Kemiskinan, Anak yang Pergi, dan Amarah yang Hampir Menghancurkanku

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Aku tidak pernah mengenal YBS—anak NTT yang bunuh diri karena tidak dibelikan buku dan pena. Kami tidak pernah bertemu, tidak pernah berbagi ruang atau waktu. Tetapi bagiku, kisah kepergiannya karena kemiskinan, buku dan pena terasa terlalu dekat untuk disebut sebagai tragedi orang lain. Seolah ia adalah cermin dari masa kecilku sendiri, hanya dengan akhir yang berbeda. Kami lahir dari dunia yang serupa, dunia keluarga kelas bawah, dunia di mana uang selalu kurang, dan keinginan kecil sering terasa terlalu mahal. Bedanya, YBS memilih pergi. Aku memilih melawan.

Sejak kecil, hubunganku dengan Bapak memang tidak pernah benar-benar hangat. Ia sering menyuruhku melakukan hal-hal yang sebenarnya baik, tetapi dengan cara yang keras dan kaku. Dalam pikiranku yang masih anak-anak, itu terasa seperti ketidakpedulian. Aku juga tumbuh dengan anggapan bahwa bapakku pelit. Bukan karena ia tidak bekerja, tapi karena hampir tak ada keinginanku yang bisa ia penuhi. Dulu, aku ingin ikut latihan bela diri, tapi ditolak. Aku ingin sepatu bola seperti anak-anak lain, tapi tak pernah ada. Alasannya selalu sama, fokus sekolah saja, gaji bapak kecil, nggak cukup untuk membiayai keluarga. Bahkan untuk memiliki sepeda pun, aku harus menunggu satu momen besar dalam hidup anak kecil, yaitu disunat. Dari angpao itulah aku akhirnya membeli sepeda sendiri.

Saat itu aku belum mengerti bahwa yang pelit bukan bapakku, melainkan hidup.”

Luka itu bertambah ketika aku kehilangan kehadiran ibu. Bukan kehilangan secara fisik, tetapi kehilangan secara emosional. Ibu yang dulu selalu ada di rumah, menjadi temanku berbagi cerita dan kesepian, terpaksa ikut menjadi buruh pabrik. Rumah menjadi sepi, dan aku kehilangan orang tua justru ketika mereka sedang berjuang keras memperbaiki hidup kami. Kini aku paham, bapak dan ibu tidak meninggalkanku. Mereka sedang melawan nasib. Tetapi sebagai anak, yang kurasakan hanyalah rasa ditinggalkan. Dan rasa itu perlahan berubah menjadi kemarahan.

Seiring waktu, kondisi hidup kami tak banyak berubah. Saat SMA, ketika aku mulai dekat dengan dunia jalanan, kemarahanku menemukan bahasa. Dengan keyakinan penuh seorang remaja, aku mulai menyimpulkan bahwa di dunia yang kapitalistik, buruh tidak akan pernah benar-benar sejahtera. Bukan karena mereka malas atau bodoh, tetapi karena sistem dan negara tidak pernah berpihak.

Dari situlah aku memilih melawan. Namun perlawanan itu tidak langsung membawaku ke jalan yang sehat. Aku menemukan radikalisme dan ekstremisme, sebuah ruang yang memberiku identitas, makna, dan pembenaran atas amarahku. Di sana, dunia terasa sederhana, ada kawan dan lawan, ada benar dan salah. Bagiku yang lama merasa tidak dianggap, itu terasa seperti rumah. Di titik ini, aku sadar bahwa kemiskinan tidak hanya merampas uang, tetapi juga merampas imajinasi tentang masa depan. Ketika jalur wajar, sekolah, kerja, usaha, tidak pernah terlihat menjanjikan, maka jalan ekstrem tampak masuk akal. Bukan karena ideologinya kuat, tetapi karena keputusasaan terlalu dalam.

Aku sering bertanya pada diriku sendiri, jika di usiaku yang lebih matang saja aku bisa terseret sejauh itu, bagaimana dengan anak seperti YBS?

