Ada sesuatu yang mengganggu ketika melihat bagaimana sebagian anak muda berbicara tentang pelaku kekerasan massal.
Tidak hanya mengetahui nama-nama pelaku, tanggal kejadian, senjata yang digunakan, atau detail kasusnya. Hal-hal semacam itu sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari budaya true crime. Namun, saat ini para pelaku itu tidak lagi sekadar dibicarakan sebagai objek kejahatan, tetapi telah menjadi bagian dari humor, simbol komunitas, bahkan sesuatu yang dianggap relatable.
Fenomena ini dapat kita lihat dalam apa yang dikenal sebagai True Crime Community (TCC) di ruang digital. TCC sendiri bukan kelompok yang secara otomatis berbahaya. Banyak orang masuk ke komunitas true crime karena ketertarikan pada kriminalitas, psikologi, investigasi, atau sekadar rasa ingin tahu. Tetapi seperti komunitas digital lainnya, di dalamnya terdapat subkultur yang berbeda-beda. Sebagian bahkan berkembang menjadi ruang yang mengagungkan pelaku kekerasan.
Di titik inilah saya mulai melihat persoalan yang lebih besar. Bukan semata-mata tentang mengapa seorang remaja tertarik pada kasus kekerasan. Tetapi, mengapa seorang remaja bisa merasa terhubung dengan pelaku kekerasan?
Dari Pelaku Menjadi Idola
Salah satu akun TikTok yang saya amati memberikan gambaran yang cukup menarik. Dari unggahan yang dibuat sendiri, akun tersebut sebenarnya terlihat biasa. Ada curhatan pribadi yang disampaikan secara tersirat, video pemandangan, dan konten yang tidak secara langsung berbicara tentang kekerasan. Tetapi pola berbeda terlihat pada konten yang di-repost. Di sana muncul berbagai materi mengenai TCC, pelaku penembakan massal, pembunuh berantai, meme yang mengandung Islamofobia, dan konten yang menggambarkan kekerasan sebagai sesuatu yang dapat dijadikan bahan inside jokes dalam komunitas mereka.
Yang lebih menarik, sebagian konten tersebut tampaknya dipilih bukan semata karena kekerasannya. Ada kesan relatability atau keterhubungan di sana. Pelaku yang masih muda. Pelaku yang pernah mengalami masalah sosial. Pelaku yang dikaitkan dengan suicidal thoughts. Pelaku yang digambarkan sebagai seseorang yang tidak diterima lingkungannya. Ini membuat persoalannya menjadi jauh lebih rumit. Karena mungkin, pada awalnya yang menarik perhatian bukanlah tindakan membunuh, tetapi ada rasa “relatable” di baliknya.
“Saya juga merasa tidak dipahami.”
“Saya juga merasa sendirian.”
“Saya juga marah.”
Tentu saja, merasa memiliki kesamaan dengan seorang pelaku tidak berarti seseorang menyetujui tindakannya. Begitu pula dengan me-repost sebuah video tidak otomatis berarti seseorang mendukung seluruh isi video tersebut. Tetapi ketika pola tersebut muncul berulang kali, ditambah simbol, bahasa, meme, dan identitas digital yang mengarah pada subkultur yang sama, maka menurut saya fenomena tersebut layak diperhatikan. Bukan untuk buru-buru memberi label kepada anak tersebut, melainkan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang mereka cari.
Mencari Tempat Untuk Merasa Dimengerti
Hal lain yang membuat saya memikirkan persoalan ini adalah munculnya berbagai kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak muda di lingkungan sekolah, baik di Indonesia maupun negara-negara lain di Asia Tenggara. Detail setiap kasus tentu berbeda. Kita tidak bisa menyamakan begitu saja satu pelaku dengan pelaku lainnya.
Namun ada pola yang patut diperhatikan adalah kekerasan diarahkan kepada orang lain, kemudian berakhir dengan kematian pelaku sendiri atau percobaan bunuh diri. Dalam beberapa kasus yang menjadi perhatian publik, penjelasan yang muncul justru lebih banyak berkaitan dengan tekanan psikologis, masalah sosial, keterasingan, atau persoalan personal daripada sebuah tujuan ideologis yang jelas. Ini penting dibedakan dari terorisme. Tidak setiap kekerasan massal adalah terorisme. Tidak setiap pelaku kekerasan memiliki ideologi. Dan tidak setiap anak yang tertarik pada TCC sedang menuju kekerasan.
Literatur mengenai radikalisasi sendiri menunjukkan bahwa proses menuju kekerasan itu tidak sederhana dan tidak berdiri di atas satu faktor. Faktor psikologis, hubungan sosial, keluarga, lingkungan, identitas, persepsi terhadap kelompok lain, hingga kondisi sosial-politik dapat saling berinteraksi. (Pandey & Behera, 2026).
Dengan begitu, bagaimana jika sebagian anak muda tidak masuk ke komunitas digital karena mereka sudah memiliki ideologi kekerasan, tetapi karena mereka sedang mencari tempat untuk merasa dipahami?
Mereka menemukan cerita tentang seseorang yang dianggap merasakan hal yang sama dalam bersosialisasi, merasa tidak pernah benar-benar dimengerti. Dan dari sinilah sebuah komunitas bisa menjadi sangat kuat. Saya tidak mengatakan bahwa remaja yang kesepian akan menjadi pelaku kekerasan. Sebagian besar tentu tidak. Tetapi kita perlu membedakan beberapa tahap yang sering kali dicampuradukkan. Merasa bahwa seseorang “memahami saya” berbeda dengan merasa “ini kelompok saya”. Merasa “ini kelompok saya” berbeda dengan merasa “ini bagian dari diri saya”. Dan keduanya masih berbeda dengan mengatakan “pandangan mereka tentang dunia benar”. Baru setelah itu kita berbicara tentang kemungkinan seseorang menganggap tindakan kelompok atau figur tersebut layak ditiru.
Perjalanan itu tidak otomatis terjadi. Bahkan mungkin tidak terjadi sama sekali. Namun ruang digital memungkinkan setiap tahap tersebut berlangsung tanpa harus melalui hubungan sosial di dunia nyata. Seorang anak yang merasa tidak memiliki tempat di lingkungannya dapat menemukan orang-orang yang terasa serupa dalam hitungan detik. Ia dapat menemukan istilah yang sebelumnya tidak pernah ia kenal. Menemukan humor yang hanya dipahami komunitas tertentu. Menemukan kisah orang lain yang dianggap mewakili perasaannya. Dan semakin lama ia berada di sana, semakin familiar dunia itu terasa.
Sebab mungkin persoalannya tidak selalu dimulai dari ideologi, melainkan dari seorang anak yang merasa tidak punya tempat untuk menjadi dirinya sendiri. Karena itu, TCC perlu dilihat bukan hanya sebagai budaya true crime, tetapi sebagai bagian dari cara anak muda mencari identitas, komunitas, dan pengakuan. Sebelum bertanya mengapa seorang anak melakukan kekerasan, mungkin kita perlu bertanya lebih dulu, mengapa semakin banyak anak muda merasa sendirian di tengah dunia yang justru semakin terhubung?
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar