“Yang kita hadapi bukan lagi realitas, melainkan simulasi dari realitas itu sendiri.” — Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat
Di depan gedung DPR/MPR, realitas Hari Buruh tahun ini terasa seperti ruang yang penuh narasi perlawanan. Dari kejauhan, ia tampak seperti rutinitas tahunan. Tapi dari dekat, suasananya lebih garang, riuh, dan sulit dibaca.
Ada kelompok buruh pabrik, petani, buruh lepas, aktivis lingkungan, hingga Gen Z yang datang dengan kamera di tangan.
Di antara bendera-bendera yang tertiup angin bulan Mei, sebagian memakai caping petani dan caping One Piece, sebagian kaos merah pekat, sebagian lagi hanya berdiri diam. Lintas generasi, gender, dan status mencoba menangkap suara orasi yang saling bertabrakan dari mobil komando yang berbeda.
Dalam satu titik, terdengar tuntutan upah dan ancaman antek-antek asing. Di titik lain, ada suara tentang Papua, tanah, militer, petani, air keras, dan lingkungan. Bahkan di sela-selanya, musik keras dari band NOEND ikut menyusup ke udara.
Hari Buruh tidak lagi satu suara, melainkan potongan-potongan fragmen realitas yang berjalan bersamaan.
Sementara itu di Monas, perayaan berlangsung lebih rapi dan terang dengan panggung mewah seperti tahun kemarin. Negara kembali membawa janji: penyelesaian RUU Ketenagakerjaan, pembentukan Satgas PHK, dan perlindungan bagi pekerja. Dua ruang ini menghadirkan dua wajah buruh hari ini: yang satu penuh harapan yang disusun sebagai perayaan—dengan berbagai macam hadiah dan makan dari pajak rakyat—sementara di depan DPR, penuh kekhusyukan yang sulit dirapikan. Di antara keduanya, ada satu hal yang terasa jujur: menjadi buruh hari ini tidak lagi sesimpel dulu saat kondisi krisis moneter.
Di tengah kerumunan itu, hadir potret realitas dalam satu bingkai lintas generasi. Seorang bapak tua dengan wajah lelah berdiri di samping anak muda yang memegang ponsel. Keduanya sama-sama disebut buruh, tapi hidup dalam realitas zaman yang berbeda.
Bentuk kerja tidak lagi terasa utuh. Ia berpindah dari satu ruang ke ruang lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti estafet yang membentuk realitas kompetisi sumber daya buruh.
Istilah Gig Economy muncul membawa narasi imajinasi tentang ketakutan dan kebebasan kerja di saat status global carut-marut. Tentang masa depan yang fleksibel, tidak terikat, dan lebih independen. Namun pada kenyataannya, imajinasi itu tidaklah mutlak; ia sering berubah menjadi ketidakpastian yang berulang. Lowongan kerja ada, tapi tidak tetap. Penghasilan mungkin ada, tapi sulit diprediksi tanpa kompetisi. Status ada, tapi tidak pernah benar-benar aman secara kolektif.
Ketika teknologi seperti Artificial Intelligence dan green energy hadir, situasinya semakin rumit untuk sebagian kelompok buruh. Yang terjadi bukan hanya manusia digantikan kecerdasan mesin, tapi kemampuan manusia digantikan realitas lain.
Mereka yang memiliki akses membaca kondisi mikro hingga makro tidak akan bertanya harga gas subsidi atau bensin subsidi. Potret kompetensi akan berjalan meninggalkan ketimpangan sosial yang lebih lebar dan tebal untuk kelompok buruh.
Negara merespons dengan regulasi yang masih akan berjalan. Namun, perubahan realitas digital bergerak lebih cepat dari narasi diplomasi di media.
Mungkin pertanyaan regulasi bisa bergeser. Ini bukan lagi soal regulasi tuntutan klasik tentang upah atau kontrak, tapi tentang bagaimana para kelompok buruh membaca arah perubahan itu sendiri.
Apakah kita sebagai buruh sedang membangun narasi masa depan, atau hanya mengejar sesuatu yang terus bergerak menjauh tanpa memiliki kompetisi?
Pada akhirnya, Hari Buruh hari ini terasa seperti cermin yang jujur. Ia tidak hanya berbicara tentang perjuangan, tapi juga tentang kebingungan yang belum selesai dijawab.
Buruh tidak lagi berdiri sebagai satu identitas yang utuh, melainkan sebagai lintas generasi yang membawa imajinasi berbeda tentang kerja dan masa depan.
Mereka tetap berjalan. Tetap bersuara “lawan”. Tetap hadir di tengah sistem yang semakin cepat dan tidak selalu bisa dipahami. Dan mungkin, di situlah letak harapannya: bahwa masa depan kerja tidak sepenuhnya ditentukan oleh negara atau teknologi, tapi juga oleh sejauh mana kelompok buruh mau memahami perubahan, beradaptasi, dan tidak kehilangan dirinya sendiri di dalamnya.
Selamat Hari Buruh untuk puan dan tuan lintas generasi, untuk jalan realitas masa depan yang lebih baik dari hari kemarin.
*Foto utama: Suasana demo Hari Buruh di depan gedung DPR, Jumat (1/5/2026).[Dok. Ari K.J.V.]
Komentar