Ia yang Kusebut ‘Seberang’, Justru Menunjukkan Jalan Pulang

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Akhir 2018 hingga April 2020, aku menjalani masa tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sentul, yang lebih dikenal sebagai Pusat Deradikalisasi BNPT. Secara fisik, tempat itu tetaplah penjara dengan tembok yang tinggi, pintu besi, dan rutinitas yang berulang. Tapi di dalamnya, ada sesuatu yang tidak biasa. Tempat itu bukan hanya ruang hukuman. Ia adalah ruang pertemuan antara masa lalu dan kemungkinan masa depan, antara keyakinan yang keras dan pertanyaan-pertanyaan yang perlahan memecahkannya.

Banyak orang datang dan pergi di tempat itu. Akademisi, tokoh agama, aktivis, hingga para pelaku usaha. Mereka hadir dengan satu tujuan, membuka ruang dialog dengan kami, para narapidana. Tapi bagi kami, para narapidana saat itu, tidak semua ruang itu langsung terasa nyaman.

Aku masih membawa cara pandang lamaku. Cara pandang yang penuh curiga, penuh prasangka, dan terbiasa melihat dunia dalam garis yang tegas, kami dan mereka. Dan di salah satu ruang itu, aku bertemu dengan seorang dosen dari UIN Syarif Hidayatullah di kelas wawasan kebangsaan. Sejujurnya, itu bukan kelas yang aku tunggu. Bagiku saat itu, materi seperti itu terasa seperti sesuatu yang harus diwaspadai sebagai narasi yang datang dari “mereka”.

Dari awal, aku sudah membangun jarak. Bukan karena aku mengenalnya, tapi justru karena aku merasa sudah cukup tahu untuk menilainya. Ya, awalnya aku menilainya sebagai seorang “feminis”. Dalam setiap materi yang ia sampaikan, aku lebih sibuk mencari celah untuk menolak, daripada mencoba memahami. Dalam pikiranku saat itu, kesimpulannya sederhana, aku tidak sepakat.

Bahkan, bukan hanya aku. Di antara kami, sempat muncul bisik-bisik kecil, prasangka yang dibentuk tanpa dasar. Label-label yang kami tempelkan begitu saja. Ada seorang narapidana yang sempat berkata pdaku, “kayanya Ibu itu Syiah!.”

Namun waktu, seperti biasa, tidak berhenti di kesan pertama. Pertemuan demi pertemuan, diskusi demi diskusi, perlahan membuka ruang yang sebelumnya tidak pernah aku beri kesempatan. Awalnya canggung., dan kadang penuh perdebatan. Kadang juga diwarnai keheningan yang panjang. Tapi justru di situlah sesuatu mulai berubah.

Aku mulai mendengar, bukan untuk membalas, tapi untuk memahami. Dan dari situ, aku mulai menyadari sesuatu yang sederhana tapi penting, tidak semua yang selama ini aku yakini benar-benar utuh. Ia tidak datang dengan paksaan, tidak dengan nada menggurui. Ia justru membuka ruang untuk berdialog, bertanya, mengajak berpikir, dan kadang membiarkan perbedaan itu tetap ada tanpa harus segera diselesaikan.

Itu awalnya terasa asing bagiku. Karena sebelumnya, aku terbiasa dengan dunia yang menuntut kepastian, benar atau salah, kawan atau lawan. Di hadapannya, aku dipaksa berada di wilayah yang tidak nyaman, wilayah abu-abu, tempat di mana aku harus berpikir ulang. Diskusi kami mulai melebar. Tentang kemanusiaan, tentang sejarah bangsa ini, tentang konstitusi, dan tentunya tentang bagaimana kita seharusnya melihat perbedaan. Dan tanpa aku sadari, ada sesuatu dalam diriku yang mulai retak.

Bukan keyakinan yang langsung runtuh, tapi cara berpikir yang mulai bergeser. Yang paling mengejutkanku bukanlah perbedaan di antara kami. Tapi justru kesamaan. Di balik latar belakang yang sangat berbeda, ternyata ada titik temu yang selama ini tidak pernah aku lihat. Tentang keadilan, tentang kemanusiaan, tentang harapan akan hidup yang lebih baik. Kesamaan itu memang tidak datang sekaligus. Ia tumbuh pelan-pelan, dari percakapan yang berulang, dari keberanian untuk tetap duduk bersama meski tidak selalu sepakat.

