Perjalanan saya ke Singapura pada 11 Februari 2026 menjadi pembuka rangkaian perjalanan hampir sepekan ke tiga negara Asia Tenggara. Ini juga menjadi momen pertama dalam hidup saya bepergian ke luar negeri secara mandiri—tanpa agenda pekerjaan, tanpa kepentingan institusi, hanya sebagai seorang pelancong yang ingin melihat dunia dengan sudut pandang berbeda.
Singapura selalu menarik untuk diamati. Bukan semata karena gedung-gedung tinggi atau infrastrukturnya yang modern, melainkan karena konsistensi kebijakan publik yang terasa presisi. Dari sistem transportasi yang terintegrasi hingga Bandara Changi yang terkenal disiplin, semuanya bergerak dalam ritme yang tertata.
Dalam isu pencegahan radikalisme dan terorisme, negara kota ini dikenal mengedepankan pendekatan preventif berbasis komunitas. Program rehabilitasi yang melibatkan ulama dari Religious Rehabilitation Group (RRG), psikolog, serta pengawasan digital yang ketat menunjukkan bagaimana kebijakan dijalankan secara berlapis. Indonesia pun telah bergerak melalui program deradikalisasi dan kolaborasi dengan tokoh agama. Namun, Singapura memperlihatkan bagaimana konsistensi regulasi dan ketegasan hukum dapat menekan potensi ancaman sejak dini.
Pengalaman itu langsung saya rasakan ketika hendak melewati dua gate pemeriksaan imigrasi yang menggunakan sistem pindai paspor dan sidik jari. Setelah pemindaian paspor, gate kedua tak kunjung terbuka. Sidik jari saya rupanya memicu sistem keamanan bandara, membuat saya harus menjalani proses “interview” selama hampir tiga jam.
Dalam perjalanan ini saya bergabung dengan sebuah travel dan didampingi seorang tour leader. Ia pun sempat ikut dimintai keterangan oleh petugas imigrasi. Meski tidak masuk ruangan khusus, ia tetap harus menunggu di Bandara Changi hingga proses pemeriksaan selesai. Kebetulan, rombongan lain dari beberapa daerah baru mendarat tiga jam kemudian—waktu yang hampir bersamaan dengan berakhirnya pemeriksaan saya.
Prosesnya cukup menarik. Saya diminta duduk di sebuah sofa besar, lalu dihampiri seorang petugas yang menurut saya berlatar belakang psikologi. Selain menanyakan maksud kedatangan, ia juga meminta saya menulis sesuatu di atas kertas—mungkin untuk melihat karakter goresan tangan saya. Petugas itu beberapa kali keluar masuk ruangan sambil melakukan pemeriksaan latar belakang serta mengecek barang bawaan.
Di ruang tunggu imigrasi, saya melihat banyak orang lain yang juga tertahan dengan durasi berbeda-beda: ada yang sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam, hingga berjam-jam seperti saya. Jika diamati sekilas, sebagian besar yang tertahan memiliki penampilan religius—celana cingkrang, gamis, brewok, atau berwajah Timur Tengah. Hanya sedikit yang tidak masuk kategori tersebut, termasuk saya yang saat itu tampil santai dengan celana pendek dan kaos bertuliskan nama band favorit saya, Linkin Park.
Menjelang sesi terakhir, saya diajak masuk ke sebuah ruangan. Di sana, saya diminta menceritakan perjalanan yang mereka sebut “extraordinary”, yaitu pengalaman saya menelusuri wilayah Suriah pada 2016–2017. Percakapan berlangsung santai, bahkan sesekali diselingi canda. Di akhir diskusi, petugas menyarankan agar saya memberi kabar terlebih dahulu jika suatu saat ingin kembali berkunjung ke Singapura. Saya mengangguk, sambil menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti kolaborasi lintas negara dalam penanggulangan radikalisme bisa benar-benar terwujud.
Tentu saja, tertundanya jadwal liburan sempat terasa mengganggu. Namun di sisi lain, saya justru melihat keseriusan Singapura dalam menjaga keamanan negaranya. Letaknya sebagai hub perdagangan internasional membuat arus keluar-masuk orang dan barang diawasi dengan ketat demi menjaga stabilitas serta reputasi global.
Dalam banyak aspek, Singapura memang beberapa langkah di depan Indonesia dalam produktivitas dan daya saing. Negara kota ini memaksimalkan keterbatasan wilayah melalui strategi berbasis jasa, keuangan, logistik, dan teknologi. Indonesia memiliki sumber daya alam yang jauh lebih besar, tetapi Singapura menunjukkan bahwa tata kelola yang rapi dan kepastian hukum sering kali menjadi magnet utama bagi investasi.
Dari sisi pariwisata, pengalaman urban modern terasa kuat—Marina Bay yang futuristik, Orchard Road yang dinamis, hingga Kampong Glam yang menyimpan jejak heritage. Indonesia mungkin unggul dalam kekayaan alam dan keragaman budaya, namun Singapura menang dalam pengemasan, kebersihan, dan kemudahan akses. Tidak ada kesan semrawut; semuanya tertata. Bagi pribadi yang perfeksionis dan menyukai keteraturan, kota ini terasa seperti ruang yang dirancang dengan sangat sadar.
Perjalanan singkat ini meninggalkan satu pelajaran sederhana: ukuran wilayah bukanlah penentu kemajuan. Disiplin kolektif, integritas sistem, dan visi jangka panjanglah yang membuat sebuah negara mampu melompat lebih cepat.
Foto: Salah satu sudut Gardens by the Bay.(Dok. Febri Ramdani)
Komentar