Melihat Manusia di Balik Stigma: Catatan dari "Kembali ke Titik"

Analisa

by Ridho Dwi R Editor by Arif Budi Setyawan

Baca tulisan sebelumnya: Merekam Kisah Mantan Napiter: Antara Proses Kreatif, Sensitivitas, dan Pelajaran Etis

Membuat film dokumenter bukan hanya soal merekam realitas, tetapi juga perjalanan batin bagi sang pembuatnya. Bagi saya, Kembali ke Titik (2023) menjadi salah satu titik balik penting, baik sebagai sutradara maupun sebagai pribadi. Film ini merekam perjalanan reintegrasi Hadi Masykur, mantan sekretaris Jamaah Islamiyah, yang berjuang membangun kembali kepercayaan keluarga dan masyarakat setelah keluar dari penjara. Diceritakan juga bagaimana Hadi akhirnya tergerak untuk pulang dan kembali membersamai keluarganya. Diceritakan pula perjuangan ibunya, Ngatiyah, serta istrinya, Siti Djawariyah (Titik), dalam bertahan hidup tanpa adanya sosok kepala keluarga sebagai pencari nafkah utama.

Dalam proses bonding dengan istri Hadi, saya pun terbantu oleh Ani Ema Susanti, yang dengan perspektifnya sebagai perempuan membuka ruang empati lebih luas. Peneliti Lies Marcoes menegaskan bahwa kasus yang dialami Hadi membuktikan bahwa fokus radikalisme sering kali tertuju pada napiter itu sendiri. Padahal, dalam kasus Hadi, sosok yang sangat berpengaruh dalam proses reintegrasi justru adalah ibu dan istrinya. Perspektif ini memberi kedalaman lebih dalam membaca dampak radikalisme, bukan hanya pada pelaku tetapi juga pada keluarga yang ditinggalkan.

Dalam praktiknya, Kembali ke Titik menggabungkan gaya ekspositori—memberi informasi dan konteks narasi—dengan pendekatan observasional, yang membiarkan kamera menangkap momen-momen intim tanpa intervensi berlebih. Bill Nichols dalam bukunya Introduction to Documentary (2001) menulis bahwa “documentary speaks about situations and events involving real people who present themselves within a framework.” Kutipan ini terasa hidup dalam proses produksi, karena realitas yang muncul justru lebih kuat saat saya memberi ruang pada subyek untuk “mengatakan” kisahnya sendiri.

Sebagai sutradara, saya belajar bahwa setiap proyek dokumenter menuntut keterbukaan hati. Kembali ke Titik mengajarkan saya untuk melihat manusia di balik stigma. Hadi bukan sekadar “mantan narapidana terorisme”, tetapi seorang ayah, seorang anak, seorang suami yang ingin kembali diterima. Pengalaman ini membuat saya ikut berefleksi pada kehidupan pribadi. Proses menyutradarai film ini memberi saya ruang untuk lebih memahami relasi, keluarga, dan pentingnya dukungan sosial dalam menghadapi masa lalu.

Dirilis pada 8 April 2023, film ini telah diputar dalam berbagai road show, seminar, dan lokakarya yang digagas Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP). Apresiasi juga datang dari UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime), yang menggunakan film ini dalam Capacity Building on Strategic Communication for Effective Prevention of Violent Extremism di Kuala Lumpur (2 kali), Davao (2 kali), dan Bali (1 kali). Saya sendiri mendapat kesempatan hadir sebagai pembicara, berbagi pengalaman bagaimana dokumenter dapat menjadi medium komunikasi strategis dalam isu sensitif.


Pada 20 Mei 2025, Kembali ke Titik dibedah di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta. Acara ini terselenggara atas kerja sama Pemprov DKI, Perpusnas RI, Densus 88, Kementerian Agama, serta Kementerian Pendidikan. Ratusan guru, ASN, dan pemuka agama hadir, menghasilkan refleksi yang berharga:

  • Film membuka peluang dialog tentang peran keluarga dalam deradikalisasi, bukan hanya pendekatan hukum (mtsn13jkt.sch.id, https://dki.kemenag.go.id).

  • Direktur Pencegahan Densus 88, John Weynart Hutagalung, menyatakan bahwa film ini menjadi bahan refleksi agar kita tidak mudah terpengaruh ideologi menyesatkan (harakatuna.com).

  • Kompol Agus Isnaini menegaskan bahwa edukasi preventif via keluarga dan sekolah lebih berdampak daripada pendekatan represif (Jurnal Patroli News).

  • Para guru dari MAN 13 dan MAN 7 Jakarta menyampaikan bahwa film ini memperkuat komitmen mereka dalam menjaga moderasi beragama dan nilai kebangsaan (https://dki.kemenag.go.id).

  • Dalam konteks Hari Kebangkitan Nasional, film ini menjadi simbol kolaborasi berbagai institusi dalam merawat persatuan dan menolak radikalisme (https://dki.kemenag.go.id, man20jkt.sch.id).

Pengalaman ini menegaskan bahwa dokumenter tidak berhenti di ruang bioskop atau festival. Ia bisa menjadi instrumen pendidikan, advokasi, dan dialog publik. Perjalanan Kembali ke Titik mempertegas komitmen saya sebagai sutradara: mengangkat suara-suara yang sering diselimuti prasangka dan stigma. Saya percaya film dokumenter mampu menghadirkan narasi alternatif yang lebih manusiawi, bahkan dalam isu seberat terorisme. Dengan begitu, kita tidak hanya melihat masa lalu seseorang, tetapi juga potensi mereka untuk berubah, bertumbuh, dan kembali ke titik awal kehidupan yang lebih bermakna.

Ilustrasi: Grafis by Ridho Dwi R.

Komentar

Tulis Komentar