“Tidak ada yang benar-benar siap ketika hidupnya menjadi tontonan publik, apalagi jika masa lalu itu berkaitan dengan penjara, stigma, kehilangan, atau pilihan yang pernah menjerumuskan diri pada ekstremisme. Karena itu, merekam kisah mantan narapidana terorisme bukan sekadar menekan tombol kamera. Ia adalah proses perlahan, penuh jeda, dan sering kali diliputi keheningan panjang. Di titik itulah saya mulai memahami: film dokumenter bukan hanya tentang merekam peristiwa, tetapi tentang membangun kepercayaan, menjaga luka, dan memastikan bahwa yang ditampilkan bukan sekadar cerita—melainkan martabat. ”
***
Ada sebuah ungkapan lama yang selalu terngiang di kepala saya: "Apa yang lebih sulit daripada membuat film dokumenter? Membuat seseorang percaya untuk membuka hidupnya di depan kamera.". Lensa kamera, bagi sebagian orang, bukan sekadar alat perekam gambar, melainkan mata asing yang siap menelanjangi masa lalu.
Inilah kisah tentang perjalanan saya, Ridho Dwi R., saat menyelami belantara ingatan dua manusia yang pernah tersesat di jalan sunyi terorisme. Sebuah perjalanan untuk antologi Narasi Mematikan, sebuah ekosistem visual yang lahir dari rahim buku karya Dr. Noor Huda Ismail tentang pendanaan teror. Tugas saya bukan sekadar merekam gambar, melainkan menjadi jembatan bagi suara-suara yang pernah terbungkam –mereka yang kita sebut sebagai credible voices.
Jalan Terjal Menuju Purworejo
Kisah pertama membawa saya pada sosok perempuan bernama Puspa --bukan nama sebenarnya. Dalam skenario yang kami susun, filmnya akan bertajuk “Abstraction Skills”. Puspa bukanlah teroris yang memanggul senjata di hutan atau di perkotaan. Ia adalah potret buram dari ribuan pekerja migran kita di Hongkong yang terperangkap dalam labirin kesepian. Di sana, di tengah hiruk-pikuk kota megapolitan, ia menemukan "rumah" semu di media sosial. Sebuah komunitas yang mulanya menawarkan hiburan, namun perlahan menyusupkan racun ideologi Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
Saya ingat betul, sepuluh kali roda kendaraan saya menggilas aspal panjang menuju rumah Puspa. Bukan untuk sekadar menyalakan tombol "rekam", tetapi untuk hadir sebagai manusia. Saya menanggalkan atribut sutradara saya. Saya ikut duduk di pinggir kali, membiarkan angin bukit menerpa wajah, menemani Puspa mengurus kebun, hingga membaur dalam obrolan renyah bersama tetangga dan keluarganya.
Saya mencoba meyakinkannya bahwa kedatangan saya bukan untuk mengorek borok lama agar berdarah kembali, melainkan untuk mengubah lukanya menjadi pelita bagi orang lain. Puspa adalah satu-satunya credible voice perempuan dalam seri ini, dan mendekatinya membutuhkan lebih dari sekadar kesabaran; ia membutuhkan kepekaan rasa.
Namun, dokumenter adalah seni tentang ketidakpastian. Di penghujung proses, ketika kerangka cerita hampir utuh, Puspa menarik diri. Ada tembok tak kasat mata yang tiba-tiba meninggi. Ia keberatan, dan film itu pun batal tayang. Kecewa? Tentu. Namun, di sanalah saya belajar tentang informed consent yang sejati. Persetujuan bukanlah sekadar tanda tangan di atas kertas bermaterai, melainkan sebuah negosiasi batin yang terus bergerak dinamis. Saya harus menghormati diamnya Puspa sebagai bagian dari hak asasinya untuk memulihkan diri.
Sang Penghubung Titik-Titik Kelam
Berbeda dengan kesunyian Puspa, pertemuan saya dengan Arif Budi Setyawan—yang akrab disapa Cak Arif –adalah sebuah dialog yang mengalir deras. Film tentangnya kami beri judul “The Terror’s Dots Connector”. Judul yang berat, seberat masa lalunya.
Cak Arif adalah seorang pria yang pernah berdiri di persimpangan sejarah kelam Poso, terlibat dalam kelompok Mujahidin Indonesia Timur di bawah bayang-bayang Santoso. Dahulu, ia adalah sang "penghubung"—sosok yang merajut jejaring antara mereka yang haus aksi, mereka yang mencari dana di internet, dan mereka yang membutuhkan tim pelaksana. Namun, penjara telah menjadi ruang kontemplasi yang mengubah arah hidupnya. Ia mengalami titik balik, sebuah perubahan mendalam yang membawanya pulang.
Kini, di hadapan kamera saya, Cak Arif bukan lagi sosok yang bersembunyi. Ia telah bertransformasi menjadi seorang ayah, suami, penulis, dan pendamping bagi kawan-kawan senasib yang ingin mentas dari lumpur radikalisme. Proses bersamanya jauh lebih cair karena ia telah lama bergelut di ruangobrol.id dan terbiasa dengan sorot kamera.
Tantangan bersamanya bukanlah membangun kepercayaan dari nol, melainkan "menjinakkan" arus informasi. Cak Arif memiliki arsip memori yang luar biasa –rekaman video dari forum jihad masa lalu yang ia serahkan kepada kami. Bagi seorang pembuat film, ini adalah harta karun. Namun, tantangannya adalah memilah ribuan serpihan gambar itu agar tetap fokus pada narasi pendanaan terorisme. Arsip-arsip itu bukan lagi sekadar bukti kejahatan, melainkan monumen peringatan untuk edukasi masa depan.
Antara Mengamati dan Merasakan
Dalam keheningan ruang editing, saya merenungkan teori Bill Nichols tentang mode dokumenter. Saya merasakan betapa batas antara mode observational (pengamatan) dan participatory (partisipasi) sering kali lebur dalam praktik di lapangan.
Saat bersama Puspa dan Cak Arif, saya tidak bisa hanya menjadi lalat di dinding yang menonton tanpa terlihat. Saya harus masuk, menyelami ruang hidup mereka, namun tetap menjaga jarak aman. Ini adalah keseimbangan yang rumit. Jika saya terlalu berjarak, film akan terasa dingin dan kehilangan nyawa. Namun, jika terlalu dekat, ada risiko etis bahwa saya sedang mengeksploitasi trauma mereka demi sebuah tontonan.
Pada akhirnya, Narasi Mematikan bukan sekadar proyek visual. Ia adalah sebuah laboratorium kemanusiaan. Dari kegagalan menayangkan kisah Puspa, saya belajar tentang penghormatan terhadap privasi dan batas kemampuan seseorang menanggung beban ingatan. Dari kelancaran kisah Cak Arif, saya belajar tentang keberanian seseorang untuk mengakui kesalahan dan menebusnya dengan karya nyata.
Tidak ada satu pendekatan yang universal untuk setiap manusia. Setiap credible voice memiliki frekuensi jiwanya sendiri. Dan tugas saya, sebagai pemegang kamera, adalah menyelaraskan frekuensi itu—belajar sabar, merawat percaya, dan memastikan bahwa setiap bingkai gambar yang tercipta dapat menjadi jembatan pemahaman.
Agar kita tahu, bahwa di balik label "mantan narapidana terorisme", ada manusia yang sedang berjuang menata kembali kepingan hidupnya yang pernah pecah.
Foto utama: Ridho Dwi R.[Koleksi pribadi]
Komentar