Densus 88 Deteksi Puluhan Anak di Jateng Terpapar Konten Kekerasan via Medsos

News

by Eka Setiawan Editor by Arif Budi Setyawan

SEMARANG — Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Jawa Tengah Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror mendeteksi puluhan anak di wilayah Jateng yang terpapar konten hingga ideologi kekerasan melalui ruang digital. Mereka terpapar via online, baik melalui gim, berbagai platform media sosial (medsos), hingga akhirnya masuk grup-grup WhatsApp (WA) yang berisi konten-konten kekerasan dan ekstremisme.

Rentang usia mereka 12 tahun hingga 16 tahun, para pelajar SMP–SMA. Sebagian besar di antara mereka laki-laki, namun ada pula yang perempuan.

“Benang merahnya mereka rata-rata korban bullying, pola asuh orangtua, kekecewaan-kekecewaan tertentu, kemudian pelariannya di medsos,” ungkap Perwira Satgaswil Jateng Densus 88/AT Ipda Ferry saat diwawancara di Kota Semarang, Selasa (6/1/2026) malam.

Berdasar pemantauan tim Densus, kata dia, sepanjang tahun 2025 hingga awal tahun 2026 ini sedikitnya ada 22 anak di Jateng yang terpapar. Terinci; 13 orang masuk grup yang mempromosikan kekerasan ekstrem kanan, 8 orang masuk grup ekstrem kiri dan ada 1 anak lain yang ikut dua grup tersebut. Grup-grup di mana mereka bergabung itu di antaranya; Qiyas, Al Kojah hingga True Crime Community (TCC).

Grup-grup itu bisa terbentuk berkat berbagai cara, di antaranya percakapan gim online yang berlanjut ke klik link masuk WA grup maupun dari komentar-komentar di platform medsos macam TikTok yang menyertakan link untuk bergabung grup.

Anak-anak ini tersebar di berbagai wilayah di Jateng, di antaranya; Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Pekalongan, Kebumen, Jepara, Tegal, Karanganyar, Banyumas, Demak, Banjarnegara hingga Kabupaten Magelang.

“Mereka ini sebelumnya tidak saling kenal satu sama lain, belum pernah bertemu offline. Di grup-grup itu kontennya mempromosikan tentang kekerasan, ada juga tutorial bongkar pasang senjata, tutorial bikin bom,” sambungnya.

Ipda Ferry menambahkan pihaknya melakukan deteksi dini, termasuk pemantauan aktivitas anak-anak tersebut sebagai bentuk pencegahan. Tim menyambangi anak-anak tersebut, berkomunikasi, mewawancarai untuk menggali lebih dalam fenomena tersebut termasuk juga dengan para orangtua mereka yang rata-rata berangkat dari ekonomi menengah ke atas.

Tim Densus juga telah berkoordinasi dengan stakeholder terkait, di antaranya; UPTD Provinsi Jawa Tengah, Polda Jateng, Dinas PPA Jawa Tengah, psikolog hingga Dinas Pendidikan. Densus berharap fenomena ini bisa ditangani secara kolaboratif mengingat kompleksitas persoalannya namun tetap memperhatikan hak-hak anak. (eka setiawan)

Fenomena Nasional: 68 Anak di 18 Provinsi Terpapar Ideologi Kekerasan Ekstrem

Selain temuan di Jateng, penanganan Densus 88 di tingkat nasional juga mengungkap kasus yang lebih luas: selama tahun 2025, sebanyak 68 anak di 18 provinsi di Indonesia terpapar ideologi ekstrem seperti Neo-Nazi dan White Supremacy yang tersebar melalui grup online bernama True Crime Community (TCC).

Kabareskrim Polri, Komjen Syahardiantono, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan salah satu capaian Densus dalam rilis akhir tahun 2025. Anak-anak tersebut terpapar paham kekerasan ekstrem melalui ruang digital, di mana mereka ditemukan telah menguasai berbagai senjata berbahaya dengan rencana aksi yang menyasar lingkungan sekolah serta teman sejawat mereka.

Pengungkapan ini menunjukkan bahwa ekstremisme digital kini tidak hanya soal radikalisme di Jateng, tetapi juga menyentuh isu supremasi ras dan ideologi kekerasan lain yang menyasar anak-anak di berbagai daerah.

Dalam konteks nasional, fenomena ini menjadi bagian dari tantangan yang lebih besar, di mana ruang digital memfasilitasi penyebaran paham kekerasan dan ekstremisme lintas wilayah dan usia, sehingga memerlukan koordinasi dan respons dari berbagai pihak seperti aparat hukum, pendidikan, psikolog, serta keluarga dan masyarakat luas.[eka setiawan]



Foto: Barang bukti yang ditemukan di TKP ledakan SMAN 72, Jumat (7/11/2025). [IST]

Komentar

Tulis Komentar