Saya adalah orang yang suka mencoba hal-hal yang baru. Sampai-sampai sempat mencoba bagaimana rasanya tergabung dalam gerakan perlawanan dengan kekerasan yang akhirnya membawa saya bisa merasakan "makanan istimewa" di penjara.
Waktu itu, saya tidak pernah benar-benar berhenti untuk bertanya: ke mana semua langkah ini membawa saya? Saya hanya berjalan. Dari satu tempat ke tempat lain, dari satu rasa ke rasa yang lain. Semuanya terasa seperti petualangan. Menyenangkan. Menghidupkan. Tapi mungkin, di situlah letak jebakannya—ketika kita terlalu menikmati perjalanan, kita lupa memastikan arah.
Dalam perjalanan ketika bertugas dalam karir saya sebagai kurir kelompok teroris, saya suka mencoba makanan-makanan yang baru saya temui. Sampai hari ini pun saya masih suka melakukannya. Merasakan makanan yang baru meskipun kadang terasa asing dan tidak enak, tapi menyenangkan karena menambah pengalaman dan pengetahuan baru.
Ada masa di mana saya merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Sesuatu yang bermakna. Perasaan itu pelan-pelan menutupi keraguan yang mungkin sempat muncul. Dan tanpa saya sadari, saya mulai kehilangan kemampuan mempertanyakan diri sendiri. Saya berjalan semakin jauh, tapi justru semakin tidak mengenali siapa saya sebenarnya.
Kisah bagaimana saya tertangkap juga berkaitan dengan makanan. Saya ditangkap pas lagi nyobain bakso sehat di sebuah warung bakso di Jatipadang Pasar Minggu Jakarta Selatan. Saat itu saya sedang menunggu kedatangan kawan yang akan membantu teman saya yang akan berangkat ke Suriah. Kata ‘bakso sehat’ sangat menggoda untuk ingin mencoba. Dan ternyata di situlah akhir perjalanan saya sebagai bagian dari kelompok teroris.
Sampai hari ini, saya masih bisa mengingat dengan jelas rasa suapan terakhir itu. Bukan karena baksonya istimewa, tapi karena saya tidak tahu bahwa itu adalah “yang terakhir” dalam hidup saya sebagai orang bebas. Ada jeda kecil sebelum semuanya berubah—jeda yang saat itu terasa biasa saja, tapi kini terasa seperti batas yang tak bisa saya ulang. Seandainya waktu bisa diputar, mungkin saya akan makan lebih pelan. Atau sekadar menoleh lebih lama ke sekitar. Tapi hidup tidak memberi pilihan seperti itu.
Makanan di penjara
Hari-hari pertama adalah yang paling sunyi. Bukan karena tidak ada suara, tapi karena saya mulai berhadapan dengan diri sendiri tanpa distraksi. Makanan yang datang setiap hari seperti pengingat: hidup saya sekarang diatur, dibatasi, dan tidak lagi sepenuhnya milik saya. Dan di tengah rutinitas itu, saya mulai merasakan sesuatu yang sebelumnya jarang saya sadari—kehilangan.
Di penjara soal makanan selalu menjadi isu yang paling banyak dibicarakan oleh banyak pihak selain soal over kapasitas. Apakah makanan di penjara itu cukup layak? Yang perlu diketahui adalah, kondisi setiap penjara itu beda. Ada penjara yang petugasnya memaksimalkan upaya pelayanan, tapi tidak sedikit yang asal-asalan.
Di tempat saya menjalani hukuman sempat terjadi dua kali pergantian kepala bagian dapur. Periode kedua adalah yang terbaik. Menurut teman-teman yang lebih dulu dipenjara, itu adalah makanan terbaik selama mereka dipenjara. Tapi jangan dibayangkan seperti makanan orang di luar penjara ya, meskipun menurut saya sudah cukup manusiawi.
Saya belajar untuk lebih bersyukur dan lebih menghargai kemanusiaan juga berawal dari soal makanan. Makanan yang kalau di luar penjara kita enggan memakannya, di penjara bisa menjadi sesuatu yang mewah. Memberikan jatah makan kepada napi lain ketika sedang bisa beli makanan di kantin itu sudah cukup membuat napi lain bahagia. Berbagi segelas kopi dan sebungkus makanan ringan bisa mengakrabkan antara teroris dan pelaku kriminal lainnya.
Ada kehangatan yang aneh di situ. Kami sama-sama sedang menjalani hukuman, tapi justru di sanalah saya melihat sisi manusia yang paling jujur. Tidak ada topeng yang perlu dipertahankan terlalu lama. Tidak ada citra yang harus dijaga. Hanya orang-orang yang mencoba bertahan, dengan cara mereka masing-masing. Dan entah mengapa, dari situ saya mulai merasa… tidak sendirian.
Makanan yang paling dirindukan
Di penjara itu bila punya uang saya bisa membeli makanan di kantin atau titip beli melalui petugas lapas. Atau mendapat pembagian makanan dari teman yang dibesuk keluarganya. Jadi, soal makan enak itu kadang masih dapatlah. Tapi ada makanan yang paling dirindukan. Yaitu makanan masakan istri yang dinikmati bareng keluarga.
Jadi, momen yang paling membahagiakan ketika awal-awal bebas dari penjara itu adalah bisa merasakan masakan istri bersama anak-anak. Meskipun makanannya sederhana, tapi suasananya itu yang membuat jadi sangat berharga. Hal yang tidak mungkin didapatkan di penjara.
Setelah bebas dari penjara, untuk menjaga agar bisa terus makan bersama keluarga saya harus mulai segera bekerja. Tapi saya bingung mau kerja apa. Modal tidak punya. Kondisi dunia usaha juga tidak tahu. Mau melamar kerja nggak pede, khawatir ditanya pekerjaan terakhir di mana? Masih khawatir orang akan mencibir bila tahu saya baru bebas dari penjara. Khawatir ditanya-tanya kenapa bisa terlibat teroris. Dan yang paling saya khawatirkan adalah orang tidak percaya bahwa saya sudah berubah ingin jadi orang baik.
Untuk membuktikan bahwa saya sudah berubah, sejak di penjara saya telah menyiapkan karya. Sebuah catatan refleksi pemikiran dan sebuah novel fiksi yang cukup panjang menjadi bekal saya untuk membuktikan kepada masyarakat.
Tapi persoalannya adalah: siapa yang mau menghargai karya berupa tulisan? Saya memang yakin suatu saat karya itu akan menemukan jalannya, tapi saat itu benar-benar sempat panik. Bagaimana kalau tidak segera menemukan orang yang mau menghargai karya itu? Padahal keluarga butuh nafkah segera.
Alhamdulillah, sebulan pasca bebas karya itu mulai menemukan jalannya. Pihak Universitas Indonesia menghubungi saya, menyampaikan bahwa mereka ingin membeli tulisan refleksi pemikiran yang saya tulis di penjara. Dari hasil pembelian karya itulah saya kemudian bisa bernafas lega sampai beberapa bulan setelahnya. Sambil mencari-cari info kepada siapa saya bisa menawarkan novel yang saya tulis di penjara.
Akhir Februari 2018 tanpa sengaja saya bertemu dengan junior saya di pesantren dulu yang sudah 10 tahun tidak bertemu. Dialah yang kemudian memperkenalkan saya pada Noor Huda Ismail, yang pada saat itu sedang mempersiapkan acara workshop CVE Communication.
Setelah mengikuti workshop CVE Communication itu saya kemudian bergabung dengan Ruangobrol hingga jadilah saya bisa seperti saat ini. Orang melihat saya tidak hanya sebagai mantan napiter, tetapi juga seorang penulis buku dan credible voices.
Menjadi credible voices yang memiliki karya membuat saya sering melakukan perjalanan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Hal ini tentu saja membuat saya bisa merasakan berbagai jenis makanan baru yang belum pernah ditemui sebelumnya. Dari makanan daerah Sumatera sampai Maluku. Dari makanan Arab, Jepang, sampai Eropa. Dari yang makannya gampang sampai yang butuh keahlian khusus.
Makanan Terlezat
Tapi, di atas semua itu, makanan paling enak adalah makan masakan istri bersama keluarga. Karena bagaimana pun keluarga adalah harta yang paling berharga. Apalagi sekarang istri semakin berani bereksperimen mencoba resep-resep masakan baru.
Dulu dia takut kalau nggak enak. Tapi sejak saya pulang dari penjara, saya bilang bahwa saya akan makan semua hasil masakannya. Tak ada lagi makanan yang tidak enak setelah saya dari penjara. Karena di penjara saya bisa menikmati makanan yang jauh di bawah apa yang dia masak itu.
Bagi saya rasa makanan yang berbeda-beda itu merupakan sebuah mahakarya. Dari rasa makanan yang berbeda-beda itu saya belajar menghargai perbedaan. Meskipun menurut saya kadang rasanya tidak enak, tapi menyenangkan karena menambah pengalaman dan pengetahuan baru.
Saya mulai memahami bahwa yang selama ini saya kejar bukan hanya arah yang salah, tapi juga cara yang keliru dalam memaknai hidup. Saya terlalu sibuk mencari sesuatu yang terasa besar, sampai lupa bahwa hidup justru disusun dari hal-hal kecil yang kita jalani setiap hari. Termasuk sesuatu yang sesederhana makan—yang dulu saya anggap biasa, tapi ternyata menyimpan begitu banyak pelajaran.
Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan. Bila tidak berkenan beliau akan meninggalkannya. Dari sini saya mengambil pelajaran bahwa dari makanan kita bisa belajar menghargai orang lain.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar