, dan satu kenyataan yang terus berputar di pikiranku bahwa Farhan telah ditangkap.
Aku bahkan tidak tahu harus memikirkan apa terlebih dahulu. Setiap kali mencoba menyusun kejadian-kejadian yang terjadi beberapa waktu terakhir, semuanya seperti bertabrakan di dalam kepala. Tentang temannya yang ditangkap, tentang malam ketika ia menghilang dari hotel, tentang ketakutannya menggunakan telepon, dan sekarang tentang dirinya sendiri yang benar-benar dibawa oleh Densus. Aku sudah terlalu lelah untuk mencari jawabannya. Malam itu aku hanya ingin berhenti berpikir.
Entah berapa kali aku menangis sampai akhirnya tubuhku benar-benar kelelahan. Aku baru bisa tertidur setelah waktu subuh. Tidur itu pun bukan karena aku sudah merasa tenang, melainkan karena tubuhku seolah sudah tidak sanggup lagi menahan semua yang terjadi.
Ketika akhirnya aku terbangun, aku masih berada dalam keadaan setengah sadar. Beberapa saat aku hanya menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar memahami di mana aku berada. Sampai aku merasakan pipiku basah. Air mata masih menempel di wajahku, bahkan bantal yang kupakai juga sudah basah. Rupanya ketika tertidur pun aku masih menangis.
Saat itu, untuk beberapa detik aku kembali berharap bahwa semua yang terjadi kemarin hanyalah mimpi. Aku ingin percaya bahwa ketika aku membuka mata, semuanya akan kembali seperti semula. Aku ingin bangun dan mendapati Farhan masih ada di rumah, lalu semua berita tentang penangkapan itu ternyata tidak pernah terjadi.
Tetapi harapan itu hanya bertahan sebentar. Ingatanku perlahan kembali pada kejadian hari sebelumnya. Foto rumah kami yang muncul di berita. Wartawan yang memenuhi halaman. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan kepadaku. Tatapan orang-orang yang melihat rumah kami dengan penuh kebencian. Dan yang paling sulit kuterima, Farhan memang tidak ada di rumah. Ia benar-benar telah dibawa pergi.
Saat itulah aku sadar bahwa aku tidak sedang terbangun dari sebuah mimpi. Aku justru sedang terbangun untuk menghadapi kenyataan yang sejak kemarin berusaha kutolak.
Tidak lama setelah aku bangun, beberapa orang datang ke rumah. Kali ini mereka adalah Densus, tetapi mereka tidak datang dengan pakaian atau penampilan yang selama ini ada di bayanganku ketika mendengar kata Densus. Mereka datang dengan pakaian biasa. Mereka kemudian menemuiku dan mulai menanyakan beberapa hal tentang Farhan.
Pertanyaannya hampir sama seperti yang sebelumnya ditanyakan oleh para wartawan, tetapi kali ini suasananya terasa sangat berbeda. Mereka menanyakan kapan aku mengenal Farhan, bagaimana kami bisa saling mengenal, bagaimana hubungan kami hingga akhirnya menikah, dan sejauh apa yang kuketahui tentang dirinya serta kegiatan-kegiatannya.
Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan tatapan kosong. Bukan karena aku sengaja tidak mau menjawab, tetapi karena pikiranku memang sudah tidak mampu bekerja dengan baik. Rasanya semua pertanyaan tersebut datang ketika aku bahkan belum selesai memahami pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam kepalaku sendiri.
Mereka menanyakan sesuatu tentang Farhan, sementara aku sendiri sedang berusaha mengumpulkan kembali potongan-potongan kejadian yang selama ini kujalani bersamanya. Ada beberapa pertanyaan yang bisa kujawab dengan jelas karena menyangkut hal-hal yang memang kuketahui. Tetapi ada juga hal-hal yang tidak bisa kujawab karena aku memang tidak tahu.
Aku tahu Farhan seperti apa dalam kehidupan sehari-hari. Aku tahu cara berpikirnya, keyakinan yang ia pegang, orang-orang yang dekat dengannya, dan materi-materi yang sering ia baca atau berikan kepadaku. Tetapi sejauh mana semua itu berkaitan dengan sesuatu yang membuatnya ditangkap, aku tidak tahu.
Mereka juga menanyakan kondisiku. Mereka melihat bahwa keadaanku saat itu memang tidak baik. Mungkin dari wajahku, cara bicaraku, atau bagaimana aku menjawab pertanyaan dengan tatapan yang hampir tidak berubah, mereka bisa melihat bahwa aku sedang berada dalam kondisi yang sangat terpukul.
Aku sendiri bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang sedang kurasakan. Sedih, takut, bingung, marah, dan kehilangan semuanya bercampur menjadi satu. Rasanya aku sedang berada di tengah banyak sekali kejadian, tetapi tidak memiliki jarak untuk melihat semuanya dengan jelas. Semuanya terlalu dekat dan terlalu cepat terjadi.
Densus berada cukup lama di rumah. Di tengah percakapan itu, aku akhirnya memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sejak kemarin terus menghantuiku.
"Farhan di mana?"
Aku tidak tahu apakah pertanyaanku terdengar seperti pertanyaan seorang istri yang sedang mencari suaminya atau seperti seseorang yang hanya membutuhkan kepastian bahwa orang yang paling ia pikirkan masih ada. Salah satu dari mereka kemudian mengatakan bahwa Farhan ada di Polda.
Mendengar jawaban itu, setidaknya ada sedikit rasa lega karena aku tahu ia masih ada dan aku tahu di mana ia berada. Tetapi rasa lega itu tidak berlangsung lama. Aku masih ingin melihatnya. Aku ingin memastikan sendiri bahwa ia baik-baik saja.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar