Di tengah derasnya arus informasi hari ini, ada satu hal yang sering luput kita sadari: siapa yang tidak menulis, perlahan akan hilang dari percakapan. Bukan karena tidak punya pikiran, tapi karena tidak pernah menuangkannya.
Kegelisahan itulah yang coba dijawab oleh WAVE Community (Women Against Violent Extremism) melalui kegiatan Sharing Session bertajuk “Menulis atau Diam: Pilihan Intelektual Seorang Muslimah” pada Rabu, 8 April 2026. Digelar secara daring selama kurang lebih tiga setengah jam, kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang “menyadarkan” bahwa menulis bukan sekadar kemampuan, tapi juga pilihan sikap.
Sebanyak 93 peserta hadir dari total sekitar 180 pendaftar. Mereka datang dari berbagai daerah—mulai dari kota-kota di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Bahkan ada juga peserta dari luar negeri seperti Qatar, Jepang, Malaysia, dan Abu Dhabi. Ini menunjukkan bahwa isu yang diangkat terasa dekat dan relevan, lintas batas geografis.
Pesertanya pun beragam. Ada mahasiswa, santri, akademisi, hingga pekerja di instansi pemerintah dan komunitas. Tapi mereka punya satu kesamaan: ingin belajar menulis, atau setidaknya ingin mulai berani menulis.
Dalam sesi ini, narasumber dari WAVE Community tidak hanya membahas teknik menulis seperti biasanya. Mereka mengajak peserta melihat lebih dalam—bahwa dunia hari ini bukan hanya soal fakta, tapi juga soal narasi. Informasi tidak selalu hadir secara netral. Ada framing, ada sudut pandang, ada kepentingan.
Di situ, menulis jadi penting. Karena ketika kita tidak menulis, kita sebenarnya sedang membiarkan orang lain mendefinisikan realitas untuk kita.
Materi yang disampaikan cukup lengkap, tapi tetap dibawakan dengan ringan. Mulai dari cara menemukan ide dan research gap, menyusun alur tulisan, hingga teknik parafrase dan pengelolaan referensi akademik. Semua dijelaskan dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian peserta, sehingga tidak terasa “berat” meskipun materinya cukup teknis.
Yang menarik, banyak peserta yang awalnya merasa menulis ilmiah itu sulit, justru mulai merasa “ternyata bisa dipelajari”. Bahkan beberapa mengaku termotivasi untuk langsung mencoba—menulis esai, menyusun proposal, atau memperbaiki skripsi mereka.
Ada juga yang melihat menulis dari sudut yang lebih luas: sebagai bagian dari kontribusi sosial, bahkan sebagai medium dakwah. Artinya, tulisan tidak lagi hanya dilihat sebagai tugas akademik, tetapi sebagai cara untuk ikut berbicara di tengah masyarakat.
Dukungan dari berbagai media partner juga ikut memperluas dampak kegiatan ini. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa upaya membangun budaya menulis dan berpikir kritis tidak bisa dilakukan sendirian—perlu jejaring yang saling menguatkan.
Sesi ini seperti mengingatkan kembali hal yang sering kita tunda, bahwa menulis itu bukan soal menunggu pintar, tapi soal mulai.
Karena di tengah dunia yang terus bising, diam memang pilihan. Tapi menulis adalah cara untuk tetap didengar.[]
Komentar