BEKASI –Di sebuah bangunan sederhana yang menjadi kantor Yayasan Dekat Bintang dan Langit (DeBintal) di Jalan Kp. Irian, Babelan, Bekasi, suasana tampak berbeda pada awal September 2025. Deretan kursi plastik tersusun rapi, meja-meja dipenuhi dengan peralatan cukur rambut, dan sepuluh orang mantan narapidana terorisme terlihat serius memperhatikan setiap instruksi dari pelatih mereka. Suasana hangat ini menjadi saksi langkah baru yang penuh harapan: pelatihan cukur rambut gratis yang digagas oleh DeBintal bersama Densus 88 dan YBM PLN.
Kegiatan yang berlangsung pada 3-4 September itu bukan sekadar ajang belajar keterampilan baru. Di balik setiap tarikan mesin cukur dan potongan rambut, tersimpan semangat untuk bangkit, membangun kehidupan yang lebih mandiri, dan berkontribusi kembali kepada masyarakat. Kehadiran para aparat kepolisian, TNI, serta pengurus YBM PLN menambah nuansa kebersamaan. Semua berkumpul bukan dalam suasana formal, melainkan dalam atmosfer persaudaraan yang mencoba merajut kembali tali silaturahmi.
Hendro Fernando, Sekretaris Jenderal DeBintal, menyebut pelatihan ini bukan hanya soal keterampilan teknis. “Kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antar sesama mantan napiter, juga dengan aparat dan mitra seperti YBM PLN. Lebih jauh lagi, kami ingin membekali mereka agar mandiri, punya bekal untuk mencari nafkah,” ujarnya dengan penuh semangat.
Selama dua hari itu, Kang Jepi, seorang barber asal Garut yang sudah 13 tahun berkecimpung di dunia barbershop, menjadi pelatih utama. Dengan sabar ia memperlihatkan teknik memegang gunting, menggerakkan mesin cukur, hingga trik-trik kecil agar hasil potongan terlihat rapi dan profesional. “Mereka tidak hanya belajar teori, tapi langsung praktik. Saya ingin peserta benar-benar siap jika kelak membuka usaha sendiri,” tutur Kang Jepi. Ia menambahkan, para peserta juga akan memperoleh sertifikat sebagai bukti kompetensi.
Salah satu peserta, seorang mantan napiter asal Garut, mengaku sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini. Meski enggan disebutkan namanya, ia dengan wajah berbinar mengatakan, “Dengan ikut pelatihan ini, saya merasa bermanfaat minimal untuk keluarga saya. Ke depan, saya ingin buka barbershop sendiri.” Bagi pria ini, pelatihan sederhana tersebut bukan hanya keterampilan baru, melainkan simbol kepercayaan diri yang kembali tumbuh.
Bagi DeBintal, ini bukanlah kegiatan perdana. Sebelumnya, yayasan yang fokus pada pemberdayaan eks napiter ini juga pernah mengadakan pelatihan servis AC bersama BLK Panasonic. Bahkan saat ini, mereka mengembangkan usaha peternakan telur puyuh di Babelan, Bekasi. Semua program itu dirancang untuk memberi kesempatan kedua bagi para mantan napiter agar bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Keberhasilan program seperti ini bukan hanya tentang keterampilan baru, tetapi juga tentang kehangatan yang lahir dari kebersamaan. Di sela-sela canda tawa, rasa canggung perlahan menghilang. Hubungan yang dulunya mungkin tegang kini cair dalam ruang belajar yang sederhana. Di situlah esensi dari reintegrasi sosial tercermin: memberikan ruang, kesempatan, dan harapan.
Kasubdit Idensos Densus 88, Kombes Pol. Indra Kurniawan, yang turut hadir, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, pelatihan semacam ini sangat penting sebagai bentuk pendampingan nyata bagi mantan napiter. “Dengan kegiatan seperti ini, kita membantu mereka untuk punya keterampilan, sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat dan aparat,” katanya.
Dari luar, mungkin hanya terlihat beberapa orang belajar memotong rambut. Namun bagi para peserta, kegiatan ini adalah titik balik. Setiap potongan rambut yang jatuh ke lantai bukan hanya bagian dari latihan, melainkan simbol masa lalu yang ditinggalkan. Yang tersisa adalah harapan baru, sebuah awal menuju kehidupan yang lebih mandiri, bermanfaat, dan penuh makna.
Sekilas, pelatihan cukur rambut di kantor DeBintal hanyalah agenda sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah humanis: tentang rekonsiliasi, tentang pemberdayaan, dan tentang kesempatan kedua. Seperti rambut yang tumbuh kembali setelah dipotong, begitu pula para mantan napiter ini—berusaha tumbuh kembali, lebih rapi, lebih terarah, dan siap menghadapi kehidupan yang baru.[Akhmad Kusairi]
Foto: Suasana pelatihan barbershop di kantor Yayasan DeBintal Bekasi, 3/09/2025.(Dok. Yayasan DeBintal)
Komentar