Siang itu, matahari belum terlalu tinggi ketika sebuah pesan masuk ke layanan pesan Instagram kami. Kalimat-kalimat di dalamnya terasa seperti bisikan yang ragu-ragu, namun juga sarat harapan. Pengirimnya adalah seorang perempuan muda, menyebut dirinya sebagai penyintas paham radikalisme. Ia tidak sendiri. Bersama seorang sahabat yang mengalami nasib serupa, mereka tengah menapaki jalan terjal, merintis sebuah komunitas kecil yang baru saja mereka bentuk, diberi nama: WAVE Community – Women Against Violent Extremism.
Komunitas ini baru berdiri sekitar seminggu yang lalu, lahir dari kegelisahan bersama dan kebutuhan mendesak akan ruang aman bagi sesama perempuan korban radikalisme. Masih sangat dini, masih rapuh, tapi juga penuh semangat.
Dia menghubungi kami atas rekomendasi seorang eks-narapidana terorisme—seseorang yang pernah kami temui di lapangan, yang pernah berbagi kisah masa lalunya sekaligus semangat perubahannya. Rekomendasi itu tak datang sembarangan. Ia terkesan dengan pendekatan yang kami bangun, yang lebih mengedepankan empati ketimbang vonis, mendengarkan ketimbang menghakimi.
Kami lalu memberinya nomor kontak, membuka ruang untuk percakapan yang lebih dalam. Tak lama berselang, sambungan telepon mempertemukan suara kami. Dan di seberang sana, dengan nada yang sesekali bergetar namun jujur, dia memperkenalkan dirinya—kita panggil saja dia Vania, bukan nama sebenarnya. Identitasnya masih kami jaga, sebagaimana luka yang belum sepenuhnya sembuh tak layak dipertontonkan.
Vania membuka cerita dengan napas panjang, seolah tengah menyingkap kembali lembaran-lembaran lama yang nyaris ia kubur.
“Kami pernah terpapar paham radikalisme selama beberapa tahun, sampai meninggalkan sekolah dan keluarga. Kehidupan kami kacau...”
Kalimat itu meluncur pelan, namun berat. Ia tak sendirian. Sahabatnya, perempuan lain yang juga menjadi korban doktrin keras dan gelap itu, kini berdiri bersamanya. Mereka pernah tenggelam. Pernah percaya pada janji-janji palsu yang dikemas dalam dalil, pada utopia yang dibungkus dengan kebencian.
Namun takdir memberi mereka kesempatan kedua. Di tengah kabut dan reruntuhan hidup yang hancur, mereka menemukan cahaya kecil—kesadaran. Dari situ, dimulailah perjalanan panjang menuju pemulihan. Perjalanan yang tak mudah. Masyarakat tak selalu siap menerima kembali orang-orang yang dulu pernah tersesat. Luka mereka tak hanya bersifat batin, tetapi juga sosial—tatapan curiga, cibiran, bahkan penolakan.
“Setelah berjuang sekian lama, akhirnya kami berhasil pulih. Kini kami sudah bisa melanjutkan kehidupan, sudah sama-sama berkuliah di universitas masing-masing.”
Namun mereka tidak ingin bangkit hanya untuk diri sendiri. Melihat ke belakang, mereka sadar—banyak perempuan lain yang mungkin masih tercekat di dalam trauma yang tak terucap. Banyak yang belum tahu ke mana harus melangkah, kepada siapa harus bersandar. Dari kesadaran itulah, lahir WAVE Community. Sebuah ruang aman, sebuah pelampung, sebuah pelita.
“Tujuan komunitas kami adalah untuk mewadahi suara para perempuan korban paham radikalisme. Membantu mereka bangkit dan berdaya. Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa mereka juga adalah korban. Mereka tidak sepenuhnya bersalah.”
Kami mendengarkan. Dalam cerita Vania, kami tak hanya menemukan kisah kelam. Kami menemukan keberanian. Ada daya hidup yang menyala, ada semangat untuk bangkit bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai agen perubahan. Kami pun menyampaikan bahwa Ruangobrol dengan tangan terbuka bersedia menjadi jembatan—menerbitkan cerita-cerita mereka, menyampaikan suara yang selama ini mungkin terbungkam, menghadirkan empati di tengah narasi hitam-putih yang kerap terlalu menyederhanakan.
Bagi kami, memberi kesempatan kedua bukanlah sekadar slogan. Itu adalah napas dari gerakan yang kami percayai. Sebab di balik setiap orang yang “kembali”, ada perjuangan panjang yang layak dihargai. Ada pelajaran yang bisa menyelamatkan banyak jiwa.
Dan bagi Vania serta WAVE Community, kami melihat secercah harapan—bahwa dari puing-puing keterpurukan, bisa tumbuh sesuatu yang indah: solidaritas, kesadaran, dan kekuatan untuk mengubah dunia, satu langkah kecil demi satu langkah kecil.
Ruangobrol akan terus menjadi rumah bagi cerita-cerita seperti ini. Cerita yang lahir dari luka, tapi tumbuh menjadi kekuatan.[abs]
Mardiana 24 Sep 2025, 18:06 WIB
MaashaaAllah,ilmu dan pengalaman baru🌹
Sheila 18 Sep 2025, 21:33 WIB
Terimakasih untuk 'ruang aman' yang disediakan. Banyak diluar sana wanita yang ingin bersuara namun tidak ada ruang yang benar-benar aman untuk mereka. Semakin meluas dan bermanfaat Wave 🙏