Tak Ada Mudik, Tapi Ada Rindu yang Pulang

Review

by Desy Ery Dani Editor by Arif Budi Setyawan

Setiap Lebaran, kita terbiasa melihat rumah-rumah terbuka, meja penuh hidangan, dan keluarga yang saling berpelukan setelah lama berpisah.

Namun, bagaimana rasanya Lebaran jauh dari semua itu? Di mana kita tidak bisa pulang karena kondisi yang menjadi konsekwensi dari pilihan hidup kita?

Ada ruang-ruang hening yang tak terlihat dalam perayaan di tanah rantau. Ruang di mana kenangan tiba-tiba datang tanpa permisi—tentang suara ibu di dapur, tentang ayah yang sibuk menyambut tamu, tentang aroma opor yang seolah bisa menembus waktu. Di sini, yang tersisa seringkali hanya bayangan. Dan rindu, yang tak punya alamat untuk pulang.

Selepas subuh, kubisikkan pelan di telinga Hani agar segera bangun. Pagi ini kami harus menunaikan sholat Ied.

Kedua kakaknya sudah rapi, meski mata mereka masih menyimpan sisa kantuk. Semalam mereka ikut takbiran di masjid. Tidak seperti di Indonesia, gema takbir tidak terdengar bersahut-sahutan di jalanan. Di Singapura, takbir hanya terdengar di dalam rumah atau masjid—tenang, tertata, dan hening.

Keheningan itu, entah kenapa, justru terasa lebih nyaring. Ia seperti ruang kosong yang mengingatkan pada sesuatu yang tidak hadir. Tidak ada suara anak-anak berlarian di gang, tidak ada petasan yang sesekali memecah malam, tidak ada suara tetangga saling bersahutan. Lebaran di sini terasa lebih rapi—dan mungkin, sedikit lebih sunyi.

Beginilah Lebaran di tanah rantau.

Sudah hampir sepuluh tahun kami menjalani Ramadan dan Idul Fitri jauh dari kampung halaman. Tidak ada deretan pintu terbuka dengan toples rengginang, lemper, atau kacang telur. Tidak ada takbir keliling, tidak ada hiruk-pikuk pasar menjelang Lebaran, dan tidak ada cerita mudik yang penuh rindu.

Kadang, yang paling menyakitkan bukanlah jaraknya—melainkan kesadaran bahwa waktu terus berjalan tanpa kita hadir di dalamnya. Anak-anak di kampung tumbuh, orang tua menua, dan tradisi terus berlangsung… tanpa kita menjadi bagian utuh di dalamnya.

Hal-hal kecil itu, yang dulu terasa biasa, justru menjadi yang paling dirindukan.

Di Singapura, masyarakat hidup dalam keberagaman. Sekitar tiga perempat penduduk adalah etnis Tionghoa, diikuti oleh Melayu dan India sebagai kelompok besar lainnya. Muslim menjadi minoritas, namun setiap perayaan agama tetap dihormati dan dirayakan bersama.

Di sekolah taman kanak-kanak tempat anakku belajar, suasana itu terasa nyata.

Meski mayoritas teman-temannya adalah Tionghoa, mereka ikut merayakan Hari Raya. Anak-anak mencicipi kue khas Lebaran, mengenakan baju kurung, dan belajar menyanyikan lagu Melayu.

Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan—melihat anak-anak yang berbeda latar belakang bisa tertawa bersama tanpa sekat. Seolah-olah dunia yang sering kita anggap rumit itu, di mata mereka, sebenarnya sederhana saja: tentang bermain, berbagi, dan saling menerima.

Sebaliknya, saat Tahun Baru Imlek, anakku juga ikut merasakan budaya mereka, belajar menulis huruf Mandarin sederhana, mengenakan pakaian tradisional seperti hanfu atau cheongsam, serta mengikuti kegiatan makan bersama.

Begitu juga dengan perayaan lain seperti Deepavali dari komunitas India, serta Natal yang dirayakan dengan hangat. Semua menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di tengah keberagaman itu, ada rasa saling menghargai yang tumbuh secara alami.

