Malaysia dan Kita: Kemiripan Budaya di Tengah Persaingan Asia Tenggara

Review

by Febri Ramdani Editor by Arif Budi Setyawan

Baca kisah sebelumnya: Di Balik Gate Imigrasi Changi: Cerita Kecil tentang Ketegasan dan Rasa Aman

Masih di hari yang sama dengan perjalanan awal di Singapura, tepatnya ba’da Maghrib waktu setempat, saya bersama rombongan travel memasuki wilayah Malaysia melalui Johor. Kota di selatan negeri jiran ini terasa seperti ruang transisi—tidak sepenuhnya asing, tetapi juga bukan rumah sendiri. Dengan populasi sekitar empat juta orang, Johor memberi kesan lebih tenang dibanding hiruk-pikuk kota besar lain di kawasan.

Malaysia menghadirkan nuansa yang lebih familiar dibanding Singapura. Secara bahasa dan kultur, jarak psikologis antara saya dan lingkungan sekitar terasa tipis. Bahkan pada kunjungan kedua ini, perasaan hangat yang menyerupai “rumah” kembali hadir. Malaysia tampak cermat memadukan city tourism dan nature tourism dalam satu narasi yang utuh. Penang hingga Genting Highlands dipromosikan secara agresif dan konsisten. Indonesia tentu memiliki Bali, Lombok, atau Labuan Bajo yang tak kalah memikat, namun Malaysia terlihat lebih rapi dalam membangun branding terpadu sebagai destinasi keluarga sekaligus belanja.

Perjalanan ini membawa saya ke beberapa wilayah ikonik. Penang, misalnya, dikenal luas dengan fasilitas medis bertaraf internasional dan biaya yang relatif terjangkau dibandingkan Indonesia. Di sana pula saya menemukan Nasi Kandar—kuliner hasil percampuran budaya India dan Melayu. Sekilas tampilannya mengingatkan pada hidangan Minangkabau, tetapi cita rasanya menyimpan cerita berbeda.

Konon, makanan ini berawal dari seorang warga Penang keturunan Tamil Muslim yang memiliki keterbatasan finansial. Ia hanya mampu membeli nasi, lalu mencampurkannya dengan berbagai kuah yang tersedia. Dari kesederhanaan itu lahir inspirasi untuk menjual nasi campur kuah dengan cara dipikul di pundak dan dibawa berkeliling. Nama “Kandar” pun menjadi penanda cara ia menghidupi dirinya—sebuah cerita kecil tentang kreativitas yang lahir dari keterbatasan.

Dari Penang, perjalanan berlanjut ke Genting Highlands. Kawasan wisata yang dibangun Lim Goh Tong pada pertengahan 1960-an ini menghadirkan kasino, resor, taman hiburan, hotel mewah, hingga pusat belanja barang bermerek. Ia menjadi magnet wisata sekaligus salah satu penyumbang ekonomi terbesar bagi Malaysia. Di sinilah paradoks itu terasa nyata: sebuah negara dengan identitas Islam yang kuat justru menggantungkan sebagian pemasukan dari industri kasino. Pertanyaan moral dan ekonomi bertemu dalam ruang yang sama—menggambarkan kompleksitas pilihan kebijakan di negara modern.

Secara ekonomi, Malaysia memang berada pada posisi menengah atas di Asia Tenggara. Pendapatan per kapitanya relatif lebih tinggi dibanding Indonesia. Infrastruktur jalan tol, transportasi publik, hingga kawasan bisnis seperti KLCC memperlihatkan keseriusan mereka membangun pusat pertumbuhan. Bahkan, jika dikonversikan ke rupiah, gaji minimum nasionalnya telah menyentuh kisaran tujuh juta rupiah—hampir dua kali lipat dari rata-rata upah minimum nasional di Indonesia.

***

Sebelum cerita perjalanan ini melangkah terlalu jauh ke utara, saya ingin menarik pembaca kembali ke selatan—ke perbatasan Malaysia–Singapura—sebuah ruang yang memperlihatkan wajah lain dari negara ini: keamanan.

Saat melintasi imigrasi Johor, salah satu anggota rombongan kami sempat tertahan selama satu jam. Kami menunggu di dalam bus, menerka-nerka apa yang terjadi. Jujur saja, sempat terlintas kekhawatiran bahwa ia mengalami persoalan yang mirip dengan masa lalu saya. Namun, penyebabnya ternyata sederhana sekaligus rumit: nama lengkap, tanggal, bulan, hingga tahun lahirnya identik dengan seorang buronan kasus tindak pidana perdagangan orang.

Setelah proses klarifikasi selesai, suasana kembali cair dengan gelak tawa. Meski demikian, pengalaman itu membuat saya menghargai ketelitian aparat imigrasi. Di balik ketidaknyamanan sesaat, ada upaya menjaga rasa aman yang menjadi fondasi mobilitas lintas negara.

Isu keamanan lain yang menarik perhatian saya adalah ketatnya pengawasan terhadap umat Muslim selama bulan Ramadan. Seorang tour guide kami, Robin—warga Malaysia keturunan India dari Negeri Sembilan—berbagi kisah tentang pengalamannya saat baru setahun menjadi mualaf di usia 18 tahun. Ia pernah dihentikan petugas patroli dan diminta menunjukkan kartu identitas yang memuat kolom agama. Setelah itu, ia dibawa untuk mengikuti ceramah keagamaan dan menjalani kerja sosial. Kini, pelanggaran serupa bahkan dapat dikenai denda hingga 2.000 ringgit.

Di satu sisi, Malaysia sering dipandang moderat dalam menerapkan nilai-nilai Islam dalam tata negara. Namun, kebijakan seperti ini memunculkan penilaian lain: bahwa praktik di lapangan bisa terasa lebih konservatif dibanding citra yang ditampilkan.

Pada akhirnya, Malaysia bagi saya adalah cermin kompetisi sehat di tingkat regional. Kita serumpun, berbagi banyak kemiripan, tetapi juga saling berlomba membangun reputasi global. Tantangannya bukan sekadar siapa yang lebih unggul, melainkan siapa yang mampu menjaga konsistensi dalam jangka panjang.



Foto: Salah satu sudut kota Kuala Lumpur.(Dok. Febri Ramdani)

Komentar

Tulis Komentar