Dari Menara Kembar WTC ke Layar Gawai: Metamorfosis “Internetistan”

Analisa

by Arif Budi Setyawan Editor by Arif Budi Setyawan

Dua puluh lima tahun lalu, Selasa pagi di New York mengubah wajah dunia dalam sekejap.

Runtuhnya menara kembar World Trade Center pada 11 September 2001 tidak hanya meninggalkan puing dan duka. Peristiwa itu juga melahirkan sebuah doktrin keamanan global yang kemudian dikenal sebagai War on Terror atau Perang Melawan Teror.

Sejak saat itu, perang melawan teror identik dengan pasukan bersenjata, operasi intelijen, penjagaan perbatasan, pemeriksaan dokumen, penggerebekan, kamp-kamp pelatihan, serta perburuan terhadap sel-sel rahasia yang bekerja dalam struktur organisasi yang relatif jelas.

Dua puluh lima tahun kemudian, dunia tentu telah berubah. Pertanyaannya, apakah ancaman itu benar-benar hilang, atau jangan-jangan ia hanya berganti wajah dan berpindah tempat?

Medan pertarungan hari ini tidak selalu berada di pegunungan Tora Bora, wilayah konflik, atau ruang bawah tanah yang tersembunyi. Sebagian pertempuran justru berlangsung jauh lebih dekat dengan kehidupan kita: di kamar tidur anak-anak muda, di ruang keluarga, di grup percakapan, dan di balik cahaya layar gawai yang setiap hari berada di telapak tangan.

Metamorfosis “Internetistan”

Pada awal dekade 2000-an, penyebaran propaganda ekstremisme masih membutuhkan banyak perantara. Pamflet harus dicetak, VCD harus digandakan, pertemuan harus dilakukan secara tatap muka, dan jaringan komunikasi membutuhkan akses yang relatif terbatas.

Ketika internet mulai berkembang, ruang itu berubah.

Forum-forum diskusi tertutup menjadi semacam pasar gagasan baru. Batas geografis semakin tidak berarti. Seseorang di satu negara dapat berinteraksi dengan seseorang di belahan dunia lain tanpa pernah bertemu secara fisik. Dari sanalah saya pernah menggunakan istilah “Internetistan”, yaitu sebuah ruang virtual tempat narasi ideologis beredar tanpa mengenal pagar teritorial.

Namun, “Internetistan” hari ini bukan lagi Internetistan dekade 2000-an. Ia telah mengalami metamorfosis.

Dulu, jaringan ekstremisme dikenal sebagai organisasi yang memiliki pusat komando, pemimpin, anggota, dan garis koordinasi yang relatif jelas. Narasi yang beredar juga masih terkait dengan organisasi.

Kini, ekosistem itu semakin terfragmentasi. Narasi bisa beredar tanpa organisasi yang jelas. Simbol dapat hidup lebih lama daripada organisasinya. Potongan video dapat bergerak lebih cepat daripada struktur komando.

Hari ini, radikalisasi bekerja melalui fragmentasi narasi.

Sebuah video mungkin hanya berbicara tentang ketidakadilan. Video berikutnya mengangkat penderitaan sebuah kelompok. Konten lain menyodorkan teori konspirasi. Meme menghadirkan ejekan terhadap kelompok yang berbeda. Potongan ceramah memberikan pembenaran moral. Semua tampak seperti fragmen yang berdiri sendiri.

Namun, ketika seseorang mengonsumsi semuanya berulang kali, fragmen-fragmen itu perlahan dapat dirajut menjadi sebuah cara pandang tentang dunia.

Di situlah persoalannya.

Propaganda ekstremisme tidak selalu datang dalam bentuk doktrin keagamaan yang berat atau ajakan kekerasan secara terang-terangan. Ia dapat menyusup melalui isu ketidakadilan sosial, kekecewaan politik, kemarahan personal, krisis identitas, bahkan humor dan meme yang pada pandangan pertama tampak tidak berbahaya.

Bukan satu konten yang selalu menjadi masalah. Persoalannya adalah ekosistem konten yang terus-menerus menguatkan emosi dan keyakinan tertentu.

Ketika Algoritma Menjadi Penguat, Bukan Pelaku Tunggal

Di sinilah peran algoritma menjadi penting.

Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Semakin lama seseorang berada di dalam platform, semakin banyak konten yang dapat dikonsumsi. Ketika seseorang berulang kali berinteraksi dengan tema tertentu, sistem rekomendasi dapat memperbesar kemungkinan munculnya konten serupa.

Seorang anak muda yang sedang kecewa, marah, merasa diperlakukan tidak adil, atau merasa tidak mempunyai tempat dalam lingkungan sosialnya, misalnya, bisa saja mulai mencari konten yang sesuai dengan emosinya.

Konten pertama terasa relevan. Konten kedua terasa semakin meyakinkan. Konten ketiga memberi pembenaran. Lama-kelamaan, sebuah pandangan yang semula hanya merupakan rasa kecewa bisa terasa seperti satu-satunya kebenaran.

Fenomena ini kerap disebut echo chamber—ruang gema ketika pandangan yang serupa terus dipantulkan, sementara pandangan alternatif semakin jarang terdengar.

Namun, kita perlu berhati-hati untuk tidak menyederhanakan persoalan dengan mengatakan bahwa algoritma sendirilah yang meradikalisasi seseorang.

Algoritma bukan satu-satunya pelaku.

Ia lebih tepat dipahami sebagai penguat yang dapat mempercepat proses ketika bertemu dengan kerentanan individu, lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan aktor propaganda yang memang sengaja memanfaatkan emosi manusia.

Di era ini, seseorang bahkan tidak harus mempunyai mentor langsung untuk mengalami proses radikalisasi. Ia dapat menyusun sendiri potongan-potongan narasi dari berbagai sumber, kemudian menemukan validasi berulang melalui komunitas digital dan rekomendasi algoritmik.

Karena itu, ancaman baru bukan semata-mata hilangnya struktur organisasi. Ancaman baru adalah ketika struktur tidak lagi terlalu diperlukan untuk membentuk keyakinan.

Manusia di Balik Layar

Di titik inilah pendekatan keamanan perlu memperluas cara pandangnya.

Selama dua puluh lima tahun terakhir, pendekatan hard approach sangat penting untuk menghadapi ancaman kekerasan. Penegakan hukum, intelijen, pengamanan perbatasan, dan operasi pencegahan tetap dibutuhkan untuk melindungi masyarakat.

Tetapi semua itu memiliki batas. Sebab di balik setiap data ancaman terdapat manusia.

Mengapa seorang remaja yang hidup dalam situasi yang relatif damai dapat begitu tertarik pada narasi ekstrem? Mengapa seseorang yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan pada kekerasan tiba-tiba merasa menemukan identitas baru di komunitas yang penuh kebencian?

Tidak semua jawabannya berada pada ideologi.

Sebagian mungkin berawal dari sesuatu yang jauh lebih sederhana dan sangat manusiawi: kebutuhan untuk diterima, didengar, diakui, dan merasa dirinya berarti.

Di tengah dunia yang semakin terhubung tetapi pada saat yang sama dapat membuat manusia merasa semakin sendirian, krisis identitas, isolasi sosial, kekecewaan, dan ketidakpastian masa depan dapat menjadi kerentanan.

Ketika keluarga tidak menjadi tempat bercerita, ketika sekolah tidak mampu memberi ruang aman untuk bertanya, atau ketika komunitas nyata tidak menyediakan rasa memiliki, ruang digital hadir dengan jawaban yang serba cepat.

Kelompok ekstremis memahami kebutuhan itu dengan baik. Mereka tidak selalu memulai dengan ajakan perang. Mereka bisa memulainya dengan persaudaraan.

Dengan kalimat sederhana: kami memahami kamu. Dengan pesan bahwa: kamu tidak sendirian. Dengan keyakinan bahwa: kamu memiliki tujuan yang lebih besar daripada dirimu sendiri.

Setelah rasa memiliki terbentuk, pintu menuju narasi yang lebih keras menjadi lebih mudah dibuka.

Karena itu, melihat orang yang terpapar ekstremisme hanya sebagai angka ancaman atau objek hukum membuat kita kehilangan sesuatu yang sangat penting. Bahwa kesempatan untuk memahami mengapa pintu itu terbuka sejak awal.

Penindakan dapat menghentikan tindakan fisik. Tetapi pemulihan membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada penindakan: hubungan sosial, rasa aman, identitas yang sehat, dan kesempatan untuk menemukan kembali makna hidup.[Bersambung]

*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar