Kegigihan yang Salah dan Diam yang Berbahaya

Analisa

by Ilham Alfarizi Editor by Redaksi

Ada satu pemandangan yang berulang di ruang digital kita. Akun-akun yang menyebarkan narasi ekstrem—yang kita kira sudah lenyap karena dihapus atau diblokir—tiba-tiba muncul kembali. Namanya berbeda, fotonya berganti, tetapi isinya nyaris sama. Kalimatnya serupa, kemarahannya tetap, musuhnya juga itu-itu saja. Seolah-olah akun itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti wajah, lalu kembali bicara.

Pada titik tertentu, kita berhenti heran. Mungkin karena lelah. Mungkin karena diam-diam kita tahu jawabannya: ini bukan soal akun, melainkan soal orang-orang di baliknya. Soal kegigihan. Soal keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah misi.

Ada sesuatu yang ironis di situ. Kegigihan semacam itu, jika diarahkan pada hal yang membangun, pantas mendapat apresiasi. Tidak semua orang sanggup memulai dari nol berulang kali. Tidak semua orang mau terus bicara ketika berkali-kali disingkirkan. Apalagi tanpa imbalan materi yang jelas. Tapi di tangan yang keliru, kegigihan berubah menjadi alat penyebaran kebencian.

Yang lebih ironis lagi, kegigihan itu sering kali berhadapan dengan kelelahan. Bukan kelelahan fisik, melainkan kelelahan moral dari mereka yang menolak ekstremisme. Banyak orang yang sebenarnya paham, kritis, dan punya argumen kuat justru memilih diam. Mereka lelah berdebat. Lelah menjelaskan hal-hal kompleks di ruang yang sempit. Lelah menghadapi serangan balik yang tidak rasional. Akhirnya, diam terasa seperti jalan paling aman.

Masalahnya, ruang digital tidak pernah benar-benar kosong. Ketika suara yang lebih waras memilih menepi, ruang itu segera diisi oleh mereka yang paling rajin berbicara. Bukan yang paling benar, tapi yang paling konsisten. Algoritma tidak menilai niat baik atau kedalaman argumen. Ia hanya membaca intensitas. Apa yang sering muncul akan dianggap relevan. Apa yang terus diulang akan terasa benar.

Di sinilah narasi ekstrem menemukan momentumnya. Ia sederhana. Hitam-putih. Emosional. Menawarkan kepastian di tengah dunia yang rumit. Di saat banyak orang kebingungan mencari makna, narasi semacam itu hadir dengan jawaban instan. Tidak perlu berpikir panjang. Tidak perlu ragu. Semua sudah ditentukan: siapa kawan, siapa lawan.

Sementara itu, narasi yang lebih manusiawi—yang mengakui kompleksitas, yang membuka ruang dialog, yang tidak memaksa kesimpulan—justru terasa berat. Ia menuntut kesabaran, baik dari yang menyampaikan maupun yang mendengar. Di era scroll cepat dan perhatian yang rapuh, kesabaran adalah mata uang yang langka.

Ada satu perbedaan mendasar yang sering luput kita sadari. Bagi para penyebar narasi ekstrem, propaganda adalah ibadah, perlawanan, atau panggilan hidup. Setiap unggahan dianggap bernilai moral. Setiap akun baru adalah ladang perjuangan. Sebaliknya, bagi banyak orang yang menolak kekerasan, bersuara sering dianggap opsional. Sesuatu yang bisa dilakukan kalau sempat, kalau tidak capek, kalau sedang ingin.

Padahal, ketidaksetujuan yang tidak diucapkan hampir tidak pernah tercatat dalam percakapan digital. Diam tidak pernah terbaca sebagai penolakan. Ia justru terbaca sebagai ketiadaan.

Mungkin inilah saatnya kita jujur pada diri sendiri. Pertarungan ini bukan hanya soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling bertahan. Siapa yang mau hadir secara konsisten, bahkan ketika tidak ada tepuk tangan. Bahkan ketika isu tidak sedang ramai. Bahkan ketika terasa melelahkan.

Melawan ekstremisme tidak selalu harus dengan perdebatan keras atau kata-kata kasar. Kadang cukup dengan kehadiran. Dengan menunjukkan bahwa ada suara lain. Ada cara berpikir lain. Ada jalan yang tidak ditempuh lewat kebencian dan kekerasan.

Sebab pada akhirnya, kekalahan terbesar bukan ketika kita kehabisan argumen, melainkan ketika kita memilih menyimpannya rapat-rapat dalam diam.

Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar