Luka yang Mengajarkan Cara Mencintai Negeri

Analisa

by Arif Budi Setyawan Editor by Redaksi

Dulu, menghujat dan mencaci pemerintah adalah hiburan. Mengomentari kegagalan para pejabat dalam memenuhi harapan rakyat terasa seperti bentuk “perjuangan.” Setiap kali ada kabar tentang kezaliman atau kebobrokan penguasa, saya antusias menjadi bagian dari percakapan itu—menyumbang opini, menajamkan kritik, bahkan mendukung siapa pun yang berani menantang sistem. Saya bangga menyebut diri sebagai “pejuang” yang ingin mengganti sistem negara.

Tapi waktu punya caranya sendiri untuk menguji kepercayaan kita.

Semuanya berubah ketika saya dipenjara—jauh dari keramaian yang biasanya mengukuhkan semangat “perlawanan” itu. Di dalam kesunyian sel, saya menemukan ruang untuk merenung. Tak ada yang bisa dibodohi, tak ada panggung, hanya ada kenyataan yang menelanjangi keyakinan saya selama ini.

Pertama kali yang terlintas di pikiran adalah keluarga. Istri, anak-anak, orangtua—apa yang mereka rasakan saat saya ditangkap? Apakah mereka memahami apa yang saya perjuangkan? Ataukah mereka hanya tahu saya sebagai “musuh negara”? Apa yang mereka dapat dari pengorbanan saya, selain kehilangan dan stigma?

Saya mulai melihat bahwa “perjuangan” saya tidak banyak membawa dampak positif, kecuali mungkin bagi ego saya sendiri dan kelompok kecil tempat saya bernaung. Tapi sebagai imbalannya, saya kehilangan kesempatan untuk hadir sebagai ayah, sebagai anak, sebagai manusia yang utuh di tengah masyarakat.

Lalu saya mulai berpikir ulang: mungkinkah saya selama ini melupakan sesuatu yang lebih dekat dan lebih nyata? Mungkinkah saya terlalu sibuk melihat keburukan orang lain, hingga lupa memperbaiki lingkaran terkecil dalam hidup saya?

Refleksi itu membawa saya ke sebuah kesimpulan sederhana namun dalam: bagaimana kalau saya mulai dari hal-hal kecil yang bisa saya kendalikan? Misalnya, memastikan keluarga saya tidak menjadi bagian dari masalah bangsa—tidak menjadi penipu, pencuri, atau pengkhianat janji. Mendidik anak-anak dengan kasih sayang, menjadi teladan dalam kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab sosial.

Betapapun kecewanya saya terhadap pemerintah, saya sadar bahwa energi saya lebih berguna jika dipakai untuk membangun daripada terus menerus menyalahkan keadaan.

Pelajaran dari Penjara

Pengalaman hidup bersama narapidana kriminal justru memperlihatkan kepada saya bahwa kebaikan itu tidak harus besar dan heroik. Banyak hal kecil yang ternyata sangat berarti: membersihkan lingkungan, berbagi makanan, atau sekadar mendengarkan curahan hati sesama penghuni sel.

Saya ingat satu momen sederhana: seorang napi tua mendekati saya dan berkata, “Terima kasih sudah dengarkan cerita saya. Saya nggak pernah cerita sebanyak ini kepada orang lain sebelumnya.” Padahal saya hanya diam dan mendengar.

Di situ saya sadar, manusia itu hanya ingin dimanusiakan. Perubahan tidak selalu datang dari revolusi. Terkadang, perubahan dimulai dari keikhlasan untuk melakukan kebaikan kecil yang konsisten.

Menjadi Agen Perubahan, Menebar Kebaikan

Kini, saya melihat bahwa menjadi agen perubahan tidak harus dengan marah-marah atau menghujat di media sosial. Bisa jadi, menjadi agen perubahan berarti menjaga keluarga agar tetap lurus. Memberi contoh di lingkungan agar tidak buang sampah sembarangan. Membantu tetangga yang kelaparan. Atau, membesarkan anak-anak yang tidak tumbuh dengan dendam pada negara—tapi dengan semangat untuk memperbaikinya.

Kritik tetap penting. Tapi ia harus dibarengi dengan kontribusi. Dan kontribusi terbaik adalah yang tidak menimbulkan kerusakan baru.

Kekecewaan kepada pemerintah bukan alasan untuk menyalakan api kebencian. Kita bisa kecewa, tapi tetap berbuat baik. Kita bisa marah, tapi tetap mencintai. Kita bisa mengkritik, tapi tetap membangun.

Dari balik jeruji, saya belajar bahwa hidup yang bermakna bukan soal seberapa keras kita berteriak, tapi seberapa tulus kita memberi. Dan seberapa rendah hati kita mengakui bahwa perubahan sejati, sejatinya, bermula dari dalam diri.

Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar