Pangkalpinang –Pagi itu (6/11/20250, Gedung Perpustakaan Umum Kota Pangkalpinang tak hanya dipenuhi tumpukan buku, tetapi juga wajah-wajah muda penuh harap. Mereka adalah para peserta Seleksi Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) dan Pendidikan Kader Pemimpin Muda Daerah (PKPMD) tingkat Kota Pangkalpinang tahun 2025—generasi yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dan garda terdepan di "Kota Seribu Senyuman" ini.
Namun, di tengah semangat kepemimpinan itu, ada bayangan ancaman yang harus mereka hadapi: Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), yang kini menyebar cepat, tak lagi lewat pamflet rahasia, melainkan melalui layar ponsel.
Tim dari Densus 88 Anti Teror POLRI hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi sebagai penunjuk jalan. Ketua Tim Unit IDENSOS Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung, dengan nada tegas namun penuh perhatian, memaparkan betapa rentannya generasi muda. "Jejak digital adalah medan perang baru," ujarnya, menjelaskan bagaimana ancaman IRET di kalangan pemuda semakin marak di platform-platform digital. Beliau bahkan menyinggung kaitan pahit antara penyalahgunaan narkoba dan kerentanan individu untuk terjerumus ke dalam jaringan radikal—sebuah lubang gelap yang sering kali diawali dari keputusasaan.
Suara dari Masa Lalu: Refleksi Ilham Alfarizi
Namun, momen paling menghujam hati datang dari Ilham Alfarizi. Ia hadir sebagai mitra deradikalisasi, seorang individu dengan suara yang kredibel (credible voice) karena pernah melihat langsung bagaimana kelompok teror beroperasi. Bagi para pemuda itu, Ilham bukan sekadar narasumber, ia adalah cermin dari kemungkinan buruk yang bisa dihindari, sebuah refleksi dari masa lalu yang berhasil diubah.
Dengan kejujuran yang menawan, Ilham membongkar rahasia dapur rekrutmen teror di dunia maya. "Mereka tidak lagi mencari di masjid-masjid terpencil. Mereka ada di feed TikTok kalian, di grup Telegram yang tertutup, bahkan di ruang obrolan game online seperti Roblox," ungkapnya.
Ilham menjelaskan, kunci dari propaganda ini adalah mengolah rasa kecewa menjadi kebencian. Ia mengajak para peserta untuk menjadi mata dan telinga digital pemerintah, bukan dengan senjata, tetapi dengan kekuatan laporan dan kewaspadaan. "Setiap konten yang mencurigakan, setiap narasi kebencian yang kalian temui, jangan hanya di-scroll! Laporkan! Kita harus mempersempit ruang gerak mereka bersama-sama," ajaknya, seolah memberikan obor perjuangan kepada setiap peserta.
Benih Intoleransi dan Sikap Kaku
Dalam sesi diskusi yang hangat, Ilham menelanjangi akar masalahnya: intoleransi. "Radikalisme tidak jatuh dari langit. Ia berawal dari pemahaman keagamaan yang sempit dan eksklusif," jelasnya. Ia menggambarkan bagaimana sikap self-righteous—merasa paling benar dan menganggap kelompok lain salah—menjadi bibit yang mematikan.
Ia memberikan panduan sederhana yang mengharuskan refleksi diri:
"Waspadalah jika teman Anda mulai berubah menjadi kaku, eksklusif, menolak otoritas negara dan ulama moderat, dan hanya mengonsumsi konten kebencian. Itu bukan lagi kesalehan, itu adalah awal dari bahaya radikal."
Kolaborasi untuk Masa Depan
Acara ini tidak hanya tentang ancaman, tetapi juga tentang kekuatan kolaborasi. Kehadiran Mentor GESID dan alumni PKPMN Angkatan ke-4 menegaskan bahwa membangun kepemimpinan pemuda adalah kerja kolektif, sebuah jejaring yang saling menguatkan.
Di akhir kegiatan, saat sesi ramah tamah dan foto bersama, terlihatlah harapan yang membuncah. Para peserta, yang kini dibekali pengetahuan dan kesadaran mendalam, telah menerima mandat. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan, agen moderasi beragama, dan garda terdepan yang tak hanya melindungi diri dari narkoba dan radikalisme, tetapi juga melindungi lingkungan mereka.
Kisah di Pangkalpinang ini adalah pengingat bahwa masa depan Indonesia terletak di tangan para pemuda yang berani melihat bayangan di layar ponsel mereka dan memilih untuk melawannya, dipandu oleh suara-suara yang pernah tersesat dan kini kembali untuk menerangi jalan.
Foto utama:
Peserta Seleksi Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) dan Pendidikan Kader Pemimpin Muda Daerah (PKPMD) Kota Pangkalpinang tahun 2025.(Dok. Tim Idensos Densus 88 Satgaswil Bangka Belitung)
Komentar