Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Sedunia—sebuah momentum untuk merayakan capaian perempuan sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai. Namun di balik panggung-panggung perayaan, masih ada kisah-kisah yang tak pernah sampai ke ruang publik. Kisah yang tak disuarakan dalam seminar, tak ditampilkan dalam kampanye, dan tak mudah dituliskan dalam laporan resmi.
Tulisan ini adalah bagian dari upaya menghadirkan suara itu: suara seorang perempuan yang pernah terjebak dalam jejaring radikalisme, kekerasan, dan relasi kuasa yang membungkam. Di tengah refleksi global tentang hak, martabat, dan keselamatan perempuan, kesaksian ini mengingatkan kita bahwa perlindungan bukan sekadar slogan—ia harus nyata, hadir, dan berpihak.
⚠️TRIGGER WARNING⚠️Tulisan ini mengandung narasi tentang kekerasan berbasis gender, pernikahan paksa anak, manipulasi psikologis, pelecehan dan kekerasan seksual, serta trauma berat yang memicu tindakan yang mengarah pada bunuh diri. Pembaca disarankan berhenti membaca bila merasa tidak aman atau memiliki risiko terpicu. |
Kisah ini sampai ke redaksi melalui saluran media sosial redaksi Ruangobrol dua bulan yang lalu, setelah yang bersangkutan membaca dan mengikuti sejumlah narasi yang dipublikasikan Ruangobrol. Ia menghubungi redaksi dengan mengatakan bahwa apa yang ia alami jauh lebih kelam dari cerita-cerita yang pernah ia baca di Ruangobrol. Ia ingin ceritanya diungkap ke publik sebagai pelajaran, namun dirinya harus tetap aman. Kami menyanggupinya.
Demi keselamatan dan pemulihan yang masih berlangsung, kisah ini tidak ditulis sebagai bagian dari identitas, peran, atau jejaring mana pun, melainkan sebagai kesaksian personal yang disampaikan secara anonim. Identitas, posisi, serta relasi personal pencerita tidak dicantumkan dan tidak relevan dengan isi cerita.
Kesaksian ini tidak hadir sebagai satu cerita yang utuh dan rapi.
Ia datang perlahan—dalam serpihan ingatan, dalam jeda-jeda panjang, dalam kalimat yang kadang terhenti sebelum mencapai ujungnya. Bukan karena penceritanya lupa, melainkan karena ada bagian-bagian tertentu yang terlalu berat untuk langsung diucapkan.
Perempuan yang kisahnya disampaikan di sini tidak meminta belas kasihan. Ia tidak menginginkan pengakuan. Yang ia harapkan hanya satu: agar apa yang pernah menimpanya tidak kembali menimpa perempuan lain, terutama para perempuan yang sedang berada di usia paling rapuh dalam hidupnya.
Ia masih remaja ketika semuanya bermula.
Radikalisme yang Datang Tanpa Suara
Dalam bayangan banyak orang, radikalisme kerap diasosiasikan dengan kebisingan: teriakan, amarah, dan kekerasan yang kasatmata. Namun kesaksian ini—seperti banyak temuan lain dalam kerja-kerja Ruangobrol—menunjukkan wajah yang jauh lebih senyap.
Radikalisme datang tanpa suara.
Ia menyelinap melalui perhatian.
Melalui percakapan yang terasa hangat.
Melalui bahasa yang tampak menenangkan.
Pendekatan tidak dimulai dari ideologi, melainkan dari relasi. Dari rasa didengarkan. Dari janji keselamatan dan makna hidup. Bahasa agama tidak digunakan sebagai teriakan, melainkan sebagai bisikan—cukup lembut untuk dipercaya, cukup samar untuk tidak dicurigai.
Perempuan ini berada pada fase hidup ketika pencarian identitas dan kebutuhan akan rasa aman menjadi sangat mendesak. Situasi itu dimanfaatkan. Perlahan, ia dijauhkan dari lingkungan yang pernah ia kenal. Dari keluarga, sekolah, dan pertemanan.
Setiap langkah dijelaskan sebagai bentuk perlindungan. Namun pada titik tertentu, ruang hidupnya semakin menyempit, sementara kendali atas tubuh dan hidupnya perlahan menghilang.
Ia berpindah tempat lebih dari sekali—antara wilayah urban dan semi-perdesaan di Pulau Jawa. Setiap perpindahan dibungkus dengan narasi keamanan. Sehingga yang tersisa adalah isolasi.
Pernikahan yang Tidak Pernah Dipilih
Di sebuah tempat yang disebut sebagai rumah aman bagi perempuan, ia justru kehilangan otonomi atas hidupnya sendiri. Tanpa persiapan, tanpa pemahaman menyeluruh, ia dinikahkan.
Usianya saat itu belum genap delapan belas tahun. Masih di bawah umur menurut undang-undang negara.
Pernikahan itu berlangsung tanpa sepengetahuan keluarganya. Tanpa wali. Ia baru mengetahui belakangan bahwa dirinya ditempatkan sebagai istri kedua. Informasi tentang latar belakang lelaki yang menikahinya pun disampaikan secara bertahap—sebagian justru baru ia pahami ketika semua sudah terlanjur terjadi.
Ia ditempatkan di hunian terpisah. Lelaki itu tidak hidup bersamanya. Pertemuan berlangsung sesekali, dengan alasan keamanan dan aktivitas di luar wilayah. Dalam hitungan bulan, relasi tersebut tidak pernah benar-benar memberinya rasa aman—hanya ketidakpastian.
Tekanan datang dari berbagai arah. Termasuk dari sesama perempuan dalam lingkaran itu. Ancaman verbal, intimidasi, dan ketakutan akan kekerasan fisik menjadi bagian dari hari-harinya.
Ia tidak memiliki tempat pulang. Ia juga tidak memiliki ruang untuk bertanya.
Talak yang Datang Tanpa Wajah
Ketika lelaki itu meninggalkan wilayah tempat mereka berada—dengan alasan yang baru ia pahami kemudian—perempuan ini kembali dipindahkan. Kali ini ke sebuah tempat penampungan sementara. Di sana, alat komunikasi dan identitas pribadinya dibatasi.
Suatu hari ia mendapat kabar dari pemegang otoritas di tempat itu bahwa dirinya telah diceraikan. Kalimat talak (cerai) tidak disampaikan melalui pertemuan. Tidak melalui percakapan. Ia datang lewat perantara digital dalam bentuk sebaris kalimat di layar ponsel.
Tanpa penjelasan. Tanpa dialog. Tanpa kehadiran.
Peristiwa itu memicu kehancuran batin yang mendalam. Ia sempat mencoba menyakiti dirinya sendiri. Upaya itu gagal, tetapi meninggalkan luka yang tidak segera pulih. Luka yang terus berdenyut dalam diam.
Beberapa waktu kemudian, ia mengetahui bahwa lelaki tersebut tidak akan pernah kembali. Lelaki itu tewas dalam sebuah operasi anti-teror yang dilakukan oleh aparat keamanan. Dalam narasi publik, kisah itu dianggap selesai. Namun bagi dirinya, kehilangan justru bercampur dengan kebingungan, kemarahan, dan rasa bersalah yang tak pernah ia pahami asal-usulnya.
Kekerasan yang Bersembunyi di Balik Diam
Ada bagian dari kesaksian ini yang membuatnya baru berani menyampaikan kesaksian ini setelah waktu berlalu cukup lama. Kisah yang paling kelam dan traumatis.
Di salah satu tempat penampungan, figur laki-laki yang memiliki otoritas—dan seharusnya menjadi pelindung—menyalahgunakan posisi tersebut. Si laki-laki—biadab—ini justru melakukan kekerasan seksual terhadap dirinya dan itu terjadi berulang kali. Dalam situasi yang tertutup dan terisolasi, setiap upaya melarikan diri hampir selalu berujung pada ancaman baru.
Ia pernah mencoba pergi di tengah malam. Bersembunyi. Mencari pertolongan. Namun ketakutan selalu menemukan jalannya untuk menyeretnya kembali.
Ancaman pembungkaman, kekerasan, bahkan kematian, menjadi bayang-bayang yang terus mengikuti langkahnya.
Bahkan dirinya sempat beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya namun gagal.
Kesaksian ini kembali menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dalam jaringan ekstrem bukanlah peristiwa kebetulan. Ia lahir dari struktur relasi kuasa yang timpang, tertutup, dan dibiarkan bekerja dalam senyap.
Hidup yang Tampak Utuh, Luka yang Tetap Tinggal
Hari ini, perempuan ini menjalani kehidupan yang dari luar tampak berjalan sebagaimana mestinya. Ia membangun keluarga. Ia hadir di ruang sosial. Namun tubuh dan pikirannya menyimpan ingatan yang tidak sepenuhnya pergi.
Ia mengalami trauma kompleks akibat kekerasan berulang dalam jangka panjang. Gejalanya tidak selalu terlihat, seperti kecemasan yang datang tiba-tiba, disorientasi tubuh, dan kelelahan emosional yang tak selalu bisa dijelaskan.
Tidak semua orang di sekitarnya mengetahui kisah ini secara utuh. Diam menjadi cara bertahan. Bukan karena ia ingin menyembunyikan kebenaran, melainkan karena keselamatan—fisik dan psikologis—masih menjadi pertimbangan yang tak bisa diabaikan.
***
Kisah ini adalah pengingat bahwa perjuangan perempuan tidak hanya berada di ruang parlemen, kantor, atau panggung-panggung seminar, tetapi juga di ruang-ruang sunyi—di rumah aman yang ternyata tidak aman, di relasi yang menyamar sebagai perlindungan, di komunitas yang menuntut ketaatan tanpa memberi ruang bertanya.
Memperingati Hari Perempuan Sedunia berarti berani melihat bagian yang paling tidak nyaman dari kenyataan. Bahwa masih ada perempuan yang harus berjuang sekadar untuk bertahan hidup. Dan selama itu masih terjadi, kerja-kerja perlindungan, pendampingan, dan pembongkaran pola kekerasan tidak boleh berhenti.
Kesaksian ini tidak berdiri sebagai cerita tunggal. Ia adalah bagian dari mozaik pengalaman banyak perempuan yang belum sempat bersuara. Semoga dengan membacanya, kita tidak hanya merasa iba—tetapi tergerak untuk memastikan bahwa generasi berikutnya tidak lagi mewarisi luka yang sama.
Catatan Penutup
Ruangobrol menyampaikan kisah ini sebagai peringatan. Bukan untuk membuka luka seseorang ke hadapan publik, melainkan untuk memperlihatkan pola yang terus berulang: bagaimana perempuan muda direkrut, diisolasi, dikontrol, dan dibungkam atas nama agama dan keamanan.
Untuk para remaja perempuan: tidak ada keyakinan yang menuntutmu menyerahkan tubuh, pendidikan, dan masa depanmu.
Untuk para orang tua: kehadiran emosional sering kali menjadi benteng pertama yang mencegah anak-anak terjerumus terlalu jauh.
Kesaksian ini disampaikan agar kebisuan tidak lagi menjadi pelindung kejahatan.
Menuliskan kisah ini bukan perkara mudah. Ada pertimbangan etis yang terus kami jaga, yaitu antara kejujuran narasi dan keselamatan manusia.
Dalam kerja-kerja riset dan pendampingan, kami belajar bahwa tidak semua kebenaran harus disampaikan secara lengkap. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa pola kekerasan dapat dikenali, tanpa menjadikan individu sebagai sasaran baru.
Jika ada bagian yang terasa samar, itu adalah pilihan sadar redaksi. Bukan karena kekurangan informasi, melainkan karena ada kehidupan nyata yang harus tetap aman setelah tulisan ini dibaca.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar