Ada jenis rindu yang tidak bisa ditahan oleh dinding setebal apa pun dan jarak sejauh apa pun. Ia tetap merembes, perlahan, lalu pecah di waktu yang paling tak terduga.
Idul Fitri 2018 adalah lebaran keduaku di dalam penjara. Saat itu aku sudah dipindahkan ke Lapas Kelas IIB Purwakarta. Berbeda dengan hari-hariku sebelumnya di rutan, di tempat ini aku mulai merasakan ruang yang lebih terbuka. Aku bisa bercengkerama dengan banyak orang—narapidana dengan beragam latar belakang, dari kasus penipuan, penggelapan, hingga pembunuhan, juga mereka yang terjerat narkoba dan korupsi. Hari-hariku berubah terasa lebih “hidup”, tidak lagi sesunyi sebelumnya.
Namun dibalik suasana itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar berubah, rindu pada rumah.
Antara Keramaian dan Kekosongan
Untuk mengisi waktu, aku aktif mengikuti kegiatan di DKM masjid lapas. Shalat berjamaah, tarawih, tadarus Al-Qur’an, semuanya menjadi rutinitas yang sedikit banyak menenangkan. Suasana Ramadan di lapas, dalam beberapa hal, bahkan tidak jauh berbeda dengan di luar. Ada yang berpuasa, ada juga yang tidak. Dan bagiku, itu adalah pilihan masing-masing. Tapi menjelang Idul Fitri, suasana batin tidak bisa dibohongi.
Pagi hari di Idul Fitri, pintu-pintu sel dibuka lebih awal. Petugas mengarahkan kami ke lapangan untuk melaksanakan shalat Id. Semua berjalan seperti ritual yang sudah diatur rapi. Tapi di tengah barisan itu, aku berdiri dengan hati yang penuh.
Kerinduanku mencapai puncaknya.
Aku membayangkan suasana rumah, saat keluarga berkumpul, suara takbir, pelukan, dan saling memaafkan. Semua yang dulu terasa biasa, kini berubah menjadi sesuatu yang sangat jauh dan aku rindukan.
Di tengah itu, ada sedikit kabar yang membuatku bersyukur, aku mendapatkan remisi satu bulan, setelah aku berikrar kembali pada NKRI. Sebuah tanda kecil bahwa ada jalan pulang yang sedang dibuka, meski perlahan. Namun setelah shalat Id selesai, semuanya kembali terasa datar.
Lebaran di Tengah Keramaian yang Asing
Lapas membuka kunjungan khusus Lebaran. Aula disiapkan untuk keluarga para narapidana yang datang membesuk. Sejak pagi hingga siang, suasana menjadi ramai. Banyak keluarga berdatangan. Tangis, tawa, pelukan, semua bercampur menjadi satu. Ironisnya, di tengah keramaian itu, aku justru merasa paling sendiri.
Aku bukan warga Purwakarta, jarak rumahku juga jauh. Dan saat itu aku juga tahu, kondisi kesehatan kedua orangtuaku sedang tidak baik. Aku ragu mereka akan datang. Dan keraguan itu berubah menjadi kesedihan yang nyata.
Aku kembali ke kamar, duduk menyendiri, lalu menangis. Bukan hanya karena sepi, tapi karena perasaan bersalah yang pelan-pelan muncul ke permukaan. Tentang banyak hal yang telah kulakukan, tentang luka yang mungkin telah kuberikan kepada keluargaku.
Menjelang zuhur, aku memaksakan diri ke masjid. Di sana aku bertemu beberapa narapidana lain yang juga tidak dibesuk. Kami berbagi cerita, berbagi kegelisahan. Tapi tetap saja, ada ruang di dalam hati yang tidak bisa diisi oleh siapa pun selain keluarga.
Aku kembali ke kamar dengan perasaan yang masih berat.
Pertemuan yang Menghancurkan Diri
Tak lama setelah itu, Pak Asep, Kasi Binadik lapas, datang ke kamarku. Ia memintaku membersihkan kamar. Katanya akan ada tamu spesial yang ingin menemuiku, dan tidak memungkinkan untuk bertemu di aula. Aku menurut saja, tanpa banyak bertanya. Dalam pikiranku, tak ada nama yang benar-benar terlintas. Hingga sekitar pukul satu siang, aku melihat Pak Asep berjalan ke arah kamarku. Tapi kali ini ia tidak sendiri.
Di sampingnya, ada dua orang lansia berjalan perlahan, saling berpegangan.
Aku terdiam.
Lalu tubuhku seperti bergerak sendiri.
Air mataku langsung jatuh.
Mereka adalah bapak dan ibuku.
Aku berlari ke arah mereka. Dan dunia seakan berhenti di titik itu.
Bapakku datang dengan kondisi pasca operasi mata yang merusak retina. Penglihatannya hampir hilang. Ibuku datang dengan tubuh yang telah diserang stroke, langkahnya tertatih. Dua orang tua yang seharusnya aku jaga, justru datang kepadaku dalam kondisi rapuh, saling menguatkan satu sama lain. Ibuku menjadi mata bagi bapak. Dan bapak menjadi penopang bagi ibu untuk berjalan.
Di hadapan pemandangan itu, aku hancur.
Aku memapah mereka masuk ke kamar. Lalu aku tersungkur di hadapan mereka. Bukan hanya karena aku berada di penjara. Tapi karena semua yang terlintas di kepalaku tentang masa lalu.
Aku teringat betapa renggangnya hubunganku dengan bapak dulu. Pertengkaran, perdebatan, dan amarah. Bahkan satu momen yang tak pernah bisa kulupakan, ketika aku, dalam kemarahan yang membabi buta, pernah mengejar bapakku dengan sebilah golok.
Dan hari itu, orang yang pernah hampir kulukai, datang kepadaku dengan langkah tertatih hanya untuk melihat anaknya.
Aku tidak tahu harus menyebut diriku apa saat itu. Air mata tidak lagi bisa ditahan. Rasa bersalah itu terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata-kata. Tangis dan air mata membuat kami tidak banyak bicara. Tapi kehadiran mereka sudah cukup untuk menghancurkan semua pertahanan dalam diriku.
Maaf yang Tertahan, Janji yang Tersisa
Waktu berjalan cepat.
Satu jam terasa seperti hanya beberapa menit. Dan seperti semua pertemuan di tempat itu, selalu ada batas yang tidak bisa dilanggar.
Aku mengantar mereka sampai batas blok.
Aku ingin mengatakan banyak hal.
Aku ingin berkata, “Bapak, Mama, maafkan aku.”
Aku ingin mengakui semuanya, kesalahanku, keegoisanku, kedurhakaanku.
Tapi kata-kata itu seperti tertahan di tenggorokan.
Yang keluar hanya tangis.
Aku melihat mereka berjalan menjauh, perlahan, saling menopang satu sama lain.
Dan di titik itu, aku tahu, Idul Fitri bukan lagi tentang baju baru, makanan, atau tradisi. Ia menjadi tentang satu hal yang paling mendasar, tentang kembali, tentang meminta maaf, dan tentang menyadari betapa berharganya orang-orang yang selama ini kita sakiti.
Hari itu meninggalkan satu hal yang terus tinggal dalam diriku.
Sebuah janji yang belum sempat kuucapkan dengan lantang.
Jika suatu hari aku bebas, jika Allah masih memberiku waktu, aku ingin kembali. Bukan hanya pulang secara fisik, tapi pulang sebagai anak yang bisa berkhidmat, mengabdi, dan membahagiakan kedua orangtuaku.
Karena di balik jeruji itu, aku akhirnya benar-benar memahami, tidak ada penyesalan yang lebih dalam daripada menyadari bahwa kita pernah menyakiti orang yang paling mencintai kita.
Dan Idul Fitri tahun itu, bukan sekadar hari kemenangan. Ia adalah hari ketika aku benar-benar melihat diriku sendiri, dalam bentuk yang paling jujur, paling rapuh, dan paling manusia.[]
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar