Ramadhan Tanpa Sisa: Cerita Tentang Perlawanan Kecil terhadap Sampah

Tokoh

by Arif Budi Setyawan Editor by Arif Budi Setyawan

Sore itu, Faiz—seorang mahasiswa semester pertengahan berada di antara kerumunan pemburu takjil yang memadati pinggir jalan. Suasana Ramadhan selalu membawa energi yang berbeda: suara pedagang memanggil pembeli, anak-anak berlarian, dan deretan makanan minuman berwarna-warni yang menggoda mata.

Faiz lalu menuju ke gerai yang menjual es teler. Ibu penjual es teler menatapnya heran ketika ia menyodorkan wadah yang ia bawa dari rumah sebagai pengganti gelas plastik yang ia sediakan. “Mas, tidak pakai gelas plastik saja?”

Faiz tersenyum. “Boleh pakai wadah saya saja, Bu. Lebih praktis, tidak jadi sampah.”

Ibu itu mengangguk pelan, meski ekspresi wajahnya masih menunjukkan rasa penasaran. Bagi sebagian orang, kebiasaan Faiz memang terlihat aneh. Tapi sejak setahun terakhir, ia memutuskan untuk serius menekuni isu lingkungan, terutama soal sampah. Awalnya hanya karena kegelisahan kecil—melihat tumpukan plastik dan styrofoam setelah acara buka bersama di kampungnya. Lama-lama kegelisahan itu berubah menjadi komitmen.

Perjalanan Faiz sebagai aktivis lingkungan bermula dari pengalaman sederhana. Suatu malam Ramadhan tahun lalu, ia berjalan melewati gang belakang masjid setelah tarawih. Di sana, kantong-kantong sampah menumpuk, sebagian terbuka, memperlihatkan gelas plastik bekas minuman manis dan kotak makanan yang masih menyisakan nasi. Pemandangan itu terasa kontras dengan ceramah yang baru saja ia dengar tentang kesederhanaan dan rasa syukur.

Sejak saat itu, ia mulai mengubah kebiasaan kecil. Membawa botol minum sendiri, menolak sedotan/sendok plastik, dan memilih membeli makanan secukupnya. Perubahan itu tidak selalu mudah. Teman-temannya sering menggoda, menyebutnya terlalu idealis.

Di rumah, kebiasaan Faiz juga berubah. Ia meminta keluarganya memasak secukupnya untuk berbuka. Awalnya ibunya khawatir, takut makanan tidak cukup. Namun setelah beberapa hari, mereka menyadari sesuatu: tidak ada yang merasa kekurangan. Justru meja makan terasa lebih rapi, dan tidak ada lagi makanan yang terbuang.

Suatu malam, ayahnya berkata, “Ternyata sederhana itu lebih menenangkan.”

Kalimat itu membuat Faiz tersenyum. Ia merasa perjuangannya tidak sia-sia.

Namun, perjalanan menjadi aktivis lingkungan tidak selalu berjalan mulus. Pernah suatu ketika, seorang pedagang menolak menggunakan wadah yang dibawanya karena dianggap merepotkan. Ada juga orang yang memandang sinis, menganggap aksinya hanya pencitraan.

Setiap kali itu terjadi, Faiz selalu mengingat alasan awalnya yang bukan untuk terlihat berbeda, tetapi untuk mengurangi jejak sampah yang selama ini ia anggap sebagai masalah bersama.

Ramadhan bagi Faiz bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga ruang belajar. Ia belajar bahwa menahan diri tidak hanya soal lapar dan haus, tetapi juga tentang menahan keinginan untuk berlebihan. Ia percaya, setiap plastik yang tidak digunakan adalah bentuk syukur yang nyata.

Langit senja perlahan berubah jingga, menandakan waktu berbuka hampir tiba. Faiz duduk di tepi jalan, memandangi keramaian dengan perasaan hangat. Ia tahu, perjuangannya belum selesai. Sampah masih ada, plastik masih berserakan, dan kesadaran belum merata.

Tapi setidaknya, ia melihat harapan di antara kerumunan itu—dalam bentuk seorang ibu yang membawa kotak makan sendiri, seorang anak yang memungut gelas plastik, dan teman-teman yang mulai memilih membeli secukupnya.

Bagi Faiz, Ramadhan bukan lagi hanya tentang menunggu adzan maghrib. Ia adalah perjalanan untuk memahami arti cukup, arti tanggung jawab, dan arti menjaga bumi sebagai bagian dari ibadah. Dan setiap langkah kecil yang ia ambil, setiap wadah yang ia bawa, adalah pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar—cukup dari keberanian untuk melakukan sesuatu yang berbeda.[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar