Antara "War" Takjil dan "War" di Timur Tengah

Analisa

by Arif Budi Setyawan Editor by Arif Budi Setyawan

Setiap Ramadhan, ada satu momen yang selalu berhasil menyatukan bangsa: satu jam—atau lebih—hingga lima belas menit menjelang magrib, umat Islam Indonesia—yang kebetulan mayoritas berubah menjadi makhluk paling fokus di muka bumi. Fokusnya satu yaitu: berburu takjil.

Fenomena ini kita kenal dengan istilah yang terdengar gagah: "war" takjil. Kata “war” terasa heroik. Seolah-olah yang diperebutkan bukan kolak pisang atau es buah, melainkan wilayah kedaulatan. Padahal yang jadi korban biasanya cuma gorengan terakhir di atas nampan aluminium.

Di sudut pasar Ramadhan, orang-orang berdiri dengan sorot mata tajam. Strategi disusun. Target dikunci. Begitu ada celah, tangan meluncur cepat seperti atlet bulu tangkis menyambar smash. “Maaf, Bu, itu pesanan saya.” “Lho, tadi saya duluan.” Diplomasi pun dimulai.

Lucunya, semua selesai dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Setelah itu, kita pulang dengan kantong plastik berembun, dan merasa menang.

Tapi di layar ponsel yang sama—yang tadi dipakai buat cek promo kurma—kita juga membaca berita tentang konflik bersenjata di Timur Tengah. Kata yang sama muncul lagi: war. Bedanya, di sana bukan kolak yang tumpah, tapi darah. Bukan gorengan yang habis, tapi rumah dan harapan.

Kontrasnya sangat terasa. Di satu sisi, kita tertawa karena kehabisan gorengan. Di sisi lain, ada anak-anak yang kehabisan masa kecil.

Saya sering berpikir, betapa kata “war” telah menjadi terlalu ringan di lidah kita. Kita pakai untuk rebutan tiket konser. Kita pakai untuk diskon tanggal kembar. Kita pakai untuk takjil. Seolah-olah kata perang atau “war” hanyalah metafora yang lucu, bukan tragedi yang nyata.

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan "war" takjil. Itu bagian dari warna Ramadhan. Ia mengajarkan kita tentang antre, tentang rezeki yang kadang datang dan kadang didahului orang lain yang lebih sigap. Ia juga mengajarkan satu hal penting: lapar bisa membuat manusia lebih dramatis dari biasanya.

Tapi mungkin, justru karena kita tahu rasanya lapar, kita bisa sedikit membayangkan betapa getirnya hidup di wilayah konflik. Bayangkan berbuka bukan dengan kolak hangat, tapi dengan kecemasan: apakah malam ini aman? Apakah listrik menyala? Apakah besok masih ada rumah untuk pulang?

Di Indonesia, azan magrib adalah tanda lega. Di beberapa tempat di Timur Tengah yang kini sedang dilanda perang, senja bisa berarti suara lain: sirene, ledakan, atau berita duka.

Kita mungkin tak bisa mengubah geopolitik dunia. Kita bukan diplomat PBB. Kita juga bukan analis militer. Kita cuma warga +62 yang kadang masih salah hitung kembalian seribu rupiah. Tapi setidaknya, kita bisa menjaga agar empati tidak ikut hilang seperti hilangnya dahaga puasa setelah minum segelas air sirup.

Ada kecenderungan di era media sosial bahwa konflik jauh terasa seperti serial. Kita mengikuti perkembangannya seperti mengikuti episode drama. Ada kubu A, ada kubu B. Ada narasi, ada kontra-narasi. Timeline berubah jadi arena debat. Jempol jadi senjata. Komentar jadi peluru.

Ironisnya, kita bisa sangat berapi-api di kolom komentar, tapi tetap santai ketika tetangga sendiri kesulitan bayar kontrakan. Kita mudah menyebut “solidaritas global”, tapi lupa menyapa orang di depan rumah.

Barangkali Ramadhan mengajak kita untuk menata ulang skala prioritas empati. "War" takjil mengingatkan kita bahwa manusia bisa ribut karena hal kecil. "War" sungguhan mengingatkan bahwa manusia juga bisa hancur karena hal besar yang tak selesai-selesai.

Di pasar, kalau gorengan habis, kita bisa beralih ke risol. Di medan konflik, pilihan tidak selalu semudah itu.

Adalah fakata kita ini bangsa yang sangat adaptif. Takjil habis? “Ya sudah, yang penting ada teh manis.” Internet lemot? “Sabar, mungkin servernya lagi puasa.” Tapi untuk urusan konflik global, kita sering ingin solusi instan, secepat azan yang ditunggu-tunggu.

Padahal, perdamaian tidak datang seperti flash sale. Ia tidak muncul dengan notifikasi: “Selamat! Anda berhasil checkout perdamaian.” Ia lahir dari proses panjang, dari dialog yang melelahkan, dari keberanian mengakui luka.

Mungkin yang bisa kita lakukan adalah sesederhana menjaga cara kita berbicara. Tidak ikut menyiram bensin ke api yang sudah menyala. Tidak gampang menyebar potongan video tanpa konteks. Tidak menambah kebisingan pada penderitaan yang sudah terlalu bising.

Dan ya, tetap menikmati "war" takjil dengan wajar. Karena hidup juga butuh tawa. Butuh cerita kecil yang bisa kita bagikan sambil menunggu azan. Tapi di sela-sela tawa itu, ada ruang untuk hening. Ruang untuk doa yang tidak viral. Ruang untuk mengingat bahwa di tempat lain, orang-orang juga menunggu azan—dengan harapan yang jauh lebih berat.

Perbedaan terbesar antara "war" takjil dan "war" di Timur Tengah mungkin bukan pada kata “war”-nya. Tapi pada dampaknya. Yang satu selesai ketika perut kenyang. Yang lain meninggalkan sejarah panjang yang tidak mudah dicerna.

Kita tak perlu merasa bersalah karena tertawa saat rebutan kolak. Tapi mungkin, sesekali, setelah suapan pertama, kita bisa berhenti sejenak. Mengingat bahwa ada dunia yang lebih luas dari pasar sore dan notifikasi diskon.

Karena kalau lapar saja bisa membuat kita lebih peka, bukankah seharusnya kemanusiaan membuat kita lebih peduli?

Dan semoga, suatu hari nanti, kata “war” kembali terasa asing di telinga anak-anak—bukan karena mereka tak tahu artinya, tapi karena mereka tak lagi mengalaminya. Sementara kita di sini, tetap bisa ribut kecil soal takjil, lalu tertawa bersama saat azan akhirnya tiba.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar