SINGAPURA — Sengatan matahari pagi terasa nyelekit di kulit. Dalam beberapa hari terakhir, udara di Singapura terasa lebih panas dan lembap dari biasanya. Panas yang tidak sekadar hangat, tetapi seperti cubitan kecil di kulit ketika berjalan di luar ruangan.
Namun, cuaca itu tidak menyurutkan langkah para orang tua murid yang pagi itu berdatangan ke sekolah. Mereka menuju sebuah acara yang sudah menjadi tradisi bulanan di kalender sekolah: coffee morning.
Setiap bulan, sekolah mengadakan pertemuan ini sebagai ruang berkumpul bagi para orang tua, juga staf guru. Namanya sederhana, tetapi maknanya jauh melampaui secangkir kopi. Di sinilah para orang tua bertemu, belajar bersama melalui workshop, merayakan berbagai hari besar budaya seperti Deepavali, Natal, Tahun Baru, hingga sekadar membuka percakapan dengan teman baru dari berbagai negara.
Baca juga: Tak Ada Mudik, Tapi Ada Rindu yang Pulang
Suasana Hari Raya di Negeri Orang
Pagi itu, suasananya terasa berbeda. Baru dua hari berlalu sejak Idulfitri.
Ketika memasuki ruang parent lounge, ruangan itu tampak berubah wajah. Kain-kain dekoratif menggantung di beberapa sudut, sementara ketupat dari pita berwarna menghiasi meja dan dinding.
Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dipenuhi hidangan khas Melayu, mulai dari klepon dengan gula merah yang meleleh hingga bakso ayam hangat. Suasananya terasa seperti halal bihalal, hanya saja para tamunya datang dari berbagai belahan dunia.
Beberapa sudut ruangan dipenuhi aktivitas seni dan permainan. Ada sudut meronce hiasan pintu khas Hari Raya, ada pula permainan lompat karet yang mengundang tawa para ibu dan anak.
Di meja lain, saya menemukan permainan yang terasa sangat akrab dengan masa kecil. Cara bermainnya mirip bola bekel, tetapi di sini menggunakan lima kantong kecil berisi biji kacang. Permainan ini dikenal sebagai batu seremban, permainan tradisional yang populer di Singapura dan Malaysia.
Tak jauh dari sana, beberapa anak mencoba chapteh, permainan kecil dengan pemberat dan bulu ayam di atasnya yang harus ditendang berulang kali tanpa jatuh ke tanah. Permainan sederhana ini ternyata melatih keseimbangan sekaligus koordinasi mata dan kaki.
Suasana terasa hidup, hangat, dan penuh tawa.
Tradisi yang Berbeda, Makna yang Sama
Saya pun mencoba salah satu aktivitas yang disediakan: melukis tangan dengan henna.
Di sudut ruangan, dua perempuan muda, Almeera dan Sherha, dengan sabar menggambar motif henna di tangan para pengunjung. Keduanya berasal dari Pakistan.
Sambil menggambar, kami berbincang ringan tentang tradisi Hari Raya di negara masing-masing.
Di Pakistan, jelas mereka, masyarakat juga menunggu rukyat hilal, yaitu penentuan awal bulan melalui pengamatan bulan sabit, sebelum merayakan Idulfitri.
“Eid for us is about family gatherings,” kata Almeera.
“It’s the time when relatives visit each other, share food, and reconnect.”
Baginya, merayakan Idulfitri di negara lain memang terasa berbeda.
Almeera sudah tinggal di Singapura selama empat tahun sebagai ekspatriat. Ia mengakui bahwa suasana Lebaran di negeri orang tidak sepenuhnya sama seperti di rumah. Namun, acara seperti coffee morning ini menghadirkan rasa yang hampir serupa.
“Events like this feel like a small version of family gathering,” katanya sambil tersenyum.
Saya juga bertemu beberapa orang tua muslim lain yang berasal dari Tunisia, Palestina, dan Turki. Dari percakapan kecil itu terasa bahwa meskipun tradisinya berbeda, inti perayaan Hari Raya tetap sama: kebersamaan.
Ruang Pertemuan di Kota Diaspora
Acara coffee morning ini memang terbuka untuk semua orang tua, bukan hanya muslim. Justru di sinilah keindahannya.
Orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak saling mengenal bisa duduk berdampingan, berbagi cerita, bahkan belajar permainan tradisional satu sama lain.
Di negara seperti Singapura, ruang pertemuan semacam ini terasa penting.
Menurut Singapore Department of Statistics, sekitar 31 persen penduduk Singapura merupakan warga asing (non-resident population). Sementara itu, di banyak sekolah internasional di negara ini, satu sekolah dapat dihuni oleh siswa dari lebih dari 60 hingga 70 kewarganegaraan berbeda.
Artinya, kehidupan sehari-hari di Singapura memang berlangsung di tengah keberagaman budaya yang sangat luas.
Namun, keberagaman tidak otomatis menciptakan kedekatan.
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Kedekatan lahir dari pertemuan, percakapan, dan pengalaman bersama.
Pepatah lama terasa sangat tepat menggambarkan suasana pagi itu: “tak kenal maka tak sayang.”
Melalui pertemuan sederhana seperti coffee morning, para orang tua tidak hanya mengenal tradisi Melayu atau Hari Raya, tetapi juga tradisi lain.
Dalam percakapan kecil, tawa ringan, dan permainan tradisional, perbedaan budaya perlahan berubah menjadi jembatan.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, namun sering terbelah oleh perbedaan, ruang kecil seperti coffee morning terasa penting.
Kadang, memahami dunia memang dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Seperti secangkir kopi di pagi hari.
Foto utama: Proses melukis tangan dengan henna.(Dok. Desy Ery Dani)
Komentar