Tumpeng Perdamaian: Ketika Mantan Musuh Kini Duduk Bersama di HUT RI ke-80

News

by M. Saifuddin Umar Editor by Arif Budi Setyawan

SURABAYA - Suasana hangat menyelimuti ruang pertemuan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya pada Jumat siang (15/8/2025). Pukul dua tepat, sekelompok orang mulai memenuhi kursi-kursi yang ditata rapi. Bukan sekadar pertemuan formal, melainkan sebuah momen yang sarat makna: silaturahmi menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Yang membuat acara ini terasa begitu istimewa adalah kehadiran mereka yang dulu pernah memilih jalan kelam: sekitar 20 eks narapidana terorisme dari berbagai kasus besar yang pernah mencoreng wajah bangsa. Dari jaringan Jamaah Islamiyah hingga ISIS, dari masa lalu penuh luka hingga kini hadir dengan senyum—sebuah transformasi yang nyaris tak terbayangkan.

Acara dibuka dengan lantunan doa dari Abu Fida, seorang eks napiter yang kini memilih jalan damai. Suaranya tenang, khusyuk, dan penuh penghayatan, seolah menandai perjalanan panjang dari kegelapan menuju cahaya.
“Acara seperti ini mengingatkan kita bahwa kita semua adalah satu keluarga besar Indonesia,” ucapnya setelah memimpin doa, dengan mata berbinar yang memantulkan harapan baru.

Musuh Menjadi Mitra

Yang juga menambah bobot acara adalah kehadiran perwakilan Densus 88 Satgas Wilayah Jawa Timur, lembaga yang dulu menjadi “musuh bebuyutan” para eks napiter. Kali ini, mereka duduk berdampingan, tanpa sekat, tanpa curiga.

Kompol Dr. Dhani, SH, MH menyampaikan sambutan yang penuh penghargaan. “Hari ini kita melihat bukti nyata bahwa transformasi itu mungkin. Saudara-saudara yang hadir di sini adalah bukti hidup bahwa manusia dapat berubah, dan perubahan itu harus kita dukung bersama,” katanya.

Kata-katanya seolah menegaskan: perdamaian bukan lagi sekadar jargon, tapi kenyataan yang hadir di depan mata.

Kisah dari Balik Jeruji

Setiap mantan narapidana yang hadir membawa cerita. Ada yang kini menjadi dai, menebar pesan damai di mimbar-mimbar kecil kampung. Ada pula yang beralih menjadi pengusaha kecil, menciptakan lapangan kerja dan harapan baru bagi sekitarnya. Sebagian lagi aktif di kegiatan sosial, menolong siapa saja tanpa memandang suku atau agama.

Seorang peserta, Usman (nama samaran), mantan anggota Jamaah Islamiyah, menuturkan dengan suara bergetar:
“Dulu saya pikir negara adalah musuh. Tapi sekarang saya sadar, merekalah yang menolong saya menjadi manusia yang lebih baik.”

Kalimat singkat yang menohok, menggambarkan betapa dalamnya perubahan itu.

Tumpeng, Simbol Persatuan

Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng. Abu Fida dan Kompol Dhani bersama-sama memotongnya, sebuah simbol persatuan yang kuat. Tangan yang dulu berseberangan kini menyatu di atas hidangan syukur, meneguhkan tekad menjaga kemerdekaan yang telah diwariskan.

Doa kembali dipanjatkan: syukur atas kemerdekaan, syukur atas kesempatan kedua yang diberikan bangsa kepada anak-anaknya yang pernah tersesat.

Dari Surabaya untuk Indonesia

Silaturahmi itu tak berhenti pada simbol. Forum komunikasi rutin, program pemberdayaan ekonomi, hingga inisiatif sosial menjadi usulan konkret untuk masa depan. Pemerintah Kota Surabaya menyambut dengan antusias. “Transformasi ini patut kita dukung bersama,” tegas Kepala Bakesbangpol.

Acara ditutup dengan pelukan, tawa ringan, dan foto bersama. Wajah-wajah yang dulu terasing kini tampak menyatu dalam satu bingkai besar: Indonesia yang damai.

Silaturahmi di Surabaya ini menjadi bukti bahwa deradikalisasi bukan sekadar teori. Ia nyata, hidup, dan tumbuh. Ia menunjukkan bahwa bangsa ini tak hanya tegas menghadapi radikalisme, tetapi juga besar hati merangkul kembali.

Menjelang HUT ke-80 Republik Indonesia, Surabaya memberikan teladan: bahwa perdamaian bukan hanya milik aparat, bukan hanya milik pemerintah, melainkan milik kita semua—anak bangsa yang ingin terus merawat merah putih dalam kebersamaan.[Abu Fida]

Foto: Para peserta silaturahmi berfoto bersama di sela kegiatan berlangsung.(Abu Fida)

Komentar

Tulis Komentar