Misykat: Lentera dari Palestina di Madani Film Festival 2025

News

by Akhmad Kusairi Editor by Arif Budi Setyawan

Jakarta sore itu terasa padat seperti biasa. Tapi di depan Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Rabu (8/10/2025), suasananya berbeda. Orang-orang berdatangan dengan langkah pelan, sebagian berfoto di depan backdrop bertuliskan “Madani International Film Festival 2025 – Misykat”. Ada yang datang dengan rasa penasaran, ada yang datang dengan harapan. Seolah, di tengah hiruk-pikuk ibu kota, mereka ingin menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar tontonan.

Madani Fest bukan festival film biasa. Ia adalah perayaan sinema yang memadukan spiritualitas dan kemanusiaan, tempat orang bisa melihat dunia dengan kacamata empati. Tahun ini, festival yang sudah memasuki edisi kedelapan itu mengusung tema “Misykat”—sebuah kata Arab yang berarti lentera atau cermin cahaya. Tema yang terasa sangat relevan di masa ketika dunia sering diselimuti oleh kabar perang, polarisasi, dan kehilangan arah.

Dari Palestina, Cahaya Itu Datang

Lampu di dalam studio perlahan meredup. Di layar besar, muncul film pembuka berjudul “All That’s Left of You” karya Cherien Dabis, sineas keturunan Palestina-Amerika. Film ini berkisah tentang seorang ibu Palestina yang mengenang putranya, seorang pemuda yang gugur saat melawan ketidakadilan. Ia tak hanya kehilangan anaknya, tapi juga kehilangan sebagian dirinya. Namun di balik duka, film ini menyalakan sesuatu yang lain: keteguhan, cinta, dan keberanian untuk tetap manusia di tengah kekerasan.

Tak ada dialog panjang yang berapi-api. Hanya suara lembut sang ibu, diselingi ingatan tentang tawa anaknya dan suara ledakan di kejauhan. Tapi justru di kesunyian itulah penonton diajak merenung. Tentang bagaimana luka bisa menjadi ruang menemukan makna. Tentang bagaimana kehilangan bisa menjadi lentera bagi orang lain.

Film ini adalah simbol harapan dan keberanian. Ia membawa pesan bahwa kemanusiaan selalu punya ruang, bahkan di tengah kekerasan dan kehilangan,” ujar Achmad Rifki, Direktur Madani Fest, usai pemutaran film. “Inilah makna sejati Misykat: menemukan cahaya kemanusiaan di tengah gelapnya konflik.”

Film Sebagai Cermin Diri

Bagi Garin Nugroho, sutradara dan anggota board Madani Fest, tema Misykat bukan sekadar simbol estetika. Ia adalah panggilan moral.

Terang bukan hanya soal cahaya, tapi kesadaran. Dalam hidup yang sering gelap oleh kebencian dan ketidakadilan, kita butuh sinema yang memberi arah. Film bisa menjadi lentera yang menuntun manusia menemukan kembali nilai-nilai kemanusiaannya,” kata Garin dalam sambutannya.

Ia menegaskan, keberadaan festival seperti Madani Fest penting di tengah banjir hiburan digital yang sering kali hanya mengejar sensasi. “Kita perlu ruang yang menjaga makna sinema. Bahwa film bukan sekadar industri, tapi jalan spiritual untuk memahami manusia.”

Kata-kata Garin disambut tepuk tangan panjang. Mungkin karena banyak yang merasakan hal yang sama: bahwa dunia saat ini butuh ruang untuk merenung, bukan sekadar bersenang-senang.

Ruang Iman dan Imajinasi

Di sisi lain, Inaya Wahid, anggota board Madani Fest lainnya, memberi makna tambahan bagi tema Misykat.
Madani Fest adalah ruang perjumpaan antara iman dan imajinasi. Di sini, keduanya berjalan berdampingan, saling menguatkan.

Baginya, menonton film di Madani Fest bukan soal menikmati karya orang lain semata, tapi juga soal bercermin kepada diri sendiri—tentang siapa kita, dan bagaimana kita memperlakukan sesama.

Suasana malam pembukaan semakin syahdu ketika kelompok musik Almamosca tampil membawakan lagu-lagu bernuansa etnik dan kontemplatif. Nada-nada mereka seperti doa yang melayang, menyatukan seni dan spiritualitas dalam satu harmoni yang lembut.

Lentera dari 24 Negara

Tahun ini, Madani Fest menerima 1711 karya dari 24 negara. Sebanyak 95 film dari berbagai belahan dunia—Timur Tengah, Asia Selatan, Eropa, dan Afrika—akan tayang selama lima hari di Taman Ismail Marzuki, Epicentrum XXI, Metropole XXI, dan Universitas Bina Nusantara.
Untuk kompetisi film pendek, ada
1470 peserta dengan 15 finalis dari delapan negara yang akan bersaing memperebutkan empat penghargaan dari juri internasional seperti Philip Cheah (Singapura), Sajid Farda (Inggris), dan Natalie Stuart (Australia).

Namun angka-angka itu bukan hal utama. Yang penting adalah jembatan kemanusiaan yang dibangun lewat film—tentang bagaimana kisah dari berbagai tempat bisa mempertemukan orang-orang dalam rasa yang sama: empati.

Menyalakan Cahaya, Sekecil Apa Pun

Di akhir acara, Achmad Rifki menutup dengan kalimat yang terasa seperti doa:
Kegelapan tak akan pernah benar-benar menang selama manusia mau menyalakan cahaya.

Kalimat itu sederhana, tapi menyentuh. Karena di dunia yang semakin bising dan terbelah, kita memang butuh lentera—lentera kecil yang mengingatkan bahwa kemanusiaan masih ada, dan masih bisa diperjuangkan.

Madani Fest 2025 menjadi pengingat bahwa film bukan hanya hiburan, tapi juga refleksi spiritual dan sosial. Bahwa di balik layar, ada cermin besar bernama kemanusiaan, tempat kita bisa melihat siapa diri kita sebenarnya.

Dan mungkin, seperti tema tahun ini, Misykat, kita semua sedang belajar menyalakan lentera itu—sekecil apa pun—agar dunia tak sepenuhnya tenggelam dalam gelap.[akhmad kusairi]



Foto Utama: Pembukaan Madani International Film Festival 2025 di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Rabu (8/10/2025).(Dok. Akhmad Kusairi)

Komentar

Tulis Komentar