Densus 88: Bullying dan Ruang Digital Jadi Pintu Masuk Radikalisme di Kalangan Pelajar

News

by Eka Setiawan Editor by Arif Budi Setyawan

SEMARANG - Bullying dan akses digital tanpa kontrol jadi kombinasi berbahaya bagi anak muda tak terkecuali pelajar untuk melakukan aksi kekerasan. Saat mereka mengalami perundungan mereka rentan mencari pelarian, identitas baru, komunitas alternatif dan pembenar diri.

Hal itu diungkapkan Kepala Unit Idensos Satgaswil Jateng Densus 88/Antiteror Polri Kompol Lugito Gopar saat kegiatan Meet & Greet Densus: Bahaya Intoleransi, Radikalisme, Terorisme di Kalangan Pelajar dan Ruang Digital di SMAN 6 Kota Semarang, Selasa (10/2/2026).

"Kerentanan ini dieksploitasi konten ekstrem atau individu tak bertanggungjawab melalui game online dan media sosial. Platform ini sering dipakai untuk menyebarkan ide ekstrem, propaganda kekerasan, ajakan ke grup tertutup dan penyebaran narasi kebencian," kata Gopar di depan 150 pelajar yang jadi peserta kegiatan itu.

Gopar menuturkan kasus kekerasan di sekolah yang dilakukan pelajar SMA di Jakarta pada November 2025 lalu dan teranyar oleh pelajar SMP di Kalimantan Barat jadi contoh nyata bahaya paparan ekstrem dari ruang digital.

Di Jawa Tengah dia juga mencontohkan kasus pelajar di Pemalang, Jawa Tengah pada tahun 2025. Awalnya pelajar itu korban perundungan kemudian mencari pelarian di media sosial, bergabung grup tertentu di aplikasi perpesanan kemudian berubah menjadi radikal.

"Perekrutnya kami lakukan penegakkan hukum (ditangkap), ada di Purworejo, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Semarang," sambungnya.

Menurut Gopar, kolaborasi lintas sektor penting dilakukan dengan dialog langsung dengan pelajar. Sebabnya, menyentuh langsung dengan interaksi.

"Alhamdulillah sekarang kita bisa bekerjasama dengan provinsi, menyampaikan sosialisasi pencegahan intoleransi, radikalisme dan terorisme kepada anak-anak di Jawa Tengah," jelasnya.

Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Badan Kesbangpol Jateng M. Agung Hikmati menyebut kolaborasi ini dilakukan sebagai langkah cepat preventif.

"Keterpaparan anak-anak muda makin meningkat, jadi kami ambil langkah cepat," kata dia seraya menjelaskan konsep Meet & Greet sengaja dipilh untuk bisa lebih diterima kalangan Zilenial.

Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Jateng Kusno mengemukakan kasus yang pernah ditanganinya ketika ada pelajar melakukan kekerasan karena kurang pergaulan sehingga nekat bertindak sendirian.

"Berhenti saja sebagai kogintif (ketika mendapati konten ekstrem di ruang digital) , jangan sampai afektif. Berorganisasi itu penting, jangan berafiliasi ke kelompok yang merugikan, sibuklah kalian dalam jalur-jalur kebaikan," kata mantan Kepala Sekolah SMAN 1 Kota Semarang itu di depan ratusan pelajar.

Kegiatan di SMA N 6 Kota Semarang digelar kerjasama Satgaswil Jateng Densus 88/AT Polri, Badan Kesbangpol Jateng dan Disdik Jateng berkolaborasi dengan Bacaaja.co. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Jateng Iwanudin Iskandar jadi pembicara kunci kegiatan ini.

Chief Operating Officer Bacaaja.co Puji Utami menyebut pihaknya merasa perlu berperan aktif sebagai tanggung jawab bersama.

"Kami ingin ambil bagian pencegahan agar anak-anak tidak tersangkut kekerasan, intoleransi dan sejenisnya. Kegiatan ini jadi pilot project," ungkapnya.[eka setiawan]

Foto utama:

Kegiatan Meet & Greet Densus: Bahaya Intoleransi, Radikalisme, Terorisme di Kalangan Pelajar dan Ruang Digital di SMAN 6 Kota Semarang, Selasa (10/2/2026).[Eka Setiawan]

Komentar

Tulis Komentar