Dan di situlah aku mulai melihatnya bukan lagi sebagai “orang di seberang”. Ia menjadi seseorang yang membuka jendela, jendela untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Pesan yang Mengubah Arah

Ketika aku bebas pada awal 2020, aku membayangkan hidup akan segera kembali berjalan. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Aku seperti orang yang baru keluar dari ruang gelap, terlalu lama di dalam, hingga cahaya di luar terasa menyilaukan. Selama hampir satu setengah tahun, aku berjalan tanpa arah yang jelas. Tidak benar-benar tahu harus mulai dari mana. Hidupku terasa seperti jeda panjang yang tidak kunjung selesai.

Aku masih berusaha menyesuaikan diri. Masih mencoba memahami kembali dunia yang sempat kutinggalkan. Sampai suatu hari di pertengahan 2021, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselku. Pesan yang sederhana, tapi cukup untuk membuatku berhenti sejenak. Aku diajak untuk berbagi cerita dalam sebuah kegiatan daring bertema lokakarya tentang tata kelola pemerintahan yang inklusif. Kegiatan itu melibatkan berbagai perwakilan pemerintah daerah dari seluruh Indonesia.

Ajakan itu datang dari seseorang yang tidak asing. Seseorang yang pernah hadir dalam salah satu fase paling penting dalam hidupku. Aku membaca pesan itu berkali-kali. Ada rasa ragu. Ada rasa tidak percaya diri. Tapi juga ada sesuatu yang lain, kepercayaan. Dan untuk pertama kalinya setelah bebas, aku merasa tidak hanya dilihat dari masa laluku. Aku diajak hadir sebagai diriku hari ini. Dan aku menerima ajakan itu.

Menjelang akhir 2021, ada kabar lain. Akan ada kegiatan lanjutan, kali ini dilakukan secara langsung di Surakarta.

Dan entah kenapa, kabar itu langsung mengingatkanku pada satu hal yang selama ini kusimpan dalam diam, sebuah janji. Janji untuk datang ke kota itu, janji untuk menemui seseorang, janji untuk meminta maaf kepadanya. Salah satu korban dari peristiwa yang pernah menjadi bagian dari masa laluku. Janji itu tidak mudah, bahkan untuk sekadar memikirkannya saja, ada rasa berat yang sulit dijelaskan. Tapi kali ini, aku merasa ada jalan yang terbuka. Aku menyampaikan keinginanku padanya. Dan tanpa banyak pertanyaan, tanpa keraguan, bantuan itu datang. Bukan hanya dari ia seorang, tapi dari beberapa pihak yang turut membuka jalan.

Dan akhirnya, aku bisa sampai pada momen itu. Momen yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Bagiku meminta maaf tidak menghapus masa lalu, tapi setidaknya, itu adalah langkah untuk berhenti lari darinya.

Dari Seberang Menuju Arah Pulang

Hari ini, ketika aku melihat kembali perjalanan itu, aku sadar bahwa perubahan tidak pernah datang secara tiba-tiba. Ia tidak muncul dari satu momen besar. Ia tumbuh dari pertemuan-pertemuan kecil, dari percakapan yang sederhana, dari orang-orang yang hadir, bukan untuk menghakimi, tapi untuk membuka ruang.

Ada orang-orang yang tidak pernah memaksaku berubah, tapi dengan sabar… membuatku ingin berubah. Yang tidak pernah menuntutku menjadi sempurna, tapi menerima prosesku yang penuh jatuh dan bangun lagi. Dan dari situ aku belajar, bahwa jalan untuk menjadi lebih baik selalu ada, selama kita mau berjalan ke arahnya.

Dalam perjalanan itu, ada satu sosok yang, tanpa banyak kata, ikut menunjukkan arah. Seseorang yang dulu, dalam cara pandang lamaku, berada di “seberang”. Tapi justru menjadi salah satu jembatan yang membawaku kembali.

Hari ini, aku ingin menyebut namanya.

Ibu Iif Fikriyati Ihsani.

Terima kasih…
Bukan hanya karena pernah membimbingku, tapi karena telah memberiku ruang untuk berpikir ulang, memberiku kepercayaan saat aku sendiri masih ragu, dan menunjukkan bahwa jalan untuk belajar dan berubah tidak pernah benar-benar tertutup. Dan mungkin, dari situlah aku akhirnya mengerti, bahwa tidak semua orang yang kita anggap berada di seberang benar-benar berlawanan. Kadang, mereka adalah orang yang pertama kali menunjukkan arah jalan pulang.[ ]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar