Merah Putih di Halaman Pesantren: Harmoni Dari Sukosewu di Hari Kemerdekaan

News

by Redaksi Editor by Redaksi

Bojonegoro –Pagi itu, halaman Pondok Pesantren Abdurrahman di Kecamatan Sukosewu, Bojonegoro, dipenuhi suasana khidmat. Matahari yang menanjak pelan menyinari wajah-wajah muda santri yang berbaris rapi. Di pundak mereka, merah putih berkibar bukan hanya sebagai bendera, tapi sebagai tanda ikatan: ikatan pada tanah air, pada sejarah panjang, dan pada harapan masa depan.

Upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 itu bukan sekadar seremonial. Di sana hadir beragam unsur: pengurus pesantren, santri, pejabat Kecamatan Sukosewu, staf KUA, aparat kepolisian, hingga Tim Satgas Wilayah Densus 88 AT Jawa Timur. Tak ketinggalan, 25 orang eks Jamaah Islamiyyah turut serta. Mereka semua bersatu dalam satu barisan, dalam satu upacara, di bawah satu sang saka merah putih.

Suara dari Mimbar Upacara

Ustaz Abror, yang pagi itu bertindak sebagai inspektur upacara, menatap para santrinya yang dengan penuh semangat menjalankan tugas: memimpin barisan, mengibarkan bendera, hingga membacakan teks UUD 1945. Suara mereka tegas, langkah mereka mantap. Seakan pesan kebangsaan itu menitis dari bibir para pendiri bangsa ke dada para penerusnya.

Kegiatan ini tidak akan berhenti hanya di hari kemerdekaan,” ujar Ustaz Abror setelah upacara usai. “Setiap bulan, satu kali, kita akan kembali berkumpul, bergantian dengan pembina upacara dari Polsek, Koramil, Kecamatan, hingga perangkat desa. Harapannya sederhana: tumbuh kerukunan, kedamaian, dan jiwa nasionalis yang lebih kuat di masyarakat Sukosewu.”

Di sela ucapan itu, terasa bagaimana sebuah pondok pesantren bukan hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga kawah candradimuka bagi kebangsaan.

Pertemuan yang Menyembuhkan Luka

Kehadiran Densus 88 dan eks Jamaah Islamiyyah dalam satu upacara terasa sebagai simbol: bahwa masa lalu bisa dipelajari, luka bisa dirawat, dan bangsa ini bisa berjalan maju bersama. Upacara pagi itu menjadi semacam panggung rekonsiliasi kecil, di mana stigma dan prasangka perlahan-lahan dilebur oleh doa, barisan, dan hormat bendera.

Ustaz Abror dan Ustaz Mujiono tak lupa menyampaikan terima kasih kepada Tim Densus 88 AT Satgas Wilayah Jatim. Kehadiran mereka bukan dalam rupa kekuatan yang menakutkan, melainkan sebagai bagian dari masyarakat, yang turut menjaga dan merawat semangat kebangsaan.

Refleksi: Merah Putih di Halaman Pesantren

Di banyak tempat, upacara bendera bisa saja sekadar formalitas. Namun, di halaman kecil Pesantren Abdurrahman, upacara HUT RI ke-80 menjelma sebagai ruang perjumpaan: santri dan aparat, pengasuh pesantren dan mantan jamaah pergerakan, masyarakat sipil dan negara.

Di sana, merah putih tidak hanya dikibarkan, tetapi juga dihidupkan kembali dalam hati setiap peserta. Ada yang mungkin datang dengan sejarah panjang, ada yang hadir dengan beban masa lalu, ada yang membawa harapan tentang masa depan. Namun, semuanya tunduk pada satu momen: berdiri tegak, memberi hormat pada bendera, mendengarkan gema Proklamasi.

Dan ketika bendera itu naik perlahan ke langit Bojonegoro, ia seakan membawa pesan: bahwa Indonesia, meski penuh perbedaan dan luka, selalu punya cara untuk bersatu kembali.[red]



Foto: Suasana upacara di Ponpes Abdurrahman Sukosewu Bojonegoro, 17/08/2025.[IST]

Komentar

Tulis Komentar