Solidaritas Melintasi Benua: Anak Muda Asia-Afrika Melawan Kebencian

News

by Akhmad Kusairi Editor by Arif Budi Setyawan

Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, sebuah ruang pertemuan di Oria Hotel, Jakarta, menjadi saksi lahirnya ikrar penting anak muda Asia dan Afrika. Tanggal 16 September 2025 itu, puluhan pemuda lintas negara hadir bukan sekadar untuk berbagi cerita, tapi untuk menyatukan langkah. Mereka datang dari Burundi, Kongo, Irak, Kenya, Nigeria, Filipina, hingga Indonesia sebagai tuan rumah.

Acara bertajuk Asia-Africa Youth Cross-Country Learning Exchange on Digital Safety and Human Rights ini mungkin terdengar formal, namun suasananya jauh dari kaku. Sejak pagi, peserta saling menyapa, bertukar senyum, dan berbincang meski dengan bahasa yang berbeda. Ada yang gugup karena baru pertama kali meninggalkan negaranya, ada pula yang antusias karena bisa bertemu teman-teman baru dengan latar belakang beragam.

Dari Layar Gawai ke Layar Kehidupan

Sebagian besar peserta datang dengan membawa pengalaman yang tak ringan. Internet, yang seharusnya menjadi ruang belajar dan hiburan, justru pernah menjadi pintu masuk ke dalam kegelapan. Ada yang kehilangan teman karena terjerat rekrutmen kelompok ekstremis lewat gim online. Ada yang sempat terseret dalam arus konten kebencian di media sosial. Ada pula yang melihat langsung bagaimana keluarganya terbelah karena berita bohong yang beredar tanpa henti.

Cerita-cerita itu membekas. Semua menyadari betapa besar bahaya yang mengintai ruang digital. Ujaran kebencian, propaganda ekstremis, hoaks, hingga konten diskriminatif hadir di layar gawai setiap hari, menunggu siapa saja yang lengah untuk terperangkap.

Namun dari pengalaman pahit itu pula lahir tekad untuk mencari jalan keluar bersama.

Deklarasi yang Lahir dari Solidaritas

Pertemuan di Oria Hotel itu akhirnya melahirkan Deklarasi Pemuda Asia-Afrika tentang Keamanan Digital dan Hak Asasi Manusia. Dokumen ini bukan sekadar tumpukan kalimat formal, melainkan suara kolektif yang digarap dari pertemuan pikiran, tawa, dan bahkan air mata.

Isi deklarasi menegaskan lima hal penting. Pertama, pentingnya literasi digital bagi anak muda agar bisa memilah informasi yang benar dan menolak jebakan kebohongan. Kedua, perlunya hukum yang jelas dan adil agar ruang digital tak lagi dibiarkan liar. Ketiga, dorongan untuk berkolaborasi lintas sektor—dari pemerintah, akademisi, media, komunitas lokal, hingga keluarga—supaya keamanan digital bukan hanya tanggung jawab segelintir pihak.

Keempat, kampanye kesadaran yang terus digelorakan, baik online maupun offline, sehingga pesan perdamaian tak pernah padam. Dan kelima, perusahaan teknologi harus ikut bertanggung jawab menjaga ruang digital, tidak hanya sekadar mengejar keuntungan.

Menggali Akar Masalah

Dalam diskusi yang hangat, para peserta juga sepakat bahwa radikalisme tidak hanya tumbuh karena perbedaan keyakinan. Masalah yang lebih dalam sering menjadi pemicunya: kemiskinan, ketidaksetaraan, dan keterbatasan akses. Ketika kondisi itu dipolitisasi, konflik identitas semakin mudah meledak.

Maka, melawan ekstremisme tidak bisa hanya mengandalkan narasi agama atau politik. Ia harus dimulai dengan membangun masyarakat yang inklusif. Jika setiap orang mendapat kesempatan yang sama dalam pendidikan, ekonomi, dan pengakuan budaya, ruang bagi kebencian akan semakin menyempit.

Pesan dari Jakarta untuk Dunia

Bagi banyak peserta, perjalanan ke Jakarta meninggalkan kesan mendalam. Ada yang datang dengan cemas, ada yang berangkat dengan penuh optimisme, tapi semuanya pulang dengan keyakinan baru: perubahan bisa dimulai dari pemuda.

Deklarasi yang mereka bacakan di Oria Hotel menjadi simbol bahwa generasi muda Asia-Afrika siap mengambil peran. Pesannya jelas: internet bukan sekadar ruang bebas tanpa batas, tetapi juga ruang yang harus dijaga bersama agar tetap aman, adil, dan berpihak pada kemanusiaan.

Dari Jakarta, gema suara itu melintasi benua, membawa pesan solidaritas yang menolak diam di hadapan intoleransi.

Asa yang Menyala

Menjelang senja, di lobi hotel, beberapa peserta masih duduk melingkar, tertawa sambil berbagi cerita ringan. Tak ada sekat bahasa, tak ada jarak kulit atau agama. Yang tersisa hanya rasa sama: keinginan untuk melihat dunia lebih damai.

Momen sederhana itu menjadi simbol yang kuat. Bahwa pemuda Asia-Afrika kini punya cara baru untuk melawan ekstremisme: bukan dengan senjata, melainkan dengan pena, kamera, dan gawai. Bukan dengan amarah, melainkan dengan solidaritas.

Dan dari solidaritas itulah, kita bisa percaya bahwa di tengah badai intoleransi dan ekstremisme, selalu ada generasi yang memilih menyalakan lilin harapan.



Foto Utama: Penandatanganan dokumen deklarasi (credit from: Redaksi.co)

Komentar

Tulis Komentar