Anak-anak tidak memiliki bahasa untuk menjelaskan frustrasi struktural. Mereka tidak mengenal istilah “ketimpangan”, “kapitalisme”, atau “kegagalan negara”. Yang mereka kenal hanyalah rasa, rasa tidak cukup, rasa menjadi beban, rasa bahwa keberadaannya terlalu mahal bagi dunia. Ketika permintaan kecil terus ditolak, ketika kebutuhan dasar terasa seperti kemewahan, pesan yang tertanam pelan-pelan adalah: aku tidak layak berharap terlalu banyak.

Di sinilah tragedi YBS harus dibaca. Bukan sebagai kisah satu permintaan yang tak terpenuhi, melainkan sebagai akumulasi dari banyak penolakan yang tak pernah dijelaskan, dari beban yang terlalu besar untuk ditanggung seorang anak. Anak-anak tidak menyerah karena hal sepele. Mereka menyerah karena dunia terlalu sering berkata tidak, dan hampir tak pernah memberi pelukan. Aku selamat bukan karena aku lebih kuat dari YBS. Aku selamat karena aku lebih tua, punya lebih banyak waktu untuk marah, dan, meski sempat tersesat, aku masih punya ruang untuk memilih. Sebuah kemewahan yang YBS tidak miliki.

Hari ini, ketika orang dewasa di pemerintahan, kementerian, DPR, sibuk mencari sebab tunggal dan saling menyalahkan, aku justru ingin mengingatkan, hidup orang miskin jarang runtuh karena satu pukulan. Ia runtuh karena seribu tekanan kecil yang dibiarkan menumpuk tanpa penyangga. Dan ketika negara absen terlalu lama, anak-anaklah yang pertama kali menanggung akibatnya.

Aku menulis ini bukan untuk menjadikan diriku teladan. Melawan pun tidak selalu berarti benar. Perlawanan tanpa arah bisa sama berbahayanya dengan menyerah tanpa harapan. Radikalisme yang pernah kujalani adalah bukti bahwa kemarahan yang dibiarkan tanpa kanal yang sehat hanya akan melahirkan lingkaran luka baru. Kini, ketika aku menoleh ke belakang, aku mulai memahami bapakku. Penolakannya bukan karena ia tidak peduli, tetapi karena ia hidup dalam ketakutan yang sama—takut tidak mampu, takut gagal sebagai ayah, takut masa depan anaknya lebih buruk darinya. Kemiskinan melukai orang tua dan anak secara bersamaan, tetapi jarang memberi ruang bagi mereka untuk saling memahami.

YBS tidak pernah diberi cukup waktu untuk sampai pada pemahaman itu. Ia tidak pernah diberi cukup ruang untuk memilih bentuk perlawanan yang lebih sehat. Itu bukan kesalahannya. Itu adalah kegagalan kita bersama. Maka hari ini, jika aku memilih terus hidup, terus bersuara, dan terus menulis, itu bukan karena aku lebih kuat. Itu karena aku merasa berhutang, pada anak-anak yang tidak sempat tumbuh, pada kemarahan yang hampir menghancurkanku, dan pada harapan yang seharusnya menjadi hak semua anak.

Tragedi ini tidak boleh berhenti pada duka dan simpati. Negara tidak boleh hanya hadir setelah anak pergi. Negara harus hadir sebelum anak kehilangan harapan. Hadir melalui kebijakan perlindungan sosial yang nyata bagi keluarga buruh, pendidikan yang tidak hanya menuntut prestasi tetapi juga peduli kesehatan mental, dan layanan pendampingan psikologis yang menjangkau hingga ke pelosok. Lebih dari itu, kita sebagai masyarakat harus berhenti menuntut anak-anak untuk “kuat”, sementara sistem yang kita pertahankan terus melemahkan mereka. Anak-anak tidak membutuhkan ceramah tentang ketangguhan, mereka membutuhkan keadilan yang bekerja.

YBS memilih pergi. Aku memilih melawan.

Kini, pilihan itu tidak boleh lagi diwariskan sebagai satu-satunya opsi bagi generasi berikutnya. Melawan ketimpangan adalah tugas orang dewasa. Melindungi harapan anak-anak adalah kewajiban politik dan moral kita bersama.[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar