Di Ambang Hijrah, Di Ujung Diri

Tokoh

by WAVE Community Editor by Redaksi

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Narasi Pengorbanan yang Membutakan

Aku masih ingat malam sejak pesan itu pertama kali masuk. Sejak itu, notifikasi dari grup tersebut seperti menjadi detak jantung baru dalam hidupku. Di sanalah untuk pertama kalinya aku mengenal kata “hijrah” bukan sebagai sekadar perpindahan tempat, tapi perpindahan jiwa—sebuah titik balik yang konon membuktikan keteguhan iman.

Melati, salah satu anggota grup, sering membagikan tulisan yang menyentuh hati. “Hijrah itu panggilan hati, Vania. Kalau Allah sudah memilihmu, Dia akan membukakan jalan,” tulisnya suatu hari. Kata-katanya menembus logika dan langsung mengetuk ruang yang selama ini kosong di dalam diriku. Aku mulai mempertanyakan banyak hal: sekolah, pergaulan, bahkan keluargaku sendiri. Semuanya terasa asing dan tak lagi penting dibandingkan “kebenaran” yang kutemukan di grup itu.

Hari demi hari, pesan-pesan mereka semakin intens. Tak hanya kata-kata bijak, tapi juga video-video tentang keluarga yang telah “meninggalkan negeri kafir” untuk hidup damai di bawah hukum Tuhan. Anak-anak mereka tampak ceria, para orang tua berbicara dengan keyakinan yang nyaris tak tergoyahkan. Dalam hati, aku merasa iri. Mereka terlihat tenang, seolah telah menemukan dunia yang selama ini kucari.

Di saat teman-teman lain sibuk dengan urusan remaja—tugas sekolah, percintaan, atau media sosial—aku justru memilih menarik diri. Grup sekolah kutinggalkan, obrolan ringan mulai terasa hambar. Aku lebih nyaman berada di balik layar, membaca pesan-pesan spiritual dan mendengarkan rekaman kajian. Saat ibu menyapa, aku menjawab sekenanya. Aku yakin, mereka tidak akan mengerti. Mereka masih sibuk dengan dunia yang fana.

Dalam diam, aku mulai meyakini bahwa dunia ini memang penuh fitnah. Bahwa negeri tempatku tinggal bukan tempat yang aman untuk iman. Kata-kata seperti thaghut, kufur, dan fitnah akhir zaman menjadi bahasa baru yang mulai akrab di telingaku. Dalam setiap rekaman yang kudengar, selalu ada satu pesan yang sama: "Hijrah bukan lagi sunnah. Ia adalah kewajiban."

Melati semakin dekat denganku. Ia menemaniku secara pribadi, bercerita tentang teman-teman yang telah hijrah lebih dulu, tentang rasa takut yang perlahan berubah jadi ketenangan. Ia menjanjikan bahwa aku tidak akan sendirian jika memilih jalan ini.

Kami akan selalu ada untukmu, Vania. Allah akan menjaga siapa pun yang berjalan menuju-Nya,” tulisnya suatu malam.

Kata-kata itu menenangkan, bahkan lebih dari apa pun yang pernah kuterima. Di saat aku merasa kosong, mereka datang dengan pelukan virtual yang hangat. Mereka menyebutku “saudari”, memanjakanku dengan doa, menyapaku dengan penuh kelembutan. Rasanya seperti menemukan keluarga baru, tempat aku diterima apa adanya, tanpa penilaian, tanpa syarat.

Aku belum pernah menyebutkan secara langsung bahwa aku ingin hijrah. Tapi bayangan itu kini semakin jelas. Aku mulai membayangkan hidup sederhana di tempat yang jauh, di mana semua orang berpakaian seragam kesalehan, di mana waktu hanya diisi dengan ibadah, tanpa kebisingan dunia. Kadang aku bertanya, mungkinkah ini jawaban atas semua gelisah yang selama ini kurasakan?

Tapi di balik ketenangan itu, terselip juga kegamangan. Mengapa rasanya aku harus memutus semua hubungan dengan dunia lamaku? Mengapa cinta pada Tuhan harus berarti menjauh dari keluarga dan teman?

Di sanalah, mungkin tanpa kusadari, aku telah mengambil langkah pertama. Sebuah langkah kecil yang mungkin akan membawaku pada perubahan besar—entah menuju kehidupan yang lebih baik, atau justru jurang yang tak kusadari kedalamannya.



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar