Kepala BNPT Temui Abu Rusydan: Babak Baru Reintegrasi Pendiri Jamaah Islamiyah

News

by Eka Setiawan Editor by Arif Budi Setyawan

Di balik jeruji besi Lapas Kelas I Semarang, sebuah pertemuan hangat terjadi pada Kamis, 2 Oktober 2025. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen. Pol (Purn) Eddy Hartono duduk berhadapan dengan sosok yang pernah ditakuti banyak orang: Thoriquddin alias Abu Rusydan, pendiri Jamaah Islamiyah (JI). Namun kali ini, bukan ancaman atau ideologi keras yang menjadi bahasan, melainkan sebuah babak baru: reintegrasi, pengakuan salah, dan tekad untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pertemuan Bernuansa Harapan

Didampingi pejabat Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dan Kepala Lapas Semarang, Komjen Eddy datang membawa pesan sederhana namun sarat makna: negara tidak meninggalkan warganya, bahkan yang pernah terjerumus ke dalam jalan gelap.

Hari ini kami berdiskusi untuk membicarakan langkah ke depan, bahwa negara wajib melakukan pembinaan terhadap mantan-mantan JI,” ujar Eddy.
Ia menegaskan, pembinaan dan reintegrasi bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan juga tanggung jawab moral untuk memastikan mantan narapidana terorisme memiliki kesempatan membangun kehidupan baru yang damai.

Suara dari Balik Jeruji

Di hadapan tamunya, Abu Rusydan (65 tahun) tak lagi berbicara dengan nada keras atau penuh perlawanan. Justru sebaliknya, ia mengungkapkan refleksi hidup yang dalam.
“Bahwa saya adalah pendiri JI, oleh karena itu saya harus mengeliminasi dan saya siap membubarkan JI dan kembali ke pangkuan NKRI, itu yang paling penting menurut saya,” ucapnya dengan tegas.

Ucapan itu terdengar seperti sebuah revolusi batin. Bagi seorang tokoh yang selama puluhan tahun menjadi simbol Jamaah Islamiyah, pengakuan tersebut bukan sekadar kata-kata, tetapi tanda perubahan paradigma yang mendasar. Ia mengakui kesalahan masa lalunya, meminta maaf kepada korban, dan kini menatap masa depan dengan niat yang berbeda.

Lapas sebagai Ruang Transformasi

Selama hampir empat tahun menjalani pidana, Abu Rusydan mengikuti berbagai program pembinaan di Lapas Semarang. Ia belajar, berdialog, dan berproses. Pihak Lapas pun melihat transformasi itu bukan sebatas formalitas.
Kalapas Semarang, Fonika Affandi, menyampaikan apresiasi atas dukungan BNPT dan berbagai pihak dalam membina para narapidana terorisme.
“Dalam melakukan pembinaan kita tidak dapat sendiri, harus saling berkolaborasi. Kehadiran BNPT dan stakeholder lain sangat penting agar pembinaan berjalan efektif. Tujuan akhirnya jelas: bagaimana napiter bisa kembali menjadi bagian dari NKRI,” ujarnya.

Pada Juli lalu, Abu Rusydan bahkan telah menyatakan ikrar setia kepada NKRI, sebuah langkah administratif yang juga menjadi syarat bagi narapidana terorisme untuk memperoleh hak-hak seperti remisi. Namun lebih dari itu, ikrar tersebut mencerminkan niat tulus untuk menutup masa lalu kelam.

Jalan Panjang Reintegrasi

Perjalanan Abu Rusydan tentu tidak singkat. Ia sempat ditahan di Rutan Depok, lalu dipindahkan ke Lapas Semarang, bahkan sempat dibawa Densus 88 untuk mengikuti program deradikalisasi. Semua itu adalah bagian dari upaya sistematis untuk memastikan proses reintegrasi berjalan bukan hanya di atas kertas, melainkan benar-benar dari hati.

Abu Rusydan menegaskan bahwa kelompoknya tak pernah menyatakan perang terhadap pemerintah Indonesia. Tetapi pengakuan salah dan kesediaan untuk membubarkan JI adalah langkah lebih jauh: sebuah pernyataan publik bahwa ideologi radikal yang dulu ia pegang tak lagi relevan.

Pertemuan antara Komjen Eddy dan Abu Rusydan di Lapas Semarang menyimpan pesan kuat: bahwa setiap orang, bahkan seorang pendiri organisasi terlarang, selalu punya kesempatan untuk berubah. Dari balik jeruji besi, lahirlah ikrar baru yang menyatukan kembali seorang mantan ideolog radikal ke pangkuan NKRI. Di titik itulah, bangsa ini belajar bahwa deradikalisasi sejati bukan hanya soal memutus rantai kekerasan, tetapi juga menumbuhkan kembali rasa memiliki terhadap tanah air—dari mereka yang pernah menjauhinya.[eka setiawan]



Foto utama: Abu Rusydan berbincang hangat dengan Kepala BNPT.[Dok. Lapas Kelas 1 Semarang]

Komentar

Tulis Komentar