Namun di balik harmoni tersebut, tidak semua orang bisa merayakan Lebaran dengan penuh suka cita.

Ada yang merayakan dengan hati utuh, ada pula yang merayakan sambil menahan runtuh.

Terutama bagi para pekerja migran Indonesia.

Euis, misalnya, telah puluhan tahun menjalani Lebaran jauh dari keluarga. Tahun ini ia berharap bisa pulang ke Garut. Namun menjelang Idul Fitri, anak satu-satunya meninggal dunia karena kecelakaan.

Ada jeda panjang saat ia bercerita. Seolah kata-kata tak lagi cukup menampung perasaannya. Lebaran, yang seharusnya menjadi momentum pulang, justru berubah menjadi pengingat bahwa tidak semua yang kita rindukan masih menunggu di tempatnya.

“Lebaran tahun ini terasa menyakitkan. Sudah tipis rasa bahagianya,” ujarnya.

Siti pun demikian. Ia meninggalkan anak kecilnya di kampung demi masa depan yang lebih baik.

Di balik kalimat singkatnya, ada keputusan besar yang tidak mudah. Ada malam-malam panjang yang diisi dengan rasa bersalah, rindu yang ditahan, dan doa-doa yang mungkin hanya ia sendiri yang tahu seberapa dalam maknanya.

“Kangen sih… tapi demi anak,” katanya.

Cerita mereka mengingatkan bahwa Lebaran tidak selalu tentang kebahagiaan. Ada perjuangan yang sering tidak terlihat.

Ada air mata yang tidak ikut tersaji di meja makan. Ada rindu yang tidak sempat diucapkan. Dan ada pengorbanan yang diam-diam menjadi fondasi bagi kebahagiaan orang lain.

Sebagai diaspora, kami pun menjalani Lebaran dengan cara kami sendiri.

Kami berkumpul, sholat Ied bersama komunitas Indonesia, seringkali di Kedutaan. Bertemu sesama orang Indonesia, mendengar bahasa yang sama, bahkan sekadar berbagi senyum—itu seperti menemukan kembali rumah.

Ada kelegaan yang sulit dijelaskan saat mendengar logat yang familiar, candaan yang terasa dekat, dan sapaan yang tidak perlu diterjemahkan. Sejenak, jarak itu seperti hilang.

Kami juga saling berkunjung antar teman. Menyajikan makanan Indonesia, makan bersama, dan bercakap-cakap. Sederhana, tapi cukup untuk mengobati rindu.

Di momen-momen seperti itu, kami belajar bahwa rumah ternyata bukan hanya soal tempat. Ia bisa hadir dalam bentuk orang-orang yang saling memahami, dalam obrolan ringan yang terasa hangat, dan dalam tawa yang tidak dibuat-buat.

Setelah itu, silaturahmi berlanjut melalui layar kecil di tangan. Telepon, video call, dan pesan singkat menjadi penghubung dengan keluarga di Indonesia.

Ada momen ketika layar itu terasa begitu dekat—namun di saat yang sama, begitu jauh. Kita bisa melihat wajah mereka, tapi tidak bisa memeluknya. Bisa mendengar suara mereka, tapi tidak bisa benar-benar hadir di sisinya.

Memang tidak sama seperti bertemu langsung, tapi tetap terasa dekat.

Karena pada akhirnya, Lebaran selalu kembali pada satu hal: silaturahmi.

Mudik, bagi kami, tidak selalu berarti pulang secara fisik. Kadang cukup dengan melihat wajah orang tua melalui layar, mendengar suara mereka, dan tahu bahwa mereka baik-baik saja.

Dan mungkin, di situlah makna pulang menemukan bentuknya yang lain—bukan tentang jarak yang ditempuh, tapi tentang hati yang tetap terhubung.

Itu sudah cukup.

Karena sejauh apa pun jarak, silaturahmi tidak pernah benar-benar terputus.



Foto: Suasana shalat tarawih di salah satu masjid kecil di sudut Singapura yang selalu penuh hingga meluber ke jalan raya.(Desy Ery Dani)

Komentar

Tulis Komentar