Oleh: Ilham Alfarizi
Pangkalpinang – Pagi itu (9/10/2025), suasana di SMA Negeri 3 Pangkalpinang terasa sedikit berbeda. Ruang kelas yang biasanya diisi dengan aktivitas belajar-mengajar berubah menjadi arena dialog dan refleksi. Puluhan siswa berseragam duduk rapi, menyimak setiap kata dari para pembicara. Di hadapan mereka, bukan sekadar guru atau pejabat, melainkan orang-orang yang datang membawa pesan penting: berani menolak radikalisme dan bullying.
Kegiatan bertajuk “Bapas Go to School” ini merupakan kolaborasi antara Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Pangkalpinang dan Densus 88 AT Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung. Misi mereka jelas: memperkuat daya tahan anak muda dari pengaruh negatif, baik dari perundungan di sekolah maupun paham-paham ekstrem yang kerap menyusup melalui media sosial.
Kepala sekolah, Suryadi, bersama jajaran guru, menyambut baik kegiatan ini. “Anak-anak butuh wawasan agar bisa lebih bijak dalam bergaul dan menggunakan media sosial,” ujarnya.
Misi Preventif di Ruang Kelas
Kegiatan dimulai dengan penjelasan seputar tugas dan peran Bapas dalam mendampingi Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH). Suandi, Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Madya, menyoroti meningkatnya kasus bullying dan kenakalan remaja yang sering kali berawal dari kurangnya kontrol orang tua dan lingkungan. “Anak-anak sekarang punya dunia sendiri di media sosial, tapi kadang tanpa pengawasan. Dari situ, muncul keberanian melakukan hal-hal yang bisa berujung pidana,” katanya.
Senada dengan itu, Agus Windu Sentosa, PK Ahli Muda, mengingatkan pentingnya rasa syukur dan tanggung jawab. “Kalian beruntung masih bisa sekolah dengan tenang. Di luar sana, banyak anak sebaya kalian yang harus berhadapan dengan hukum,” ucapnya. Pesannya sederhana namun mengena: jangan sampai masa depan hancur hanya karena pergaulan yang salah atau tindakan impulsif sesaat.
Anak Muda, Sasaran Empuk Propaganda
Selain dari Bapas, sesi ini juga diisi oleh Densus 88 AT Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung yang memberikan materi mengenai bahaya IRET — singkatan dari Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme.
Mereka menegaskan bahwa kelompok teror kini tak lagi menyasar orang dewasa saja. Anak muda menjadi target utama, terutama melalui propaganda digital yang dikemas dengan bahasa tren dan semangat kepahlawanan palsu.
Untuk memperkuat pemahaman itu, Densus 88 menghadirkan seorang narasumber yang punya pengalaman langsung: Ilham Alfarizi, mantan narapidana kasus terorisme yang pernah terlibat dalam aktivitas propaganda ekstrem di media sosial.
Ilham bercerita tanpa menutupi masa lalunya. “Saya dulu mengira sedang berjuang demi agama, padahal saya sedang menyesatkan diri sendiri dan orang lain,” ujarnya dengan suara tenang.
Ia menjelaskan bagaimana kelompok teror membangun kepercayaan dan menjerat anak muda dengan narasi manipulatif — mulai dari isu ketidakadilan hingga ajakan heroik palsu untuk “membela agama”. Menurutnya, yang harus diwaspadai bukanlah simbol agama atau penampilan seseorang, tapi pola pikir intoleran yang menolak perbedaan.
“Kalau kalian menemukan konten yang menyebarkan kebencian, jangan diam. Laporkan ke guru, orang tua, atau pihak berwenang,” pesan Ilham. “Internet bisa jadi tempat belajar dan berkarya, tapi juga bisa jadi perangkap kalau kita tidak kritis.”
Ilham Alfarizi (pegang mikrofon), membagikan pengalamannya ketika menjadi bagian dari penyebar propaganda ektrimisme di media sosial.(Dok. Densus 88 AT Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung)
Mengurai Stereotip, Menanamkan Empati
Dalam sesi tanya jawab, seorang siswa mengungkapkan pandangannya tentang sosok teroris. Ia menggambarkannya sebagai pria berjubah putih, berjanggut panjang, dan membawa tas hitam. Ruangan mendadak hening.
Ilham tersenyum, lalu berkata, “Itu wajar, karena selama ini media sering menggambarkan seperti itu. Tapi percayalah, yang berbahaya bukan janggut atau pakaiannya. Yang berbahaya adalah pikiran yang menolak keberagaman dan menganggap kekerasan sebagai solusi.”
Kalimat itu disambut tepuk tangan. Di mata anak-anak muda itu, Ilham bukan hanya narasumber — ia adalah cermin dari perubahan, bukti bahwa setiap orang bisa kembali ke jalan damai jika mau belajar dan membuka hati.
Menumbuhkan Harapan
Kegiatan “Bapas Go to School” ditutup dengan foto bersama. Wajah para siswa tampak sumringah, sebagian mengangkat jempol, sebagian lain tersenyum malu-malu. Di antara mereka, tersimpan semangat baru: untuk menjadi generasi yang cerdas, berani, dan empatik.
Di tengah tantangan dunia digital dan arus informasi yang deras, kegiatan seperti ini menjadi oase yang menyejukkan. Sebuah pengingat bahwa pencegahan radikalisme dan kekerasan tidak harus dimulai di penjara atau kantor polisi — bisa dimulai di ruang kelas, melalui percakapan sederhana dan niat tulus untuk memahami.
Karena masa depan bangsa, seperti senyum anak-anak pagi itu, selalu berawal dari keberanian untuk menolak kebencian dan menumbuhkan harapan.[ilham alfarizi]
Foto Utama: Kegiatan Bapas Go To School yang merupakan kerjasama antara Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Pangkalpinang dan Densus 88 AT Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (9/10/2025).[Dok. Densus 88 AT Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung]
Komentar