Sinergi Pemerintah dan Kampus dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Bangka Belitung

News

by Ilham Alfarizi Editor by Arif Budi Setyawan

Pagi itu, di bawah langit Bangka Belitung yang teduh, kampus Universitas Bangka Belitung terasa berbeda—seolah menyimpan napas panjang sebelum memulai percakapan penting tentang masa depan anak muda negeri ini. Di lorong-lorongnya, langkah mahasiswa terdengar pelan namun yakin, seperti ritme hati yang sedang belajar memahami dunia yang semakin rumit. Mereka datang bukan sekadar menghadiri kuliah umum, tetapi sebagai bagian dari generasi yang sedang diuji oleh derasnya arus informasi digital—di mana satu tautan, satu ruang obrolan, atau satu unggahan bisa menjadi pintu menuju peluang belajar, atau justru gerbang ke paham ekstrem yang merampas logika dan empati. Di ruangan itu, para tokoh dari lembaga negara, akademisi, aparat keamanan, dan pegiat perdamaian berkumpul dengan satu tujuan: menjaga ruang belajar tetap aman dari intoleransi dan ideologi kekerasan.

Kegiatan bertajuk “Peran Kampus sebagai Ruang Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET)” ini digelar pada Rabu, 26 November 2026, di Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Bangka Belitung (UBB). Sejumlah instansi hadir, seperti Badan Kesbangpol Provinsi, Intelkam Polda Bangka Belitung, BINDA, Kanwil Kemenag, serta dua Duta Pencegahan Densus 88 Anti Teror. Kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran kampus sebagai benteng ideologi moderat.

Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua FKPT Bangka Belitung, Dr. Subardi, M.Pd, yang menyoroti kerentanan remaja terhadap paparan kekerasan berbasis ideologi melalui media sosial dan grup percakapan tertutup. Ia menegaskan pentingnya pencegahan berbasis keluarga, kampus, dan komunitas digital.

Baca juga: Strategi Densus 88 dan Credible Voice Lindungi Pemuda dari IRET di Bangka Belitung

Kasatgaswil Densus 88 Anti Teror Bangka Belitung, AKBP Maslikan, S.Sos., M.Si, turut menyampaikan pandangan strategis bahwa mempertahankan zero attack bukan hanya melalui pendekatan keras, tetapi juga pendekatan humanis. Ia mengingatkan bahwa kasus keterlibatan anak di bawah umur dalam jaringan terorisme bukan lagi isu teoretis, melainkan fakta lapangan.

Rektor UBB, Prof. Dr. Ibrahim, M.Si, membuka kegiatan dengan menegaskan harapan bahwa mahasiswa kampus ini dapat tumbuh sebagai generasi kritis yang tetap berpijak pada Pancasila. Ia menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas lembaga dan menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap penetrasi ideologi transnasional di lingkungan akademik.

Materi utama disampaikan oleh Dr. Rida Hesti Ratnasari, akademisi sekaligus mantan petinggi organisasi HTI. Ia memaparkan bagaimana radikalisme bekerja secara sistematis melalui narasi ideologi, konten digital, dan jaringan perekrutan yang menargetkan anak muda. Ia menyoroti data terbaru: 110 anak di Indonesia saat ini sedang ditangani Densus 88 karena terpapar paham radikal secara online.

Pada sesi dialog, sejumlah mahasiswa dan dosen mengajukan pertanyaan kritis—mulai dari mekanisme perekrutan digital hingga strategi resilien bermedia sosial. Antusiasme peserta mencerminkan kesadaran baru bahwa ancaman ekstremisme bukan lagi isu jauh, melainkan tantangan yang memerlukan peran aktif anak muda.

Acara ditutup dengan pembacaan Deklarasi Kampus Damai, berisi komitmen kolektif untuk menolak intoleransi, perundungan, kebencian, radikalisme, dan terorisme. Teks itu dibacakan dengan lantang, namun ada sesuatu yang lebih pelan dan tak terlihat—sebuah kesadaran bahwa masa depan negeri ini ada di tangan mereka.

Meski acara telah selesai, kursi kembali rapi, dan aula perlahan sepi, gema percakapan hari itu tidak berhenti di gedung perkuliahan. Ia ikut pulang bersama para mahasiswa, menjadi bisikan pengingat bahwa ruang digital dan dunia nyata membutuhkan kewaspadaan yang sama. Tantangan masih menunggu—algoritma yang licik, narasi yang memanipulasi, dan kegelisahan yang bisa dimanfaatkan. Namun hari ini, ada yang berubah. Mereka kini tahu: menjaga kampus dari ekstremisme bukan hanya urusan negara atau aparat, tetapi ikhtiar bersama untuk menjaga kemanusiaan. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar keamanan, melainkan masa depan di mana anak muda tetap menjadi pembawa harapan, bukan korban ideologi yang merampas mimpi.



Foto utama: Foto bersama seluruh peserta, pembicara, dan pejabat terkait dalam kegiatan kuliah umum dengan tema: “Peran Kampus sebagai Ruang Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme”, Rabu, 26/11/2025. (Dok. FKPT Babel/Densus 88/UBB)

Komentar

Tulis Komentar