Menilik Kolaborasi Pentahelix Dalam Acara Dialog Kebangsaan Di Universitas Bojonegoro

News

by Redaksi Editor by Redaksi

Kegiatan dialog kebangsaan yang diselenggarakan oleh Paguyuban Karimon bekerjasama dengan Densus 88 Satgaswil Jawa Timur, Universitas Bojoneogoro (Unigoro), dan Pemkab Bojonegoro, yang lalu merupakan sebuah prestasi besar. Tidak hanya bagi Paguyuban Karimon sebagai penggagas kegiatan, tetapi juga bagi semua pihak yang terlibat.

“Acara kami kemarin dihadiri oleh sekitar 250 orang undangan. Kemudian yang mengikuti melalui siaran langsung dari kanal Youtube Pemkab Bojonegoro sebanyak 2600-an orang. Jika dijumlahkan antara yang hadir offline dan online, maka kegiatan kami diikuti oleh hampir 2900 orang”, tutur Sasmito Anggoro, koordinator lapangan acara kepada redaksi melalui sambungan telepon.

Di samping itu, Anggoro juga menyebut bahwa acara itu diberitakan oleh lebih dari 25 media lokal dan nasional. “Ini sungguh pencapaian yang luar biasa”, tandasnya.

Dari pembahasan tema sudah terlihat siapa saja yang dilibatkan. Moderasi beragama melibatkan Kemenag. Pencegahan radikalisme-terorisme melibatkan Densus 88, eks napiter, dan akademisi. Kemudian pemberdayaan UMKM melibatkan Pemkab Bojonegoro dan dunia usaha. Lalu untuk publikasi kegiatan melibatkan media-media lokal.

Dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme, ada konsep kerjasama multipihak dalam lingkup lebih luas yang disebut dengan “kolaborasi Pentahelix”. Pentahelix adalah model kolaborasi yang melibatkan lima unsur utama, yaitu pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media. Konsep ini juga dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti penanggulangan bencana, pengembangan pariwisata, dan pembangunan daerah berkelanjutan.

Baca juga: Sinergi Multipihak Dalam Dialog Kebangsaan Di Universitas Bojonegoro

Kesuksesan acara dialog kebangsaan yang digagas oleh Paguyuban Karimon (09/01/2025) merupakan salah satu contoh praktek kolaborasi Pentahelix. Meskipun masih dalam lingkup sebuah kegiatan dan belum pada tataran sebuah program. Tetapi berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh ketua panitia dalam sambutannya, proses sejak awal perencanaan hingga terlaksananya kegiatan sudah cukup membuktikan adanya kolaborasi Pentahelix tersebut.

Dalam sambutannya, ketua panitia menyebut bahwa yang pertama kali menyambut gagasan kegiatan adalah pihak Universitas Bojonegoro (akademisi). Lalu mendapat dukungan dari Densus 88 Satgaswil Jawa Timur dan beberapa instansi di lingkungan Pemkab Bojonegoro (pemerintah). Kemudian setelahnya mendapatkan sumbangan pendanaan dari beberapa BUMN dan beberapa perusahaan swasta (dunia usaha). Selain dari BUMN dan swasta, pihaknya juga menerima sumbangan dari perorangan (masyarakat). Kemudian dalam menyebarkan undangan dan rencana kegiatan kepada masyarakat, pihaknya dibantu oleh beberapa media lokal yang sebelumnya sudah pernah meliput kegiatan eks napiter di Bojonegoro.

“Ke depan kami akan selalu menerapkan kerjasama Pentahelix dalam semua kegiatan kami. Sehingga harapannya dapat memberikan dampak yang positif bagi semua pihak. Bukan hanya bagi paguyuban”, tutur Arif Budi Setyawan ketua Paguyuban Karimon melalui sambungan telepon.

Lebih lanjut Arif menyebut bahwa pihaknya ingin membuktikan bahwa kolaborasi Pentahelix itu tidak hanya bisa dilakukan di hulu seperti yang biasa dilakukan oleh BNPT. Tetapi juga bisa dilakukan di hilir dalam skala yang lebih kecil.

“Dengan kata lain kami ingin membuktikan bahwa inisiatif kolaborasi Pentahelix itu bisa dilakukan secara bottom up (dari bawah ke atas), dan tidak harus top down (dari atas ke bawah)”, pungkasnya.[]

Komentar

Tulis Komentar